Bab 1

1K 15 1

Bagi Marisa atau yang biasa dipanggil Risa cinta hanyalah sesuatu yang sangat menyakitkan. Setelah Risa mengalami pasang surut dalam kisah percintaannya, kini Risa sudah tidak mempercayai apa itu cinta. Baginya, hampir semua laki-laki yang mendekatinya pada akhirnya hanya meninggalkan luka untukknya.

0Bahkan hubungannya dengan Okta sudah berjalan selama 4 tahun tanpa ada ikatan apapun. Okta menyayanginya dan mencitainya tapi bagi Risa, cinta Okta adalah palsu dan bualan belaka. Risa tidak bisa mempercayai Okta karena ia takut disakiti dan gagal untuk kesekian kalinya.

“Yaelah, gue tau lo baik sama gue karena penasaran doang.” Gerutu Risa sambil berbicara di depan ponselnya setelah ia selesai menerima telepon dari Okta. Okta sudah berkali-kali menyatakan cintanya kepada Risa tapi selalu ditolak. Risa selalu menolak Okta karena ia sadar kalau Okta hanya penasaran kepadanya.

Okta berprofesi sebagai pilot di maskapai penerbangan yang cukup besar dan terkenal, dia juga seorang playboy yang sering gonta-ganti pasangan atau menjalin hubungan dengan beberapa wanita sekaligus. Wanita mana yang tidak mau menjadi kekasih Okta, berwajah tampan dan mempunyai harta yang mungkin akan cukup menghidupi selusin wanita. Tapi hal itu tidak berlaku bagi Risa yang tidak pernah menilai seseorang dari tampang maupun harta. Apalagi kisah masa lalunya yang dua kali diselingkuhi oleh mantan pacarnya membuat Risa semakin antipati dengan laki-laki seperti Okta yang mendekatinya karena ada maksud terselubung.

Hari ini adalah hari pertama Risa magang di kantor konsultan pajak dan Okta meneleponnya memaksa Risa agar mau diantar ke kantornya. Risa merupakan salah satu mahasiswi tingkat akhir yang mengisi kekosongan jam kuliahnya dengan magang. Risa merapikan pakaian kerjanya dan menyisir kembali rambutnya.

“Risaaa…. Okta sudah sampai, cepat kamu turun!” teriak Mama Resti memanggil Risa yang masih asik memandangi penampilannya di depan cermin.

“Iya Ma, ini Risa mau turun.” Risa pun mengecek sekali lagi penampilannya dan mengambil tasnya lalu turun menemui Mama nya di ruang makan.

“Ini kamu bawa sarapan untuk kamu dan Okta,kamu makan di mobil Okta aja ya.” Mama Resti memberikan dua kotak makan kepada Risa.

“Mama ngapain sih buatin sarapan Okta juga?” protes Risa kepada Mama Resti

“udah sana kamu berangkat nanti terlambat, Okta juga sudah menunggu kamu dari tadi di depan.” Jawab Mama Resti yang gemas melihat ekspresi anaknya yang cemberut. Risa pun berpamitan lalu berjalan menuju ruang depan dimana Okta sudah menunggunya dengan kacamata hitam. Okta pun pamitan dengan Mama Resti dan membukakan pintu mobil untuk Risa.

Sebelum menyalakan mobilnya, Okta mengambil sebuah kotak dari jok mobil belakang dan memberikannya kepada Risa. Risa tampak bingung saat melihat kotak tersebut.

“Untuk kamu Ris.” Jelas Okta sambil menyalakan mesin mobil dan segera pergi menuju kantor Risa.Lalu Risa membuka kotak tersebut lalu terpancar ekspresi kaget dan bingung dari wajah Risa. Isi kotak tersebut adalah handphone keluaran terbaru dan termahal. “Aku gak bisa terima ini.” Sambil menutup kotak pemberian Okta tadi.
“Aku mau kamu pakai handphone itu untuk keperluan kamu kerja dan aku juga lihat handphone kamu yang sekarang sering error kan. Pokoknya aku mau kamu pakai handphone itu, anggap itu sebagai kado ulang tahun kamu kemarin.” Jelas Okta yang sedang fokus menyetir mobilnya.

“Tapi ini terlalu mahal, lagi pula ulang tahun aku kemarin kamu juga udah kasih aku kado. Okta, please aku ini bukan salah satu dari wanita peliharaan kamu yang selalu kamu beliin ini itu, aku juga bukan…..” belom selesai Risa berbicara Okta memberhentikan mobilnya secara mendadak .

“Aku gak pernah menyamakan kamu dengan mereka, aku ngelakuin ini ke kamu karena aku peduli dan sayang sama kamu. Aku cuma mau bahagiain kamu aja. Walaupun kamu selalu nolak untuk hubungan serius sama aku, aku selalu anggap kamu sebagai pacar atau pasangan aku. Jadi aku mohon, terima handphone itu sebagai hadiah ulang tahun dari aku buat kamu.” Risa memandangi Okta yang sedari tadi memberikan penjelasan kepadanya, Risa melihat ada sebuah ketulusan dan kejujuran saat melihat mata Okta. Bukan seperti Okta yang dulu memang terlihat semaunya, yang tidak pernah serius akan apapun. Tapi kali ini Risa melihat ada keseriusan dimata Okta. Akhirnya Risa menerima pemberian Okta dengan sedikit terpaksa.

aloneWhere stories live. Discover now