Bab 8 I Patah Hati

29.1K 1.9K 17

"Al punya pacar!"

Uhuk uhuk, aku tersedak es jeruk yang sedang kuminum.

Sinta langsung menepuk punggungku, mencoba membantu meredakan batukku.

"Apaan sih Sin, ngagetin tahu." Entah aku kaget karena apa. Apa karena Sinta datang tiba-tiba dan mengejutkanku atau karena berita yang dibawanya.

"Al punya pacar Mai." ulangnya lagi, seolah aku tidak mendengarnya barusan

"Iya aku dengar Sin, ngga perlu kamu ulang-ulang."

Tapi kenapa rasanya ada yang aneh dengan hatiku. Seperti.., aku tidak bisa terima kalau dia punya pacar? Tapi kenapa?

Apa aku kecewa karena dia adalah tipe orang yang pacaran sebelum nikah? Atau karena aku tidak menyangka dia bisa punya hati dengan perempuan lain? Atau aku tidak bisa terima dia sudah move on dariku?

Ha ha, ge er kamu Mai, memangnya dia pernah menyatakan perasaannya ke kamu? Nggak pernah kan?

Aku menarik napas panjang.

Oke, kalo memang Al punya pacar, so what? Urusan dia, bukan urusanku. Tapi rasanya kok...

"Tahu dari mana Sin?" Aku ingin tahu.

"Riki, dia keceplosan." Aku melihat cemas di mata Sinta. Apa dia juga kaget dengan berita ini?

"Kok bisa?" Tanyaku lagi

"Kok bisa apa? Kok bisa Al punya pacar?" Lanjut Sinta

"Maksudku, kok bisa Riki keceplosan." Ralatku.

"Aku tadi ketemu Riki. Aku tanya, kemana Al ga kliatan, terus kata Riki, lagi sibuk pacaran kali." Jawab Sinta, "Terus aku tanya lagi, emang Al punya pacar? Nahh.. Riki langsung nyadar kalo dia keceplosan."

"Awalnya dia nggak mau ngaku gitu tadi. Tapi setelah aku paksa, akhirnya dia cerita kalo Al emang udah punya pacar." Jelas Sinta panjang.

"Tapi Riki bilang, jangan kasih tau Mai yah, gitu. Nggak mungkinlah aku nggak ngasih tau kamu." Tambah Sinta. "Al bego, maksud dia apa sih?"

Aku cuma diam, tidak tahu harus bicara apa. Sakitkah hatiku?

Sinta memandang ke luar kantin. "Mai, ada Al, Mai, dia ke sini, bareng Riki." Sinta menatapku cemas. "Gimana Mai?"

Kepalaku otomatis melihat ke arah yang ditunjuk Sinta. Tidak, tidak sekarang. Hatiku belum siap. Cepat aku menyambar tas, kemudian berjalan keluar kantin. Tujuanku hanya satu, pulang.

"Aku pulang Sin." Kataku sambil menoleh singkat ke Sinta.

Sinta mengangguk mengerti. She's my real soulmate. Tidak perlu kata-kata, dia sudah tau bagaimana perasaanku saat ini.

Aku mengambil arah yang berlawanan dengan datangnya mereka. Aku mempercepat langkah. Sayup kudengar suara Al memanggilku, tapi langkahku tidak berhenti. Tidak, tidak sekarang.

=================

Seperti inikah patah hati? Apa aku patah hati?

Rasanya nyeri.

Aku menghela napas kasar.

Kenapa hanya dengan mendengar dia punya kekasih, aku jadi bersikap seperti in? Ari punya pacar, Riki sering tebar pesona, tapi reaksiku tidak seperti ini.

Kenapa? Bolehkah hatiku bersikap seperti ini? Bukankah prinsipku tidak ada pacaran sebelum nikah?

Tapi hati seseorang bisa berubah kan?

Dearest Mai (Insya Allah akan dinovelkan, beberapa bab Unpublished]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang