Bab 15 I Oh, No..

28.4K 1.8K 21

Aku suka rumah ini, rumah gadang keluarga Sinta di Talu, rumah panggung khas minang terbuat dari kayu. Rumahnya luas dan terbuka.

Aku duduk di tangga depan rumah, seperti gadis minang jaman dulu, yang menunggu jodohnya datang, sambil memandang bintang di langit malam.

Nyaman sekali duduk disini, setelah 8 jam perjalanan yang melelahkan. Pantas aja Sinta betah pas liburan kemarin, kampungnya feels like home, orang-orangnya juga ramah.

Brukk, aku merasakan seseorang duduk disebelahku, otomatis kepalaku menoleh, Riki. Aku tersenyum padanya.

"Baru mandi ya, wangi." ucapku.

"Gue nggak mandi juga wangi kali Cinta." Cetusnya.

Aku tersenyum.

Setelahnya kami tidak berbicara satu sama lain, menikmati senyapnya malam, hanya suara hewan malam yang terdengar bagai musik.

"Mai."

"Hmm..." mataku masih menatap langit malam

"Gue boleh ngomong sesuatu nggak?"

"Hmmm..."

"Kayaknya, gue suka sama lo Mai."

"Hmmm.." aku malas menanggapi, drama lagi palingan.

"Mai.., seriously." Riki terdengar frustasi.

"Iyah, I like you too Riki, you are the best of friend I could ever ask." Aku mendramatisir suasana.

"Mai, lihat aku." Nadanya serius.

Aku menolehkan kearahnya sambil tersenyum, mengharapkan wajah bercandanya yang muncul.

Degg.. ini bukan wajah yang aku harapkan, wajahnya terlihat serius, bahkan matanya menatapku tajam. Ada apa dengan Riki?

Muncul rasa khawatir pada hatiku. Oo.., aku mulai takut dengan apa yang akan dia katakan selanjutnya.

"I like you, not as a friend." Matanya menatapku serius.

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Noo.., please, it's not happening.

"Aku.., aku.." tidak ada kata yang keluar.

Aku menunduk, tidak berani menatap wajahnya lagi. Aku terdiam beberapa saat, berusaha menenangkan hatiku.

"Kamu hanya terbawa suasana Ki." Suaraku nyaris tak terdengar.

"I know what I'm feeling." Tegasnya.

"Aku sudah suka sama kamu sejak pertama kali aku melihat kamu." Riki sudah ber aku kamu.

"Tapi aku nggak bisa ngomong, karena Al sudah mendekati kamu lebih dulu. He's my best friend. Dan aku tidak mungkin menikung dia di tengah jalan."

"Tapi sekarang beda, Al sudah punya Mira. Jadi aku bebas mendekati kamu."

"Aku tidak tahu bagaimana perasaan kamu sama aku, tapi aku tidak akan pernah tahu, kalau aku tidak menyatakannya kan?"

Riki terdiam sejenak sambil menghela napas.

"Aku tahu kamu tidak mau pacaran, aku juga tidak mungkin melamar kamu saat ini. I just wanted you to know. That's all." Terangnya. "Lega rasanya kalau sudah dibilangin Mai."

Air mataku menetes, bagaimana ini? Apa aku sudah salah bersikap kepada Riki selama ini? Apa ini yang dikhawatirkan oleh Ni Maya, aku masih belum menjaga adab dalam berhubungan dengan laki-laki.

Dearest Mai (Insya Allah akan dinovelkan, beberapa bab Unpublished]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang