Bab 13 I Dia ikutan? What the..

30.1K 1.9K 33

Aku mulai sibuk dengan ujian akhir semester. Sementara aku lupakan dulu misiku mencari tahu, siapa perempuan misterius yang berhasil menawan hati Kak Sidiq.

Aku sudah memberikan proposal kuliah umum ke pak Taufik. Dia alumni teknik mesin, kira-kira 8 tahun diatasku. Aku tidak pernah bertemu dengannya di kampus sebelum ini. Alhamdulillah kedatanganku disambut dengan baik, dan dia bersedia untuk mengisi kuliah umum. Yes, mission accomplished.

Man jadda wajada

Akhirnyaa, setelah hari-hari ujian yang menegangkan.

Aku bisa bernafas lega. Selesai ujian akhir semester.

Sesudahnya, libur!

Tidak peduli bagaimana hasil ujianku. Sekarang waktunya liburan. Karena waktunya tidak terlalu panjang, aku memutuskan untuk tidak pulang ke Palembang.

Aku dan Sinta sudah menyusun acara jalan-jalan kami keliling Sumatera Barat. He he, gaya yah. Bagaimana mungkin sudah kuliah disini tapi nggak pernah jalan kemana-mana?

Aku dan Sinta sedang duduk di depan koridor, membahas rencana liburan kami. Tiba-tiba Riki muncul dan sudah duduk didepanku.

"Hai cantik." Ucapnya padaku sambil tersenyum

"Hai.." jawabku tersenyum.

"Lagi ada gosip apa?" Riki kepo

"Mau tau aja Ki, lo nggak diajak juga kali." Sinta menjawab

"Ahh.., ga asik lo pada, masa gue nggak diajak. Ajak donk, Mai, ajak gue donk. Bosen nih liburan di rumah aja. Paling maen sama anak kampus doank, malesin."

Aku tertawa melihat wajahnya yang merajuk seperti anak kecil.

"Aku sama Sinta mau keliling Sumbar." Oke aku agak sedikit melebih-lebihkan. Kami hanya akan mengunjungi beberapa selama 2 minggu.

"Whaaatt..?! Fix gue ikut Mai, plis Mai, ikut yah. Kalo nggak diajak pun, gue bakal ngikutin lo." Putus Riki

"Eh, lo kok minta ijin ke Mai doank, ke gue nggak?" Sinta protes

"Gue kan cuma mau sama Mai."

"Rese." Ucap Sinta.

"Ariii.., sini Ri." Riki berteriak memanggil Ari yang baru keluar dari kelas

Ari lalu duduk disebelah Riki.

"Ngapain nih pada ngumpul. Ada rapat terbatas ya?" Tanya Ari.

"Mai sama Sinta mau keliling Sumbar, terus kita diajak Ri." Cerocos Riki.

"Diajak dari Hongkong." Ujar Sinta, "Ngga ada ngajak anak cowok, ngerepotin tau."

"Eh Sin, bagus donk ada cowoknya, jadi kalian berdua ada yang jagain. Hari gini bahaya cewek jalan berdua aja keluar kota." Ari memberi masukan.

Aku dan Sinta saling bertukar pandang, iya juga yah, nggak kepikiran.

"Yaudah, boleh ikut, tapi harus nurut, terus jangan rese." Tegas Sinta

"Horeeyy!" Riki mengangkat tangannya ke udara.

"Jadi kita kemana aja?" Tanya Ari.

"Aku mau ke Pagaruyung, belum pernah kesana, sama mau ke kampungnya Sinta, di Talu. Terus liyat kelok 99."

"Kalau ada yang mau nambah bisa aja. Aku juga ngga paham bagusnya mulai dari mana." Tambahku

"Nah, kalo urusan begituan, serahin aja sama Al, pasti beres." Kata Riki

Dearest Mai (Insya Allah akan dinovelkan, beberapa bab Unpublished]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang