Bab 1| Just Mai, please..

Mulai dari awal

Paling males berurusan dengan senior, ada saja tugas yang mereka berikan. Padahal masa OSPEK sudah berakhir 1 bulan yang lalu.

"Da Raka." Singkat Sinta.

Ampun, ngapain juga harus berurusan dengan senior satu ini. Seksi marah-marah pas OSPEK dulu. Kerjanya ngasih hukuman ke junior.

Senior selalu benar, itu hukum yang berlaku.

"Males banget, Sin." Aku memasang muka memelas, "Bilang aja aku ada kelas gitu." Emang sih aku ada kelas, 15 menit lagi.

"Ogahhh.., bilang aja ndiri. Tuh orangnya kesini"

Otomatis kepalaku menoleh ke arah yang ditunjukkan Sinta. Ampunnn, beneran dia datang kesini. Kok bisa tahu sih kalau aku lagi nongkrong di kantin.

"Hai Mai." Sapa Da Raka manis saat sudah tiba di kantin, dia mengambil duduk di hadapanku

"Iya Da, ada perlu apa ya mencari saya?" Tanyaku berusaha sopan, walau mangkel.

"Ha ha.., santai Mai, ngga perlu formal gitu, OSPEK kan udah selesai."

Selesai sih selesai, tapi masih membekas sampai ke hati yang paling dalam. Aku masih ingat waktu itu di kerjain sama Da Raka sampai nangis.

Dulu kupikir kerudung yang melekat pada kepalaku bisa membuat para senior sedikit bersikap manis saat OSPEK, ternyata aku salah besar.

Huh, aku malas mengingat kembali saat-saat OSPEK.

"Ada kuliah Mai?" tanya Da Raka.

"Ada Da, sebentar lagi masuk. Ini Mai sama Sinta mau ke kelas."

Alhamdulillah, untung saja ada kelas. Aku tidak pernah sebahagia ini masuk kelas Kalkulus.

"Habis kuliah ke sekre yah."

Kalimat itu berarti perintah, artinya, habis kuliah, kamu HARUS ke sekre, tidak ada alasan.

"Insya Allah, Da." Hanya itu yang bisa aku katakan, ngga mungkin kan aku bilang, kayaknya ngga bisa deh, aku banyak urusan. Cari mati namanya.

===============

Ini adalah kelas Kalkulus tercepat sepanjang sejarah. Kenapa sudah habis sih kelasnya, aku malas harus ke sekre setelah kelas selesai.

"Sin, temenin yaaaahh." Rayuku, "Kamu baik dehh, entar aku jajanin bakso."

"Jiahhh, bakso mah aku bisa beli sendiri kali." Rayuanku nggak mempan.

"Takut, Sinn.." Rayuku lagi

"Da Raka nggak gigit juga kalii, ganteng malah."

"Dari Hongkong?"

"Haha, udahlah Mai, palingan disuruh ngerjain tugas kuliah."

Aku mendengus kesal pada Sinta.

"Jangan pulang dulu ya, tungguin." ancamku pada Sinta

Akhirnya aku melangkahkan kaki menuju sekre. Bismillah.

Aku sudah bilang belum? Aku kuliah di fakultas teknik, disalah satu universitas negeri di kota Padang. Betul sekali, kota Padang. Kenapa aku tidak memilih kuliah di kota kelahiranku, Palembang? Sebut saja takdir, karena aku memilih universitas ini ketika SPMB

Kotanya juga tidak terlalu jauh dari kota kelahiranku, dan aku sudah lama mendambakan bisa kuliah di jurusan teknik industri, kenapa? Nanti aku ceritakan ya.

"Assalamu'alykum." Aku mengucapkan salam saat masuk ke sekre, tertulis di dindingnya Badan Eksekutif Mahasiswa Teknik.

"Wa'alaykumussalam."

Dearest Mai (Insya Allah akan dinovelkan, beberapa bab Unpublished]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang