Pamitan

1K 85 0

Dear, sebelumnya author mau minta maaf karena lama banget nggak update. Karena itu, kali ini author update 2 bab sekaligus. Mohon dukungannya untuk Legenda Negeri Bharata, ya ^^

***

Kehadiran Drupadi mau tidak mau menuntut sebuah tempat tinggal yang nyaman. Para Pandawa segera memutuskan untuk mengakhiri pelarian mereka dan kembali ke Hastinapura.

Setelah upacara perkawinan selesai, rombongan Pandawa dan Sang Pengantin wanita segera berangkat ke Hastinapura. Perjalanan yang cukup jauh membuat rombongan beberapa kali berhenti untuk beristirahat.

Melihat keakraban Kunti dan kelima anaknya, hatiku terasa tercubit. Dia begitu menyayangi anak-anaknya. Sedang anak-anaknya masih suka bertingkah manja. Mula-mula, aku memaksakan diri, namun segera setelah kami tiba di perbatasan, aku tak tahan lagi.

Putri, bolehkah saya meminta sesuatu dari anda? tanyaku kepada Drupadi.

"Ada apa, Supriya? Apa kau belum makan?"

Bukan, bukan itu, jawabku malu. Aku memandang Nakula dan Yudhistira yang masih melayani ibu mereka. Bima berdiri di sebelah Drupadi, menawarkan bekalnya kepada Drupadi.

Kalau boleh, saya ingin berpamitan kepada anda.

Drupadi mengernyitkan alis, "Mengapa?"

Saya sudah terlalu lama tinggal di Panchala, kataku, mengutarakan alasan yang sudah cukup lama kusiapkan, Kampung halaman saya ada di dekat sini.

"Supriya," Drupadi akhirnya berdiri lalu mendekatiku, "Aku baru saja menikah. Aku tak tahu apa aku akan merasa kesepian atau tidak di Hastinapura."

Anda punya 5 suami, bagaimana mungkin bisa kesepian?

Wajah Drupadi memerah seketika. Aku merasa ucapanku saat itu bisa berarti mengejeknya.

Saya percaya suami-suami anda akan bisa menjaga anda dengan baik, aku menambahkan, Saya merindukan kampung halaman saya. Dan saya pikir, sekarang saya sudah cukup dewasa untuk mengurus diri sendiri.

"Apa kau... juga ingin menikah?"

Ucapan Drupadi terdengar oleh Bima, aku menjadi malu ketika Bima tertawa keras-keras lalu berkata, "Di Hastinapura banyak lelaki tampan. Nanti akan kupilihkan satu untukmu."

Kini wajahku yang memerah, Saya hanya seorang pelayan. Kodrat saya adalah menikah dengan rakyat biasa, atau menjadi selir bangsawan. Saya tidak ingin menjadi selir siapa pun, tulisku, hanya kepada Drupadi. Drupadi tampak tertegun saat membacanya. Ragu-ragu, dia memandangku dengan tatapan memohon. Dalam pikirannya, dia membenarkan ucapanku. Itu memang ketentuan masyarakat saat itu.

Melihat kesedihan di wajah Drupadi, Bima mendekatiku. Dia sengaja memerhatikan wajahku dari dekat untuk membujuk.

"Namamu Supriya?"

Aku mengangguk. Nakula dan Sadewa kini datang, ikut mengerubungiku.

"Kata Drupadi, kau pelayan yang paling akrab dengannya," Bima meremas kepalan tangannya, "Seharusnya kau tinggal bersama Drupadi kami, ya... kan?"

Ucapan itu bernada mengancam, tanpa sadar aku menelan ludah. Ngeri juga diintimidasi oleh 3 Pandawa ini. Meski Nakula dan Sadewa kemudian berbisik-bisik, aku masih bisa mendengar dari pikiran mereka. Sadewa menyenggol Nakula. Menyuruh saudaranya itu memanggil Arjuna.

"Tinggallah bersama kami. Bisa... kan?" Arjuna berkata dengan enggan. Dia bahkan tak sudi memandangku. Aku menghela napas, sedikit kesal dengan sikapnya.

Saya hanya seorang pelayan. Putri bisa mendapatkan lebih banyak pelayan di Hastinapura, aku menuliskan kata ini cepat-cepat. Drupadi masih tertegun oleh ucapanku sebelumnya. Namun Drupadi tidak mengatakan apa-apa untuk melarang atau mengizinkan.

Karena itu, ketika semua orang mulai disibukkan oleh kegiatan mereka masing-masing, aku mencari tempat yang agak tersembunyi. Lalu dengan mengerahkan semua kekuatanku, aku menyatu bersama angin. Pergi ke satu tujuan yang sudah kuinginkan berhari-hari sebelumnya.

Kerajaan Angga.

#StopPlagiarism

#AuthorPutfel

Legenda Negeri Bharata [ COMPLETED ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang