pangeran monte cristo

1.1K 5 1

PANGERAN MONTE CRISTO

Diceritakan kembali oleh Dwianto Setyawan

I. KORBAN FITNAH

Matahari bersinar garang di atas permukaan Laut Tengah. Pelabuhan Marseilles, Perancis turut terpanggang.....

Sinar sang surya makin menyemarakkan warna keemas-emasan arca Santa Maria. Tinggi di atas pelabuhan, dari puncak gereja Notre Dame de la Garde, wajah arca yang jelia itu menatap ke arah laut di bawahnya. Seperti seorang ibu menanti kedatangan anaknya pulang berlayar. Tak salah jika para pelaut menyebut Sang Santa sebagai pelindungnya.

Tak jauh dari pintu gerbang pelabuhan, benteng St. Jean berdiri kekar. Dan agak jauh di laut sana,di atas tanah gersang, berdiri bangunan lain: Chateau d'If. Bangunan yang terakhir ini adalah sebuah penjara. Tampak suram menyimpan kesedihan dan penderitaan orang-orang yang dihukum di dalamnya.

Bangunan penjara itu tidak memiliki jendela. Hanya celah-celah kecil sekedar untuk pergantian udara. Pintu gerbangnya terbuat dari besi, kokok dan kuat. Dilihat dari bentuk bangunan itu, mustahil rasanya seseorang yang dihukum di dalamnya dapat melarikan dii dari tempat yang mengerikan itu.

Pada suatu hari yang cerah, sebuah kapal bertiang tiga merapat ke pelabuhan. Nama kapal itu PHARAON. Bahtera ini datang dari Smyrna, Trieste dan Naples. Saat itu Pharaon merapat ke dok, lantas membuang jangkar.

Orang banyak ramai menyambut kedatangan Pharaon. Salah seorang di antaranya cepat-cepat menaiki tangga menuju ke geladak kapal itu. Ia seorang laki-laki setengah umur. Morrel namanya. Tuan Morrel adalah pemilik kapal Pharaon.

"Apa kabar Edmond Dantes?!" sapa Morrel kepada seorang pemuda yang berdiri, menanti di geladak.

Edmond Dantes seorang pemuda berambut warna gelap. Wajahnya tampan dan gerak geriknya sangat menarik. Ia adalah perwira kepala di kapal Pharaon. Dantes menatap Morrel dengan sinar mata mengandung kesedihan hebat. Katanya:

"Kami menderita kemalangan dalam pelayaran kali ini. Kapten Leclere meninggal ketika kami sedang berlayar. Terpaksa jenasahnya kami kuburkan di laut."

Tuan Morrel menunduk. Hatinya merasa sedh mendengar kabar kematian Kapten Leclere. Sudah bertahun-tahun Leclere menjabat sebagai kapten kapal Pharaon. Ia seorang kapten kapal yang baik dan penuh tanggungjawab. Sayang!

"Sebagai perwira kepala, saya mengambil alih tugas kapten Leclere setelah dia meninggal." Edmond Dantes melaporkan.

Morrel mengangguk.

Kaerna masih ada beberapa soal yang harus dibereskannya, Edmond Dantes meninggalkan Morrel. Sementara itu Morrel menemui Danglars, kepala bagian muatan kapal.

Danglars berusia sekitar dua puluh lima tahun. Gerak-geriknya lamban seperti orang tolol. Ia kurang disukai awak kapal lainnya karena sifatnya yang mau menang sendiri. Danglars sangat membenci Dantes. Sebabnya? Karena Danglars merasa kalah dalam segala hal dengan Edmond Dantes.

Danglars mengadukan tingkah laku Dantes selama Dantes menjabat sebagai kapten kapal menggantikan kapten Leclere. Tentu saja pengaduannya memburuk-burukkan nama Dantes di hadapan Morrel.

"Edmond Dantes memerintahkan Pharaon mampir ke pulau Elba sebelum kembali ke Marseilles, pak," kata Danglars kepada Morrel. "Ia membuang waktu saja. Apa gunanya berhenti di pulau Elba? Padahal waktu sangat berharga bagi kita!"

Mendengar pengaduan Danglars, tuan Morrel memanggil Dantes. Ia bertanya untuk apa Pharaon diperintahkannya mampir ke pulau Elba.

"Sebelum meninggal, kapten Leclere berpesan kepadaku. Aku harus menyampaikan sebuah paket kepada salah seorang jenderal Napoleon. Itu sebabnya aku memerintahkan Pharaon ke Elba." Jawab Dantes. Ia menambahkan, "Bahkan aku juga bertemu dengan Napoleon sendiri di sana."

pangeran monte cristoBaca cerita ini secara GRATIS!