*Psst* Notice anything different? 👀 Find out more about Wattpad's new look!

Learn More

Di Dalam Danau

3.4K 408 36

"Matilah kau di tanganku."

Aku memejamkan mata pasrah dan benar saja sesuatu telah menembus tepat bagian ulu hati dengan menyakitkan. Terasa membakar saat ia menghujamkannya semakin dalam. Aku memekik pelan menahan nyeri dan perih. Energiku terkuras seketika dan aku terkulai lemas. Rasanya aku ingin menampar diriku sendiri dan berharap aku akan terbangun dari mimpi buruk ini. Aku membuka mata perlahan dan menatap Axcel dengan pandangan yang kabur. Aku tidak melihat ekspresi apapun diwajahnya, hanya tatapan kebencian yang terpancaran dari matanya.

Axcel mencabut kembali benda yang dihujamkannya ke tubuhku dan membuat tubuhku mengejang. Aku tersungkur ditanah sambil memegang lukaku sementara Axcel mulai beranjak pergi tanpa mengatakan sepatah katapun.

"Axcel," lirihku.

Ia pergi begitu saja tanpa menyahut panggilanku. Suasana menjadi hening seketika setelah Axcel beranjak pergi. Kini hanya aku seorang diri yang tergeletak tak berdaya diantara jajaran pohon yang menjulang tinggi. Aku menatap langit temaram diatas sana dengan hampa seiring dengan matinya perasaanku, kini yang tertinggal hanyalah rasi sakit yang semakin mejalar dan aku mulai kedinginan—sendirian ditempat ini.

Aku belum kehilangan kesadaranku sepenuhnya dan aku merasa ada seseorang yang memangku tubuhku. Ia memelukku erat dan membenamkan wajahnya dileherku. Ada sesuatu yang sedingin air hujan menetes diantara wajahnya dan membasahi leherku. Aku mencoba menggerakan tanganku dengan kesadaran yang tersisa dan membuka mata, tapi sepertinya aku sudah terlalu lemah untuk itu. Aku hanya memberikan kode dengan sedikit erangan agar ia tahu bahwa aku belum sepenuhnya mati. Bisa dibilang aku masih dalam kategori sekarat level satu dan sebentar lagi aku mendekati sekarat level dua maka aku akan lebih lemah dari ini.

Ia mulai mengangkat wajahnya perlahan dan menatapku dengan wajah yang sudah basah oleh air matanya. "Katakan sesuatu," bisiknya.

Aku mengenali suara itu meskipun aku tidak melihat wajahnya dan itu sedikit membuatku lega. "Felix."

"Aku bukan Felix," jawabnya. "apa kau tidak mengenaliku?"

Aku sedikit mengerutkan kening. Rasanya aku ingin sekali mengatakan 'Aku bisa mengenali suaramu, jadi jangan berbohong untuk menakut-nakutiku', tapi aku hanya membuka mulut tanpa bisa mengucakan sepatah katapun.

Ia menggenggam jemariku dan menuntun tanganku untuk menyentuh pipinya yang sedingin hujan di malam hari. Aku bisa merasakan wajahnya yang basah oleh air mata tapi jelas yang kusentuh ini adalah Una.

"S-siapa?" bisiku sekuat tenaga.

"Ini aku, Alex."

Keningku kembali berkerut. Apakah dia tidak tahu jika saat ini aku bukan Karin?

"Kenapa kau selalu membiarkan dirimu dalam bahaya? Ada apa denganmu? Kau selalu saja seperti ini. Bisakah kau tidak untuk bertindak sembarangan? Kenapa kau—" ucapannya terhenti lalu mebelai wajahku. "kau bahkan tidak memperdulikan dirimu sendiri dan kau sekarat untuk kesekian kalinya."

"Maaf." Hanya itu yang bisa kukatakan sebelum kesadaranku semakin menipis.

Alex menempelkan dahinya kedahiku dengan gemas dan ia perlahan mengecup bibirku sejenak. Kecupannya tidak ada bedanya dengan kecupan Felix. "Kali ini aku tidak akan memaafkanmu."

Alex mengangkat tubuhku dan membawaku entah kemana, tapi aku mencium aroma air dan aku bisa langsung menebak bahwa ia membawaku ke danau tempat dimana aku tadi terjatuh.

"Kali ini aku akan menghukummu." Alex membaringkanku kedalam air.

Tubuhku langsung mengendap kebawah hingga punggungku menempel kedasar air. Gelap, hanya tu yang bisa kulihat, tapi disaat yang bersamaan aku melihat cahaya kecil yang semakin membesar. Cahaya itu menjadi sosok gadis yang mirip denganku namun lebih sedikit tampak dewasa. Karin, itulah yang terlintas dalam pikiranku tentang dirinya.

Loizh III : ReinkarnasiBaca cerita ini secara GRATIS!