Bab12 Akuihla

5 0 0

DENGAN hati-hati Iredir melepaskan diri dari himpitan Gnasi yang tidur satu pembaringan dengannya. Berusaha bangkit tanpa menimbulkan suara. Iredir memandangi Areka dan Gnasi. Sebelumnya dia telah mencampur minuman mereka dengan ramuan tanaman wati sehingga sekarang Areka dan Gnasi tidur sangat pulas. Yakin kalau mereka tidak akan terbangun, Iredir bergegas menuju ke bilik sebelah dimana Ueyr sudah menunggu dengan cemas.

"Kau lama sekali," desis Ueyr, ia dirinya sendiri, bukan Runh.

"Gnasi banyak bicara... sudahlah—dimana ramuannya?" kata Iredir, dalam penyamarannya sebagai Emu Alema.

Ueyr menggoyangkan kendi dalam genggamannya. Ia bermaksud membuka sumbatnya namun Iredir cepat mencegahnya.

"Jangan Ueyr, nanti kau yang malah pingsan. Ayo!"

Dengan lebih hati-hati lagi keduanya bergerak keluar bilik, lalu keluar wesam utama. Bulan bersinar pucat di langit malam yang tak berbintang. Seharusnya malam gelap hutan Dou menjadi menyeramkan kalau tidak ada hal lain yang memenuhi kepala mereka sehingga rasa takut bisa terkalahkan.

Mengendap-endap, Iredir dan Ueyr bergerak menuju barisan wesam belakang. Selalu menolehkan kepala bila ada suara asing. Siapa tahu itu Ideu yang sedang mengecek pesakit, atau lebih parah lagi Gnoi dan Airod. Tetapi mereka tidak berhenti di depan salah satu wesam pesakit. Setelah melewati beberapa wesam pesakit, mereka akhirnya berhenti di depan wesam khusus milik Gnoi dan Airod.

"Siap?" bisik Iredir tanpa suara. Ueyr mengangguk mantap.

Dengan tangan sedikit gemetar Iredir mendorong terbuka pintu wesam khusus Gnoi dan Airod. Pintu itu tidak dikunci, sebagaimana wesam utama. Mencoba sangat perlahan Iredir mendorong pintu tersebut agar derik sekecil apa pun tidak terdengar.

Suasana di dalam wesam sangat gelap. Api tidak dibiarkan menyala. Iredir membiarkan pintu terbuka agar sinar bulan pucat sedikit memberi penerangan bagi mereka.

"Gelap sekali," bisik Ueyr. Ia mencoba menajamkan penglihatannya, berusaha melihat lebih jelas suasana bagian dalam wesam. Kelihatannya tidak ada yang istimewa pada bilik dimana Iredir dan Ueyr kini berada. Di dinding wesam terdapat rak-rak kayu rendah dimana kendi-kendi yang terbuat dari tanah tersusun rapi di sana.

"Dimana mereka?" Ueyr berbisik lagi.

Berseberangan dari pintu tempat mereka masuk tadi, ada dua tirai yang bergoyang tertiup angin malam yang mengembus lewat pintu yang terbuka.

"Kita coba yang ini," kata Iredir, menunjuk tirai di sebelah kirinya. Ueyr mengangguk.

Tirai bilik melambai-lambai. Ueyr meraih perlahan tirai itu dan menyibakkannya lembut. Dengkur pelan dari dalam memberitahu mereka bahwa di dalam ada orang yang sedang tidur.

"Gnoi," bisik Ueyr, mengenali kalung tulang di leher Gnoi yang sedikit memantulkan cahaya pucat bulan. Hati-hati mereka mendekati sosok Gnoi yang mendengkur di atas pembaringan. Iredir mengangguk kepada Ueyr memberitahu bahwa saatnya untuk melakukan rencana mereka. Ueyr balas mengangguk. Dengan sedikit gugup Ueyr membuka sumbat kendi yang sejak tadi digenggamnya sangat erat hingga mengherankan sekali kendi itu tidak pecah. Ueyr sedikit terbatuk ketika asap tipis keluar dari mulut kendi.

"Tahan napasmu," bisik Iredir.

Ueyr menjulurkan tangannya hingga kendi yang dipegangnya menyentuh ujung hidung Gnoi. Cukup lama hingga Gnoi terbatuk.

"Cukup," kata Iredir. "Dia sudah pingsan."

Bagi Ueyr tak ada bedanya apakah Gnoi tidur atau pingsan karena sama-sama memejamkan mata.

Ramuan Racun AsylarunhBaca cerita ini secara GRATIS!