Jany menghela nafasnya dengan kasar dan memilih naik kekamarnya karena lelah menunggu penjelasan yang tidak ia dapati sedari tadi.

*****

"Jadi, Alex milih gitu yah? Demi Jany?" Tanya nya masih tidak percaya setelah mendengar panjang lebar penjelasan dari orang disebelahnya.

Ayah mengangguk "Demi Jany, ayah dan bunda"

"Ayah juga udah ngasih tau kalau ibu kandungnya sudah meninggal?"

"Sebelum ayah kasih alamat itu, ayah sudah kasih tau semuanya. Tanpa ada ditutup-tutupi lagi. Alex sudah tau semuanya" ucap-nya sambil terus melihat ke arah luar Jendela.

Bunda kemudian terdiam memikirkan bagaimana kondisi perasaan Alex selama ini bahkan menahan perasaannya yang mencintai Jany dan ditambah lagi perasaan akan kehilangan ibu kandungnya sendiri.

"Sekarang, semua keputusan Alex. Jangan ganggu dia sampai dia mengatakannya sendiri." Ucap akhir ayah sambil berdiri meninggalkan istrinya diruangan itu sendiri.

*****

Waktu menunjukan jam 10 malam. Setelah selesai makan malam berapa jam yang lalu, Alex ingin sekali menjelaskan semuanya ke Jany apa yang terjadi karena Alex tau bagaimana penasarannya Jany saat dimeja makan tadi dan Alex melihat Jany terus menahan keingin tahuannya hingga makan malam berakhir tanpa ada yang bicara sedikitpun.

Alex sudah meminta ayah dan bunda nya untuk tidak memberitahukan Jany sekarang. Karena ia berpikir akan menjelaskannya sendiri langsung ke Jany.

Tok
Tok
Tok

Alex mengetuk pelan pintu kamar sebelahnya.

"Udah tidur?" Tanya Alex dari luar namun tidak mendapat jawaban dari dalam ruangan itu.

Sekitar berapa menit Alex menunggu sampai akhirnya pintu itu dibuka dan Alex langsung melihat Jany dari balik pintu itu dengan rambut yang masih basah. Ternyata baru selesai mandi.

Alex berjalan masuk dan langsung menuju ke lemari handuk disudut kamar Jany.

"Duduk sini" suruh Alex yang telah duduk di sofa Jany sambil menyalakan televisi, Jany yang melihat tingkah Alex hanya memutar bola matanya lalu berjalan ke meja hiasnya untuk memakai pelembab.

Alex yang juga melihat tingkah Jany seperti itu langsung berdiri dan menarik Jany untuk duduk.

Alex mengeringkan rambut Jany dengan handuk kecil yang berada ditangannya. Jany yang duduk berhadapan Alex dengan jarak dekat merasakan jantungnya berdetak cepat namun tetap menampakkan wajah lurusnya yang terus menatap Alex.

"Aku tau kamu ingin tau apa yang terjadi" Alex buka bicara sambil terus mengeringkan rambut Jany

"Mm" gumam Jany pelan yang masih sibuk menatap Alex

Alex berhenti dari aktivitasnya dan balas menatap Jany "Tapi waktu aku masih berapa hari lagi untuk kasih penjelasan ke kamu. Jadi, tunggu ya. Percaya aja, aku bakal jelasin semuanya"

Jany menangkap sesuatu yang aneh disini. Dari tadi Alex bicara, ia tidak pernah berbicara menggunakan kata 'kakak' lagi melainkan 'aku'. Biasanya Alex juga menggunakan 'aku' tapi pasti diselingi dengan kata 'kakak'. Jany mengangkat alisnya bingung namun ia tak mau bertanya.

Alex tiba-tiba menarik Jany kepelukannya dan membuat Jany membelalakkan kedua matanya karena kaget.

"Ayah udah tau kalau aku cinta sama kamu Jan. Tapi kamu belum waktunya tau sampai aku nyelesein semua masalah ini" batin Alex

Jany balas memeluk Alex yang notabennya adalah kakaknya namun dihatinya sebagai orang yang dicintainya.

Alex melepaskan pelukan itu, memegang kedua pundak Jany lalu menatap mata itu "Kamu dulu bilang kalau suka sama aku. Apa itu suka sebagai kakak atau sebagai pria?" Tanya Alex terus-terang

Jany terdiam, tidak tau harus jawab apa karena pertanyaan itu tiba-tiba ditujukan untuk dia.

"Kamu harus yakin dulu sama perasaan kamu Jan. Aku ini kakak kamu, yang berarti kalau kamu emang suka sebagai pria, berarti kamu itu suka sama kakak kamu sendiri" jelas Alex sambil tersenyum

Jany menggeleng "Pasti menurut kakak aku adik yang gila. Tapi wajah aku selalu panas kalau deket ka Alex, rasanya darah aku tuh naik kekepala dan maunya sama ka Alex terus....." Jany memikirkan lagi apa yang dia rasakan "Bahkan sekarang jantung aku berdetak 10x lebih cepat kalau sama ka Alex"

Alex tersenyum dan hampir tertawa mendengan penjelasan Jany

"Hanya itu? Kamu bisa aja punya penyakit jantungan Jan atau semacamnya kalo diri kamu kayak yang kamu sebutin tadi. Checkup deh besok" Alex mengacak-acak rambut gadis didepannya itu lalu berdiri dan berjalan menuju pintu kamar Jany.

Sedangkan Jany, yang susah payah menjelaskan apa yang ia rasakan kala didekat Alex langsung mematung tak menyangka apa yang dikatakan Alex barusan.

"Tapi kenapa aku gak pernah bisa lupain ka Alex? Bahkan saat aku di benua lainpun, kakak selalu ada dipikiran aku" Ungkap Jany sambil menunduk

Alex yang mendengar itu tiba-tiba menghentikan langkahnya lalu membalikkan badannya melihat Jany yang masih duduk diatas sofa.

Jany memberanikan diri untuk melihat Alex dan menatap orang yang ia yakini adalah orang yang dicintainya.

"Saat ada Niki disamping aku yang selalu baik dan rela ngelakuin apa aja buat aku, tapi kenapa aku gak bisa nerima dia? Dan malah memprioritaskan ka Alex yang dulu nya masih belum aku yakini apa sebenarnya ka Alex buat aku, sampai aku gak bisa nerima orang lain sebaik Niki? Sampai akhirnya aku kembali ke samping kakak dan tau kalau ka Alex bukan hanya kakak buat aku tapi orang yang selalu aku cintai yang selalu muncul di hari-hari aku" Jelas Jany yakin dengan perasaannya dan ia dan Alex tidak melepaskan tatapan mereka.

Alex masih tidak percaya saja dengan apa yang diungkapkan Jany dulu waktu kejadian ditaman. Namun, sekarang ia yakin bahwa bukan hanya dia yang merasakan perasaan itu, tapi Jany pun merasakannya.

Alex berjalan mendekat ke Jany.

"Aku....aku tau ka Alex pasti mikir aku gak sehat akal, atau kakak mungkin jadi jij----"

Perkataan Jany terhenti saat bibirnya dibungkam oleh bibir Alex lalu alex menariknya untuk berdiri dan memeluknya dengan erat tanpa melepaskan ciuman yang selama ini Alex rindukan.

Bukan ciuman sebatas kakak dan adik seperti dulu saat kecil melainkan sebagai orang yang saling mencintai.

Jany yang awalnya kaget dan memelototkan matanya, perlahan-lahan menutup matanya dan membiarkan Alex menguasai-nya.

Alex melumat bibir manis itu dengan lembut dan mengangkat Jany hingga Jany dengan spontan melingkarkan kedua kakinya ke pinggang Alex. Berusaha menahan tubuhnya disana.

"Rasa anggur" batin Alex sambil tersenyum, yang sadar rasa apa yang ia rasakan dibibir Jany sejak dulu Jany menciumnya sekilas didepan pintu.

Alex membawa Jany ke tempat tidur berwarna kuning dibelakang mereka dan sedikit mengangkat Jany untuk memperbaiki posisi badan gadis itu yang masih berada di ujung ranjang tanpa sedikitpun melepaskan ciuman mereka.

Alex mencium Jany dengan intim karena sekarang Alex dengan buasnya melahap bibir Jany dan mencari-cari dimana lidah Jany berada.

Jany terus menutup matanya dan membiarkan jantungnya memompa dengan gilanya didalam sana dan membiarkan juga rasa panas menjalar di wajahnya. Ia tidak perduli lagi, yang ia tau sekarang Alex menjadi miliknya.

Jany menarik rambut Alex saat Alex mencoba menyium telinganya dan turun kelehernya, meninggalkan markkiss berwarna merah dileher berwarna putih itu.

*****

Like and coment ya ^^
Thx

19.01.17

I LOVE YOU, BROTHER! [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang