Aquine menatap sendu rerumputan dihadapannya. Tanpa sadar Aquine mendudukan dirinya di atas rerumputan tersebut. Pandangannya menyapu ke sekitarnya, terlihat beberapa remaja laki-laki yang tengah bermain bola di hadapannya. Saat ini sama seperti tiga tahun lalu, ketika Aquine pertama kali berjumpa dengan Dia. Aquine mengambil secarik kertas dari dalam tasnya sembari dihirupnya pelan-pelan udara Milan, tangan kanannya mengambil sebuah pena. Dengan berat hati dan rasa rindu yang mendalam, Aquine akan menuliskan cerita singkat tentang patah hatinya, di Milan, di atas rerumputan ini.
***
Angin membelai rambut seorang gadis yang sedang membaca buku di hamparan rumput luas. Ini hari pertamanya sampai di kota yang penuh dengan hal-hal romantis, Milan. Gadis itu berasal dari Indonesia, darahnya tercampur dengan darah Irlandia dari ayahnya, membuat kulit Aquine begitu putih dan pucat bak pualam. Rambutnya bergelombang berwarna hitam, jatuh dengan indah hingga pinggangnya. Matanya yang berwana hazel, membuatnya tampak begitu cantik dan menarik diantara wanita-wanita di Milan ini. Jarinya yang lentik berulang kali membalik halaman bukunya, sembari memikirkan tempat-tempat wisata yang akan didatanginya selama berlibur di sini.
Aquine sudah tertarik dengan Milan sejak beberapa bulan yang lalu, hanya saja impian mendatangi kota itu baru terwujud sekarang. Di sinilah gadis itu berada. Taman Parco Sempione yang sedang diterangi oleh sinar matahari pagi. Taman itu begitu menyejukkan di pagi hari, dan begitu menawan di malam hari. Di sekelilingnya, orang-orang tampak sedang berpiknik, ada pula yang sedang bersenda gurau bersama pasangannya, mungkin.
Gadis itu tersentak dan menjerit tertahan ketika sebuah bola berukuran kecil terbang melewati dirinya, dan berhenti saat menabrak pohon besar yang ada di sampingnya. Untung saja Aquine tidak bersandar pada pohon itu. Jika dirinya sudah bersandar, bisa dipastikan bola itu akan menabrak tubuhnya, atau lebih-lebih kepalanya.
Seorang laki-laki berjalan cepat ke arah Aquine, sedangkan gadis itu dengan baik hati mengambil bola yang berada tepat di dekat kakinya itu. Wajah laki-laki di depannya itu tampak lega, mungkin takut jika Aquine terkena bolanya.
"Ini bolanya. Lain kali hati-hati," ujarnya dengan menggunakan bahasa Indonesia. Tidak sulit bagi Aquine untuk mengetahui bahwa laki-laki dihadapannya berasal dari Indonesia.
"Maaf ya. Kamu beneran gapapa?" tanyanya. Tak dikira suara laki-laki ini mengalun dengan lembutnya. Aquine hanya mengangguk dan tersenyum. "Siapa namamu?" tanyanya lagi.
"Aquine Arabella. Kamu?"
"Devian Abraham." Tangannya teracung untuk menjabat gadis di hadapannya itu. Gadis itu, Aquine membalasnya.
***
"Jadi kamu liburan ke sini?" Kali ini, Aquine dan Devian sedang berjalan ke luar dari area taman. Sebenarnya, Aquine tidak merasa canggung dengan Devian, berhubung dirinya baru kenal dengan laki-laki yang sekarang sedang berjalan di sampingnya. Di samping Devian, Aquine merasa aman. Entah kenapa.
"Dev, kamu juga kenapa bisa di sini? Pasti bukan liburan kan. Aku tadi liat kamu akrab banget sama temen-temenmu yang udah kelihatan asli sini." Kini, giliran si perempuan yang bertanya.
"Aku kuliah di sini. Karena kamu turis di sini, mau aku temani ke Katedral?" Aquine mengangguk penuh semangat. Tujuan gadis itu yang kedua adalah berjalan-jalan di sekitar Katedral.
Bersama Devian yang tiba-tiba berubah menjadi pendamping wisatanya, Aquine menikmati tempat-tempat luar biasa di Milan. Indah dan begitu menawan. Mereka tertawa bersama. Cukup akrab dalam kategori teman baru. Namun, mereka tidak peduli pada situasinya.
ESTÁS LEYENDO
MILAN
Romancekau tahu apa yang menyakitkan dari cinta pertama? Pertama kali aku jatuh cinta Dan aku dijatuhkan sedalam-dalamnya sampai akhirnya retak, hancur, dan lebur Mengapa? Karena aku ... jatuh sendirian. Catatan: Cerita ini dipost di @fwc1112 Cerpen duet...
