PROLOG

5K 285 38
                                                  

I've never been there,

I have to steal from you when you write

Your beautiful madness

My beautiful grief

Your dreams are my torture

Your dreams my relief



Malam Natal, 2015.


Gadis itu selalu menyukai suasana natal.

Pohon natal. Lagu natal-nya Tony Bennett. Warna merah yang menyilang indah di sudut gereja. Ornamen natal yang menggemaskan. Santa Klaus. Suasana rumah. Dan orang-orang yang dia sebut sebagai rumah menjadi satu melingkari pohon natal, menyanyikan lagu-lagu natal dan bercerita kesana kemari.

Tapi, natal tahun ini berbeda.

Pohon natal entah dimana. Ornamen natal tidak terpasang. Tony Bennett tidak mengeluarkan suara emasnya lewat pengeras suara. Tidak ada rumah. Tidak ada orang-orang yang disebut rumah bernyanyi dan melingkari pohon natal. Hanya ada gadis itu dan kedua adiknya. Bagaimanapun juga, dia masih belajar menerima kenyataan bahwa kedua adiknya adalah sisa "rumah" yang dimiliki, dan harus dijaga.

"Kak," adik bungsunya, Beata, menarik-narik tangannya yang kosong.

Gadis itu menunduk, "Kenapa?"

"Pohon natalnya gede banget ya, kak?" katanya, menunjuk pohon natal setinggi hampir 3 meter yang terletak di sebelah altar gereja. Mata Beata merekah lebar, lalu ia berkata lagi, "Kenapa sekarang kita nggak pasang pohon natal sih, kak?"

"Besok kita pasang, ya." Jawabnya, jelas berbohong. Mereka tidak lagi memiliki pohon natal.

Adiknya yang tengah, Ben, memandang jengah dan melirik Beata. "Kita udah nggak punya pohon natal, Be. Pohon natalnya ketinggalan di rumah yang lama."

"Ben," katanya menyela.

"Bisa kita ambil, nggak? Kita ambil besok gimana?" Beata mengerutkan kening, "Ya, kak? Kak Lana sama Kak Ben yang angkat nanti ade bantu bawa hiasannya aja. Ya?"

Alana menghela napas.

Kalau boleh jujur, dia benci percakapan seperti ini.

"Bea," Alana mensejajarkan matanya dengan mata adiknya, "Besok kita beli pohon natal yang baru aja, ya?"

"Memang kakak punya uang?" Ben, yang memang tahu mengenai keadaan keluarganya dan yang jelas tidak bisa berpura-pura, mulai memberondongi Alana dengan berbagai pertanyaan. "Memang kakak ada uang buat beli pohon natal? Pohon natal kan mahal? Yang kecil aja tiga ratus ribu. Kakak mendingan pake uangnya buat beli telor sama indomi sekardus, biar kita nggak bingung mau makan apaan."

Alana menahan napas, ngilu sendiri mendengar perkataan adiknya. Setidaknya, diantara mereka bertiga, Ben adalah orang yang paling benci dengan keadaan mereka sekarang. Alana juga benci keadaan mereka yang sekarang, tapi entah kenapa Ben tidak pernah bisa pura-pura bahagia dan berbohong di depan Beata. Selama ini, mati-matian Alana berusaha memakluminya. Benardo masih empat belas tahun.

"Kakak usahain bisa beli pohon natal." Jawab Alana, "dan Ben-bicaranya jangan keras-keras. Sebentar lagi misa-nya mulai."

Kedua adiknya terdiam saat itu juga, lalu pandangan mereka terfokus pada altar gereja yang malam ini penuh dengan rangkaian bunga warni-warni. Di sisi kanan altar terdapat pohon natal setinggi 3 meter dengan ornamen dan lampu kedip lengkap, lantas di sebelah kirinya terdapat bayi Yesus di dalam palungan.

BEAUTIFUL MADNESSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang