7 - Sendal Jepit Merah Muda 2

517K 31.8K 2.7K


Hari ini adalah hari pentas kesenian di sekolah Sonya. Anak itu sudah berpesan padanya sebulan yang lalu untuk datang menonton pertunjukkan tari yang ia bawakan bersama teman-teman sekelas. Raga selalu datang, bahkan dipembagian rapor Sonya, duduk diantara ibu-ibu yang menunggu nama anaknya dipanggil. Menggantikan papanya yang tidak mungkin berada disana.

Raga tidak ingin Sonya merasa jika papanya tidak perhatian pada mereka. Meskipun benar, setidaknya bukan sekarang Sonya menyadari kenyataan itu.

"Jangan ngendus-ngendus," Ucapnya pada Metta. "Gue lempar ke jalanan nih."

Cewek yang ada di gendongannya itu tampak tidak terpengaruh sama sekali pada omongan pedasnya dan justru memeluk leher Raga semakin erat.

Mungkin keputusan Raga membawa cewek itu ke pertunjukan Sonya sedikit ekstrim. Perihal ia tidak pernah memperkenalkan seorang wanita pun pada anggota keluarganya. Meski kejadian Sonya yang bersikap sama juteknya dengan Metta tidak bisa disebut perkenalan, namun adiknya itu sudah melihat Metta. Raga tinggal menunggu waktu bagi Sonya membuka mulutnya nanti di rumah.

"Jangan dong," sahut Metta di belakang kepalanya. "Nanti gue tambah sakit, lo juga yang sedih."

Raga menahan keinginannya untuk benar benar melempar cewek itu dan mempercepat langkahnya. Ketika sampai di parkiran, ia menurunkan Metta dari gendongan yang disambut rintihan setelahnya.

"Aduhh, sakit gila. Kenapa sih ini kaki..."

"Lebay lo. Baru jatuh segitu doang. Gue rasa kaki lo juga gak mungkin sampe sesakit itu."

"Maksud lo gue boong. Lo liat gak tadi sepatu gue sampe patah gitu. Terus jatohnya nyungsep. Mana banyak orang lagi. Harga diri gue aja masih ketinggalan disana. Bisa-bisanya lo bilang gue boong," Metta bersidekap dan mendongak ke arah Raga. "Pacar jahat!"

Raga menghela nafas. "Udah masuk sana." Kemudian berbalik memutari mobil.

"Isshh gue udah kek gini masih aja gak dibukain pintu." Gumam Metta menyentak pintu mobil penumpang terbuka dengan kesal.

Belum sempat ia menginjak pedal gas, ponsel di saku kanannya bergetar. Raga membuka kuncian lalu melihat sebuah pesan disana.

"Sekarang kita kemana?" tanya Metta. Mengalihkan perhatian Raga sesaat dari ponsel. Cewek itu melepas sepatu hitam bertali itu dengan perlahan. Menggantinya dengan sendal jepit berwarna merah muda yang semula ia bawa. Wajahnya terlihat meringis menahan sakit. Membuat Raga berpikir apakah cewek itu memang benar-benar kesakitan.

"Gue antar lo pulang,"

Metta menoleh. Menatap Raga tidak percaya. "Kok pulang!?" Ia kemudian melihat jam di tangan. "Jangan cemen, ah."

"Gue ada urusan. Lagian kita udah jalan."

"Kita bahkan belum kemana-mana." Metta menggeser sedikit tubuhnya agar menghadap Raga. "Jangan bilang nonton pertunjukan pentas anak SMP itu lo sebut ngedate."

"Lo cuma minta jalan sama gue. Lo gak bilang secara spesifik kemana tujuannya. So, itu udah bisa gue sebut jalan."

"Gak mau, ih." Metta menarik ujung baju kaus Raga. "Gue gak mau pulang. Gue mau ke club."

"Enggak," Raga mengendikkan bahunya, melepas tarikan Metta. "Gue dah bilang ada urusan, kan."

"Urusan apa?" Sejenak Metta memicingkan matanya ke arah Raga. "Lo mau tanding tinju lagi?"

Raga menoleh cepat. "Tau dari mana lo?"

Metta tersenyum sumringah. "Gue itu mendalami karakter. Karena sekarang gue jadi cewek lo, jadi secara gak langsung gue udah sehati aja sama lo. Gimana? Keren gak?"

SIN [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang