Bab 3 I Rumor has it

41.2K 2.4K 33

Aku duduk di karpet dan meletakkan tas di meja sekre. Aku mengeluarkan catatan laporan keuangan wisudawan. Alhamdulillah sudah terkumpul semua. Jadi aku hanya perlu merekap dan menyerahkan uangnya ke Al. Biar dia saja yang memberikan uangnya kebendahara BEM.

"Udah selesai kuliah Mai?" tanya seseorang di belakangku tiba-tiba.

"Astaghfirullah!" Aku tersentak kaget dalam.

Posisiku yang membelakangi pintu masuk membuatku sama sekali tidak sadar kalau ada orang yang datang

"Eh, sorry Mai, kaget yah, makanya jangan ngelamun." Ucapnya santai dan mengambil duduk di sampingku.

"Hmm.." aku hapal suaranya, sudah pasti Al. Ciyehh.., hapal ni yee, goda suara dalam pikiranku. Husshh.., jauh-jauh...

"Gimana Mai? Sudah semua?" Tanyanya sambil memasang senyum sejuta watt-nya.

"Alhamdulillah, ini uangnya ada di dalam amplop, hitung dulu, terus tanda tangani tanda terimanya. Kalau sudah, langsung kasih sama bendahara BEM. Tuh, uni Liza ada di dalam, langsung kasih ke dia aja." Aku meletakkan amplop di hadapannya.

Sekre BEM ini terdiri atas 3 ruangan. Ketika masuk, disebelah kiri ada ruang tamu, tidak terlalu besar, berukuran 3mx3m, disinilah aku berada sekarang.

Di ruangan ini hanya terdapat 1 meja bulat pendek dan kami duduk di lantai beralaskan karpet.

Dua ruangan lainnya adalah ruang rapat yang bisa menampung sekitar 30 sampai 40 orang dan ruangan pengurus BEM.

Biasanya kak Sidiq, ni Liza, dan da Raka suka nongkrong di sana. Apalagi kalau mau ada acara besar seperti sekarang. Kalau sedang tidak kuliah, mereka pasti ada di sekre.

"Tumben ngomongnya banyak." Seloroh Al.

Aku mengangkat wajahku, menatap sebentar, maksudnya? Aku mengacuhkannya dan kembali ke catatanku.

"Biasa aja." Jawabku.

"Mumpung ada ni Liza, kamu aja yang ngasih." Al menggeser amplop ke arahku.

"Kamu aja lah Al, rame di sana, males aku." Aku mengelak.

Tiba-tiba Al mengambil tanganku dan meletakkan amplop tersebut di telapak tanganku.

"Kamu aja, kan kamu deket sama ni Liza." Tangan kirinya memegang tanganku, tangan kanannya memegang amplop di atas telapak tanganku, matanya lurus menatapku.

Degg.

Aku blank selama 2 detik. Kemudian tersadar. Serta merta aku menarik tanganku darinya. Dia tersenyum.

Whaatt..? Setelah apa yang dilakukannya, dia tersenyum? Apa maksudnya coba? Tersenyum karena berhasil menyentuhku? Atau karena melihat aku blank beberapa saat tadi?

Sentuhannya sekejap, tapi tubuhku masih bereaksi sampai sesudahnya. Jantungku berdetak di atas normal, berkejaran.

Allahh..

Aku mengambil napas perlahan berusaha menormalkan detak jantungku. Inhale, exhale...

"Baik." Jawabku singkat.

Dia tersenyum lagi, maksudnya apa coba?

"Yuk, aku temenin."

Elaahh, anak TK kali, pake ditemenin. Tapi aku sedang malas berdebat, tidak setelah kejadian tadi. Aku beranjak menuju ruang pengurus, dia ikut berdiri dan berjalan mendahuluiku.

"Assalamualaykum."

"Waalaykumussalam."

"Weits Al, tumben nih, sama Mai." Goda da Raka.

Dearest Mai (Insya Allah akan dinovelkan, beberapa bab Unpublished]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang