6 - Sendal Jepit Merah Muda 1

Mulai dari awal

"Iss, songong!" Gumam Metta di belakang langkah Raga.

Saat sampai di parkiran, Metta sedikit bingung ketika tidak menemukan motor Raga di sekitar sana. "Lo kesini pake apa? Motor lo mana?"

Raga yang sepertinya sudah mahir mengabaikan Metta tidak terlalu ambil pusing.

"Lah gue nanya. Lo naik apa-- shitt!"

Metta lekas menutup mulutnya dengan tangan yang tidak menenteng sepatu. Cewek itu perlu mengerem langkahnya sendiri dan menyembunyikan keterkejutan kala Raga merogoh saku dan membuka kunci sebuah mobil sport yang sangat mencolok di parkiran itu.

"Lo punya mobil?" Tanya Metta tidak percaya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Lo punya mobil?" Tanya Metta tidak percaya.

Raga berdiri samping pintu kemudi. Wajahnya terlihat tersinggung. "Kenapa itu harus jadi hal yang mengejutkan?"

Belum sempat Metta menjawab, Raga sudah terlebih dulu masuk ke dalam mobilnya.

Metta menghampiri sisi pintu penumpang dan menunduk. "Lo gak bukain pintu buat gue?"

Kaca yang semula tertutup kini turun hingga Metta bisa melihat Raga sudah duduk dengan gagah di belakang kemudi. Membuatnya meneteskan air liar. Secara harfiah.

"Gak."

"Iss..." Metta bercebik kesal. Tersadarkan akan sikap menyebalkan Raga. Ia kemudian membuka pintu penumpang setelah sebelumnya menendang asal roda depan mobil itu.

***

"Lo punya mobil?" Tanya Metta lagi saat tidak seberapa jauh mereka meninggalkan kawasan apartement.

Raga menoleh padanya sesaat. "Bukan mobil gue."

"Jadi mobil siapa?"

"Penting banget emang buat lo tau?"

"Penting," Metta berpaling penuh ke samping. "Karena bakalan aneh banget kalo bener ini mobil lo tapi tiap hari lo ke sekolah naik motor."

"Dan apa yang salah sama motor gue?"

"Ya enggak sih. Motor lo oke. Tapi mobil ini,"

"Cukup. Kita mulai aja perjanjiannya," Potong Raga. "Apa yang lo mau sekarang?"

Pertanyaan kesukaan Metta. "Gue mau lo berhenti nolak gue."

"Apa sekarang gue keliatan nolak?"

Metta tersenyum lalu menggeleng. "Enggak."

"Jadi gue rasa udah seharusnya lo nutup mulut."

Metta cukup cerdas untuk tahu apa yang sedang Raga bicarakan. "Tergantung,"

"Tergantung?"

Metta menyukai situasi ini. Cewek itu melepas sendalnya dan menggantinya dengan high heels. "Selama lo memperlakukan gue dengan baik dan ngelakuin semua keinginan gue, orang-orang gak bakal tau kalo lo seorang petinju."

SIN [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang