Bab 14 I I'm so sowwie..

28.4K 1.9K 32

Perhentian pertama kami, Air Tejun Lembah Anai. Lokasinya di pinggir jalan, sebelum masuk ke kota Padang Panjang. Daerahnya dingin, aku bisa merasakan hembusan angin yang cukup kencang, Masya Allah, sejuknyaaa. Aku merapatkan jaketku.

Air Terjun setinggi 35 meter ini begitu menakjubkan, air yang berasal dari Gunung Singgalang. 

Aku seperti anak kecil yang baru pertama kali ketemu air. Melangkah di atas batu-batu, dan mendekat ke air, aku memasukkan tangan ke dalamnya. Ahhhh dinginnn...

"Sini Sin!" aku berteriak pada Sinta. Riki membantunya, pelan-pelan menyusuri bebatuan, mendekat ke sumber air.

Masya Allah, ciptaan-Mu ya Allah, indah nian air terjunnya.

"Hiyyy, dingin." Seru Sinta.

Aku tertawa.

"Aww..!" Air kena mukaku.

Aku melihat Riki menyeringai. Awas saja, rasakan pembalasanku.

Kami perang air. Aku, Sinta, Riki, dan Ari. Aku tidak menemukan Al, but who cares.

Kaus kakiku basah, kerudungku basah, bajuku basah. Kalau begini apa nyebur aja sekalian ya?

Seperti membaca pikiranku, Riki mendorong dan byurrrr.

"Rikiiii..!" Aku teriak kesal. Untung saja aku tidak membawa handphone.

Dengan cepat aku tarik tangan Riki sehingga dia menyusulku, byurrrr.

Aku tertawa melihat Riki mengalami nasib yang sama sepertiku, basah.

Sinta mulai waspada, tapi aku lebih cepat, kutarik tangannya, byurrrr.

Aku tidak perlu menarik Ari, karena dengan sukarela, dia menyeburkan dirinya sendiri, byurrr.

Kami berempat tertawa, sepertinya ini akan menjadi liburan yang menyenangkan.

========

Aku berjanji tidak mau mandi lagi di Lembah Anai. Sesudahnya aku menggigil kedinginan. Walaupun sudah mengganti dengan baju kering, tanganku masih gemetar dan bibirku membiru.

Aku bersyukur ketika kami berhenti untuk makan Sate Padang Mak Syukur,di kota Padang Panjang, aku bisa menghangatkan badanku dengan teh panas dan sate dengan kuah yang masih mengebul.

Sate Padang Mak Syukur sudah terkenal sampai ke ibu kota Jakarta, bahkan cabangnya sudah banyak di sana. Tetapi tetap saja, makan di tempat aslinya terasa jauhhh berbeda. Tempatnya sejuk dengan hembusan angin dari pegunungan.

Kami duduk dan memesan makanan. Al duduk dedepanku, Mira lagi ke toilet.

"Kemana tadi Al, nggak turun pas di Anai?" Tanyaku basa basi.

"Mira takut turun." Jawabnya datar.

"Ooo..."

Mira sudah kembali dari toilet dan duduk di samping Al. Aku tersenyum padanya. Dia balas senyum, walau tidak sampai ke matanya.

Makanan sudah datang, dan aku lapar.

Kami menghabiskan makanan dengan lahap. Satenyaaa, heavenn..

Perut kenyang dan badanku sudah mulai hangat.

Aku tertidur selama perjalanan dari Padang Panjang ke Bukittinggi, padahal jaraknya tidak terlalu jauh. Lelah dan kenyang, paduan yang cocok.

Sesampainya di Bukittinggi, kami langsung menuju rumah nenek Ari. Rumahnya besar dan khas rumah lama. Cantik menurutku. Kami bertemu dengan neneknya Ari, ternyata beliau tinggal berdua dengan anaknya yang paling kecil, tantenya Ari, dan belum menikah. Kakeknya Ari sudah meninggal.

Dearest Mai (Insya Allah akan dinovelkan, beberapa bab Unpublished]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang