Bab 10 I Sandy atau Andy?

32.9K 1.9K 20

Aku sedang asik mengerjakan tugas menggambar mesin di ruang tamu. Butuh cahaya yang banyak untuk mengerjakan tugasku.

Ruang tamu dengan banyak jendela, cocok sekali. Meja ruang tamu yang pendek dan terbuat dari kaca membuatku lebih mudah menggambar disana.

Aku duduk di lantai, masih mengenakan piyama tidur. Tentu saja aku memakai kerudung, kalau ada tamu datang bagaimana?

Sedang khusyuk menggambar, aku mendengar Ni Nana mengucapkan salam, posisiku yang membelakangi pintu masuk, membuatku tidak bisa melihatnya langsung

"Waalaykumussalam." Jawabku masih asik menggambar, "Masuk Ni, nggak dikunci."

Aku mendengar bunyi pintu dibuka.

"Ni, nanti bantuin Mai yah, ada yang masih bingung nih, potongan-potongannya." Mataku masih menatap kertas gambar.

"Oke Mai." Jawab ni Nana, "Duduk dulu ya, aku ke dalam sebentar ngambil gambarnya." Ucap ni Nana

"Gambarnya disini Ni." Sahutku sambil menoleh ke arah ni Nana.

Innalillahi, ternyata ni Nana tidak sendirian. Dia bersama 2 orang temannya, laki-laki pula.

Aku tidak beranjak dari dudukku, masih menatap ni Nana dan temannya.

"Mai, kenalin, seniorku dulu di kampus. Ini sepupuku, namanya Mai, kuliah di teknik industri." Ni Nana memperkenalkan aku pada teman-temannya.

Aku mengangguk sopan pada mereka. Haduh, bagaimana ini? Apa aku masuk saja?

"Hai, panggil aja Andy, ini Roy." Yang bernama Andy melambaikan tangannya padaku.

"Hai." Balasku sambil melambaikan tangan.

"Udah pada duduk dulu, aku ke dalam sebentar. Temenin dulu ya Mai." ni Nana langsung menghilang dari ruang tamu.

Saat ini aku sedang duduk dilantai, apa mereka akan duduk di sofa?

Da Andy langsung duduk di sebelahku, melihat tugas gambar.

"Ragum?" Tanyanya

"Eh.., iya." jawabku gugup, "Duduk di atas aja Da, jangan di bawah, nggak apa-apa kok.

Seolah tidak mendengar ucapanku, matanya masih fokus ke kertas gambar.

Temannya satu lagi, da Roy, mengambil tempat di depanku.

"Dosennya siapa?" Tanya Da Roy santai.

"Pak Anjas." Jawabku

"Ooo.., Pak Anjas, asik tuh sama dia." Seru Da Roy.

"Kenapa potongannya?" Tanya Da Andy lagi.

"Eh, ini, masih ragu bener apa nggak." Ucapku kikuk.

Da Andy menggeser gambarku ke hadapannya.

"Ada yang kurang dikit aja kok, Roy, menurut lo gimana?" Da Andy memutar kertas gambar ke arah da Roy.

"Iya, tinggal dibenerin dikit aja. Minta benerin sama Andy tuh, master gambar" ucap da Roy sambil terkekeh

"Eh, nggak usah Da, jadi ganggu. Nanti sama ni Nana aja." Aku jadi tidak enak, mereka kesini pasti ada perlu sama ni Nana.

Ni Nana muncul dengan setumpuk gambar ditangannya.

"Eh, awas, jangan gangguin sepupu gue yah, dia nggak mau pacaran dulu."

Soo much information ni Nana, nggak penting juga kali.

Dearest Mai (Insya Allah akan dinovelkan, beberapa bab Unpublished]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang