Bab 5 I Friends..?

30.4K 2.2K 22

Aku mematut diriku di depan cermin, memperbaiki kerudung dan merapikan tunikku.

"Ciyehh., yang mau ketemu gebetan." Sinta sudah berada di depan pintu kamarnya.

"Apaan sih. Biasa aja kali." Mau tak mau, aku jadi malu mendengarnya. Apa iya aku deg-deg an akan bertemu dengannya? Aku memegang dada sebelah kiriku. Terasa lebih cepat degupnya.

"Udah cantik kok Mai, kalo nggak cantik, nggak mungkin lah Al ngejer-ngejer kamu segitunya." Tambah Sinta lagi

Pelan kuhela napas, aku hanya berharap masalah ini cepat selesai.

Tok tok tok

"Assalamualaykum." Salam seseorang dari luar.

"Waalaykumussalam." Jawab kami berbarengan.

"Udah dateng Mai, keluar sana, bukain pintu."

"Kamu aja Sin, ini kan rumah kamu." Elakku.

Sinta mengalah dan beranjak keluar dari kamar untuk membukakan pintu.

Pagi ini rumah sepi, mama dan papanya Sinta sedang pergi menghadiri nikahan anak teman mereka. Harusnya Sinta ikut, tapi dia berhasil membujuk orangtuanya untuk tetap dirumah.

Alasannya ada tugas yang harus di kerjakan bersamaku. Tugas apa? Tugas menyelesaikan yang perlu di selesaikan, antara aku dan Al.

Bismillah, aku melangkah keluar mengikuti Sinta.

Aku melihat Sinta membukakan pintu, ada sosok Al di sana.

"Hai Sin." Sapanya pada Sinta

"Masuk Al, duduk gih."

Al langsung masuk, melihatku yang berdiri dibelakang Sinta, dia tersenyum.

"Hai Mai." Sapanya

"Duduk Al." aku tersenyum kecil padanya.

Al duduk di sofa, aku mengambil tempat duduk yang berjauhan darinya.

"Mau minum apa Al?" Sinta basa basi.

"Air putih aja Sin." Jawab Al.

"Oke, aku tinggal dulu ya. Udah pada ngobrol, jangan pada diem aja. Baik-baik sama Mai ya Al, jangan diapa-apain." Goda Sinta

Aku melotot pada Sinta, maksudnya?

Al cuma terkekeh mendengarnya.

Hening..

Aku diam, Al pun diam. Biar saja dia yang membuka pembicaraan.

"Ehemm.., Mai.., bingung aku mau mulai dari mana." Al membuka pembicaraan

"Aku kan sudah menjawab pertanyaan kamu kemarin Al, aku sama Kak Sidiq nggak ada hubungan apa-apa." Jelasku.

"Kamu memanggil dia dengan sebutan Kak, ada alasan khusus?" tanyanya masih penasaran.

Benar kata Sinta, aku harus memberitahu Al yang sebenarnya.

"Dia sepupuku Al."

Al tampak sedikit terkejut mendengarnya, well same old, same old.

"Kamu tahu kan, aku asli Palembang, sama dengan kak Sidiq, dia juga asli Palembang. Ayahnya kak Sidiq adalah kakak ayahku, jadi kami sepupuan. Kami besar bersama di Palembang, jadi wajar saja kalau aku dekat dengannya." Jelasku panjang

"Ooo.." sepertinya Al lega mendengarnya, "Kirain..." gantungnya.

"Kirain apa? Aku pacaran sama Kak Sidiq?" Cecarku, "Nggak mungkin lah Al."

Dearest Mai (Insya Allah akan dinovelkan, beberapa bab Unpublished]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang