Bab 1| Just Mai, please..

149K 4.6K 173

Sebenarnya rencana hidupku itu mudah dan tidak neko-neko. Beneran..

Aku ingin menyelesaikan kuliahku dalam waktu 4 tahun, dapat cum laude kalau bisa. Selanjutnya bekerja, kemudian menikah.

Aku ingin punya anak pada saat masih muda. Seru kan ya, kalau tidak terpaut jauh jarak usia dengan anak, jadi kayak teman gitu.

Kalau sudah punya anak, aku akan berhenti bekerja dan memulai bisnis sendiri.

Udah deh, mendidik anak di rumah dan berdekatan dengan suami setiap hari.

Hidup yang sempurna menurutku.

Tapi yang aku tidak tahu, kadang semua tidak selalu berjalan sesuai harapan. Kadang kenyataan menyakitkan.

Dan..

Kadang, ujian seperti berteman dekat, mengikuti, disetiap langkah.

Saat itu, hanya kepada-Nya tempatku kembali.

This is my story.

=======

Ada berapa banyak orang yang memiliki 1 kata sebagai namanya?

Tidak banyak mungkin, dan aku adalah salah satunya. Ayah bunda memberiku nama Humairoh, hanya Humairoh.

Harusnya mereka memberiku nama dengan 3 kata, sehingga memudahkan untuk membuat paspor umroh atau haji. Well, lupakan saja.

Kenapa Humairoh? Aku pernah bertanya kepada bunda. Padahal mereka asli Palembang. Akupun lahir dan besar di kota pempek ini.

Kata bunda, karena itu adalah nama kesayangan yang diberikan oleh Rasulullah shalallahhu 'alaihi wassalam kepada istrinya, Aisyah.

Bunda berharap, aku bisa menjadi shalihah dan cerdas seperti Aisyah. Nah.., beban yang berat pada namaku yang hanya 1 suku kata.

Kalau ditanya, namanya siapa? Aku akan menjawab Humairoh.

Nama panggilannya? Humairoh.

He he, kata bunda, jangan dipenggal namanya, karena artinya akan berbeda

Tapi itu dulu. Sejak aku menginjak bangku kuliah, nama itu tidak berlaku lagi. Kok bisa? Karena seniorku dikampus dengan semena-mena menyingkat namaku. Terlalu panjang, kata mereka, ribet manggilnya.

Humai? Mai? Iroh? Mairoh?

Aku memilih Mai, terdengar cukup manis kan yah, sebelas duabelas lah sama orangnya, he he..

"Mai!"

Aku menoleh, tersenyum pada sahabatku, Sinta.

Ketika pertama kali bertemu, kami seolah-olah mengalami dejavu. Tahu kan ya dejavu, seperti kilas balik masa silam. Rasanya kami pernah bertemu pada suatu waktu, dulu, tapi kami tidak tahu kapan dan dimana.

Setelah kami cari-cari lebih jauh, hidup kami tidak pernah bersinggungan. Aneh..? Ha ha, tidak juga.

Aku pernah membaca, bahwa saat manusia masih didalam kandungan, ia telah diperlihatkan jalan hidupnya. Jadi saat kita mengalami dejavu, mungkin itu adalah sisa-sisa ingatan kita pada waktu masih dalam perut ibu.

Well, percaya nggak percaya. Tapi sejak saat itu, kami menjadi sahabat yang tak terpisahkan.

"Kenapa Sin?" tanyaku masih mengunyah mi goreng yang baru aku pesan di kantin kampus.

"Di cari sama senior tuh." jawabnya

"Siapa? Nanggung nih, lagi makan." aku sedang menikmati makan siangku, 15 menit lagi aku ada kuliah Kalkulus.

Dearest Mai (Insya Allah akan dinovelkan, beberapa bab Unpublished]Baca cerita ini secara GRATIS!