Bab 17 I Terlambat Mai, sudah naksir

28K 1.8K 27

Kak Sidiq mulai jarang terlihat di kampus, pasti dia sibuk dengan tugas akhirnya. BEM sekarang dipegang da Raka sebagai Pejabat Sementara. Jadi kak Sidiq jarang muncul pada saat rapat. Padahal aku penasaran gimana kelanjutan cerita kak Sidiq dan ni Maya. Apa aku korek dari ni Maya aja ya?

Setelah selesai kuliah, aku langsung ke sekre. Seperti biasa, sekre ramai saat sore hari. Sore ini aku ada janji dengan Al.

"Assalamualaykum."

"Waalaykumussalam."

Aku langsung masuk ke ruang rapat dan menemukan Al disana, bersama beberapa panitia lainnya.

Aku mengambil tempat disebelah Al. Kemudian mengeluarkan sebuah proposal.

"Baca dan resapi." Ucapku penuh makna.

"Apa ni?" tanyanya heran.

"Proposal acara."

Al terpilih menjadi ketua penerimaan mahasiswa baru, aku direkrut sebagai anggota seksi acara.

"Udah selesai aja." Dia membolak-balik proposalku.

"Aku begadang tahu bikinnya."

"Iya cantik, entar aku baca dan resapi." Ucap Al.

Aku berusaha menyembunyikan semburat di pipiku. Selalu saja seperti ini, entah kenapa, Al masih mempunyai efek pada diriku.

"Mai.."

"Hmm..." aku mengeluarkan buku agenda untuk rapat kali ini.

"Pak Sandy mau nggak ya kalau ngisi seminar anak sipil?" Tanya Al, kepalanya menoleh ke arahku.

"Ya mana aku tahu, tanya aja sama orangnya." Sahutku, malas berhubungan dengan da Andy.

"Lah, kan kata dia kalo ada apa-apa urusan sama kamu. Sekarang kamu manajernya ya Mai?" Canda Al.

"Aku kasihin aja nomor handphone-nya sama kamu. Nanti kamu hubungin aja dia." Aku memberi solusi.

"Nggak enak Mai, aku kan baru ketemu sekali, masa langsung nelpon dia? Lagian kan dia bilang urusan sama kamu."

"Emang kapan seminarnya?" Aku mengalah.

"Tahun ajaran baru sih Mai." Jawab Al.

"Masih lama kali Al." seruku..

"Iya sih, tapi kan dari sekarang udah nyari pembicara." Jelas Al.

"Iya deh, nanti aku tanyain."

"Nah, gitu donk, makasih ya cantik."

Bagus, mukaku pasti sudah bertambah merah.

=====

Setelah shalat isya, aku teringat janjiku pada Al. Kalau bukan demi kepentingan kampus, malas berhubungan dengan da Andy. Aku duduk di meja belajarku dan mengambil handphone.

Bismillah.

Humairoh : Assalamualaykum

Nah sudah, mudah-mudahan dia lagi sibuk, jadi tidak sempat membalas pesanku.

Aku meletakkan handphone-ku dan mulai mengerjakan tugas kuliah. Satu jam kemudian aku sudah selesai dan siap-siap mau tidur.

Tring!

Pesan masuk, aku mengambil handphone dan duduk di tempat tidurku.

Andy Keren : Waalaykumussalam. Hai Mai, belum tidur?

Aku masih belum mengganti namanya, entah kenapa, sudah terbiasa, jadi kubiarkan saja

Andy Keren : tumben nih, kirain udah lupa sama aku. Kayak habis manis sepah dilepeh gitu Mai

Dearest Mai (Insya Allah akan dinovelkan, beberapa bab Unpublished]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang