BAB 1 - DITERIMA

2.2K 201 14
                                                  

Alana mengayuh kencang sepeda tuanya, sama sekali tidak peduli pada bulir-bulir keringat sebesar biji jagung yang tidak pernah absen turun dari pelipis. Kaki mungilnya tak berhenti mengayuh, padahal otot-otot kakinya sudah merengek minta diistirahatkan. Di bibirnya tersungging lengkungan sempurna, menyimpulkan bahwa gadis itu masih bersemangat walaupun sudah mengayuh sepeda bututnya selama dua puluh menit terakhir.

"KAK!" Beata yang ada di belakang memekik sambil terus melingkarkan kedua tangan pada perut Alana. "Pelan-pelan, dong!"

"Ssst! Kamu dah telat!" jawab Alana. "Pegangan aja yang kenceng."

Gadis itu dengan cekatan menarik rem sepedanya saat ia sudah sampai pada pelataran sebuah Sekolah Dasar. Diperintahnya Beata untuk turun, lalu diparkirnya sepeda butut itu di samping gerbang. Terengah-engah, Alana melirik jam tangan. Masih ada waktu lima menit sebelum bel sekolah Bea berbunyi.

"Anternya sampai sini aja, Kak." Beata menengadah, "belum telat, masih boleh masuk kelas sama Bu Wiwin."

"Oke," Alana berjongkok, berusaha mensejajarkan tinggi badannya dengan tinggi badan Bea yang cuma setengah dari tinggi badannya. "Nanti kakak jemput lagi disini, ya?"

"He-eh."

"Salim dulu," katanya. Beata spontan menarik tangan kakaknya dan mencium tangan Alana dengan sayang. "Jangan nakal, ya."

"Daaah, kakak!"

Alana tersenyum, balas melambai pada adiknya yang melambaikan tangannya dengan semangat. Matanya masih terus mengekor pada tubuh Beata yang mungil sampai ia berhasil masuk ke lapangan sekolah.

Setelah Beata hilang dari pandangan, Alana cepat-cepat berlari ke sepeda, lalu menaiki sepeda itu dan mengayuh pedalnya lebih kencang. Tujuannya kali ini bukan untuk mengantar Benardo—adiknya yang tengah—ke sekolah Ben yang jaraknya nggak sampai lima menit dari kontrakan, tapi ke warung internet alias warnet untuk melihat hasil pengumuman Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) yang sebenarnya sudah keluar dari kemarin sore. Alana baru sempat membukanya sekarang karena tidak ada sambungan internet di kontrakan, dan karena kemarin Alana harus bekerja penuh waktu.

Alana berhenti di depan warnet yang buka 24 jam, lalu memarkirkan sepedanya tepat di depan pintu. Ia berjalan mencari bilik yang kosong, lalu langsung duduk dan sibuk dengan komputer begitu komputer itu menyala. Jari-jarinya menari diatas keyboard, membuka situs yang sudah dihapalnya di luar kepala, memasukkan nomor kode dan kata sandi, dan setelah itu menunggu beberapa saat.

Jantungnya berdegup tidak karuan.

Diterima SBMPTN adalah harapan satu-satunya dia bisa kuliah setelah satu tahun nganggur dan bekerja paruh waktu di McDonalds. Sebenarnya, Alana nggak menginginkan dirinya untuk nganggur selama satu tahun, seolah-olah ia sedang gap year. Keadaan memaksanya untuk tidak bisa merasakan jenjang perkuliahan setelah lulus setahun lalu. Kalau saja masalah itu nggak datang satu tahun lalu, ia bisa membayangkan dirinya sedang menikmati status sebagai mahasiswa semester dua sekarang.

Layar komputer berkedip.

Alana membuka matanya lebar-lebar.

"Pengumuman Kelulusan SBMPTN 2016. Nama, Alana Hutami Josef. Tanggal lahir, 12 Oktober 1997," desis Alana, membaca tulisan yang tertera di layar komputer. "Selamat Anda dinyatakan lulus seleksi SBMPTN 2016. Program studi tujuan Anda pada SBMPTN 2016 adalah: Ilmu Komunikasi, Universitas Indone—HAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!"

Alana tanpa sadar berteriak. Ia berusaha menutup mulutnya dengan kedua tangan namun teriakan tidak berhenti keluar dari bibirnya.

"MAKKK, SUMPAHAN?!!!!" katanya, lebih pada dirinya sendiri.

BEAUTIFUL MADNESSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang