Diantara Dua

13 3 7
                                                  

"Tania! Eh! Njir woy bangun lo!" Suara itu mengganggu acara tidur pagi Tania. Suara berat yang menggema di dalam ruang kelas bercat kelabu muda.

"Anjir. Bangun oy!" Laki-laki itu masih berusaha membangunkan teman sebangkunya. Tangannya menggoncang-goncangkan tubuh perempuan yang duduk di sampingnya. Wajahnya ditelungkupkan dan tertutup oleh rambut hitamnya yang dikuncir asal-asalan.

Karena tidak sabar, Gio, nama laki-laki itu, langsung saja menarik-narik ujung rambut Tania. Berharap agar temannya ini segera bangun dari kegiatan tidur paginya.

"Nghh. Apasih, Gi? Ganggu aja." Jawab Tania masih menyembunyikan wajahnya. Suaranya benar-benar parau disebabkan acara tidurnya.

"Lo tuh bangun, Tan! Setan! Udah siang woy!" Gio mulai frustasi membangunkan perempuan satu ini. Tabiatnya yang memang susah dibangunkan membuat setiap orang kalang kabut.

"Ribet lo. Cerewet kek emak-emak." Jawab Tania dengan suara paraunya. Masih terdengar seperti orang-orang yang nyawanya belum terkumpul benar.

"Eh, anjir. Bangun! Di depan ada kepsek noh! Kalo lo kaga bangun, liat aja. Ah, tapi terserah lo aja lah." Akhirnya Gio pun menyerah. Diabaikannya temannya itu.

"Halaaah lo tuk---"

"TANIA! Kenapa kamu tidur?!" Suara berat itu terdengar khas. Tidak ada yang memiliki suara itu selain Pak Doni, Kepala Sekolah SMA Warta.

"Mampus lo." Bisik Gio cekikian.

Dengan sigap Tania menegakkan tubuhnya. Tampak seluruh pasang mata sedang menatap ke arahnya. Kecuali Gio yang sedang cekikian sambil sok melihat-lihat gambaran di bukunya. Matanya melotot sedikit kemerahan.

"Saya sedang bicara di depan! Kenapa kamu malah tidur, Tania?!" Pak Doni geram melihat salah satu muridnya yang tidak punya sopan santun. Dirinya sedang menjelaskan acara sekolah minggu depan, tapi malah muridnya itu asyik tertidur pulas.

"Eh, anu Pak. Saya cuman, cuman--"

"CUMAN APA?" Bentak Pak Doni.

"Cuman tidur Pak. Hehe." Tania hanya bisa memasang cengiran khasnya. Dia sedang mengumpulkan kekuatan untuk mendengar bentakan amarah Pak Doni. Tapi, lebih baik dia disuruh keluar kelas saja daripada mendengarkan ocehan kepsek berkumis itu.

"KELUAR KAMU SEKARANG! Lari keliling lapangan tiga kali!"

Baru Tania ingin protes, Pak Doni sudah angkat bicara lagi.

"Tidak ada protes apapun! Segera laksanakan!" Suruh Pak Doni sambil menunjuk pintu kelas.

Tania hanya bisa bangkit dari duduknya kemudian berjalan keluar. Rasanya malas sekali jika pagi-pagi dirinya sudah diberi tugas lari keliling lapangan. Padahal ini bukan jam olahraganya. Ah, tapikan ini hukumannya akibat tidur di kelas.

Dengan langkah kaki yang tidak berniat untuk berlari, Tania mulai mengitari lapangan. Matahari pagi ini sudah bersinar terik. Padahal baru jam delapan. Yah, bisa dipastikan dia akan mandi keringat pagi ini. Bau.

***

Akhirnya, Tania dapat menyelesaikan hukuman dari Pak Doni. Dan disinilah dia sekarang. Tepi lapangan yang cukup teduh untuk beristirahat. Tangannya ia kibas-kibaskan sehingga dapat menimbulkan semilir angin yang sebenarnya tidak berefek apa-apa.

"Hah. Bahagia banget dah gue punya kepsek macem gitu." Komentar Tania di sela-sela istirahatnya.

Setengah jam lagi, bel istirahat baru akan berbunyi. Sehingga mustahil baginya untuk menemui Gio saat ini juga. Alhasil, dengan kaki yang masih sedikit bergetar akibat berlari, Tania berjalan menuju kantin. Berniat membeli air minum sekedar menetralisir dehidrasinya.

EndeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang