Bab 7 I Perkenalkan, uni Humairoh

30.5K 2K 20

Perkuliahan sudah 1 bulan berlalu, mahasiswa baru sedang menikmati masa orientasi mereka. Aku malas terlibat, walau kak Sidiq mencoba mengajakku, dan mengatakan bahwa ospek kali ini beda. Tetep saja aku malas.

Aku lebih tertarik membantu Ni Maya untuk persiapan mentoring lanjutan, juga mengonsep kajian Annisa tiap jumatnya, untuk menarik mahasiswi baru.

Aku membawa konsepnya ke kak Sidiq, dan meminta agar dijadikan sebagai bagian dari ospek, alias diwajibkan hadir pada saat kajian. Alhamdulillah disetujui, kalau nggak, aku mogok ngomong dengannya selama 1 semester, he he.

Selain itu Ni Maya juga meminta aku untuk aktif di Keputrian Forum Studi Islam Teknik. Aku sih senang terlibat di sana, mudah-mudahan manfaat apa yang aku lakukan.

Aku sedang duduk di sekre BEM, menunggu kak Sidiq, kami ada janji untuk bertemu. Karena bosan, akhirnya aku keluar, kayaknya asik juga kalau melihat anak baru diapain aja, he he.

Aku melangkahkan kaki menuju aula, tempat mahasiswa baru berkumpul. Sebentar lagi ashar, artinya sudah mau selesai. Di depan aula ramai, sepertinya banyak yang berpikiran sama sepertiku, melihat mahasiswa baru.

Malas berdesakan, aku menuju kantin. Beli mi goreng sama es jeruk kayaknya enak nih. Baru beberapa langkah aku berjalan, ada yang memanggil.

"Mai..!"

Aku menoleh, Al..

"Kenapa?" Tanyaku. Ternyata Al muncul dari dalam aula.

"Dicari da Sidiq tuh, di dalem." Sahutnya.

"Nanti aja nunggu selesai, males, rame banget." Aku melanjutkan langkahku ke kantin.

"Dipanggil Ketua BEM loh Mai." Al mengingatkanku.

"Lah, aku kan bukan panitia."

"Kayaknya dia lagi butuh bantuan kamu." Bujuk Al.

"Ha ha, kan ada kamu Al, ada Riki juga, terus ada da Raka. Lah aku mau ngapain?" Elakku.

"Kamu mau ikut atau mau aku seret." Ancam Al.

Aku mengacuhkannya dan berlalu.

Tiba-tiba Al menarikku, bukan tanganku, tapi ujung lengan bajuku. Aku terkejut dan tidak sempat berbuat apa-apa. Setelah tersadar aku menarik lenganku.

"Apaan sih Al.." ucapku kesal.

Dia cuma diam menatapku.

Aku menghela napas, "Oke deh Pak Ketua yang terhormat, aku ikut, nggak usah pegang-pegang kali, belum halal!"

"Mau aku halalin?"

Aku melotot menatapnya, mulai deh.

"Sana jalan duluan, entar kamu kabur lagi." Ujarnya sambil tersenyum.

Aku berjalan ke aula, tapi karena ramai, aku tidak bisa masuk. Akhirnya Al berjalan di depanku, membuka jalan supaya aku bisa lewat.

Sampai di dalam, aula penuh sesak. Aku melihat kak Sidiq sedang berbicara di atas panggung, mahasiswa baru duduk bersila di lantai. Terlihat sekali wajah-wajah lelah mereka.

"Nahh.., yang ditunggu sudah datang." kak Sidiq menatap kearahku.

What..?

"Berikutnya akan ada pengumuman dari Keputrian FSI Teknik, kepada uni Humairoh kami persilahkan." kak Sidiq memanggil namaku.

"Mai." panggil Al, "Ayo maju sana."

Aku diam ditempat, aku tidak ada persiapan.

Al mendorongku pelan. Aku melangkah, kemudian menoleh sebentar kebelakang, melotot kearanya. Awas saja.

Dearest Mai (Insya Allah akan dinovelkan, beberapa bab Unpublished]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang