6 - Sendal Jepit Merah Muda 1

Mulai dari awal

"Sialan. Ya jelas lah dia mau. Lebih tepatnya gak bisa nolak." Metta mengambil gantungan baju lagi di dalam lemari dan meletakkannya di kursi meja rias.

"Maksudnya? Kok dia jadi gak bisa nolak?"

Metta tersenyum. "Ada lah. Gak perlu tau lo. Yang jelas sebentar lagi itu cowok bakalan ngemis ngemis di kaki gue. Like other fool guys we meet aja gimana."

"Ya ya ya bitch, serah ya. Yang jelas ati-ati."

Metta sudah meloloskan celana pendeknya turun. "Ati-ati apaan?"

"Ati-ati saat lo lagi main perasaan."

"Maksud lo apa, nying?" Harus berusaha sedikit lebih banyak baginya untuk memasang celana hitam ketat itu dan tetap mendengarkan Lala.

"Saat lo udah main hati, lo cuma punya dua pilihan. Nyerahin hati lo sepenuhnya buat disakitin, atau menangin hatinya buat lo kuasain."

Metta mendengus. "Bukannya selama ini gue selalu ngelakuin yang nomor dua. Gue kuasiin mereka semua."

"Justru itu. Jangan sampe sekarang lo terjebak yang sebaliknya. Kelakuan kita emang bitchy ya, Met. Tapi bitchynya kita ini buat ngasih pelajaran sama cowok-cowok brengsek. Dan gue gak liat itu di diri Raga."

"Semua cowok itu brengsek, La. Kalopun ada yang baik, dia cuma belum sadar aja kalo dia brengsek."

Terdengar gerungan kesal Lala yang membuat Metta kembali memutar mata. Pasalnya, Lala menjadi sangat cerewet ketika sudah berlagak memberi nasehat begini untuk Metta. Ia tidak butuh nasehat sama sekali.

"Ngomong lo udah kaya orang bener tau gak. Udah ah. Sibuk gue. Bye."

Setelah meloloskan kaos berwarna putih longgar melewati kepala bel apartementnya berbunyi. Membuat Metta dengan cepat berlari ke depan dan membuka pintu tanpa mengecek siapa yang datang.

Jika boleh jujur, Metta terpaku beberapa saat di kakinya. Mengedipkan mata tiga kali dan meneguk air liur. "Raga?" Tegurnya.

Cowok itu melihat jam di tangannya dengan tidak sabar. "Cepetan!"

"Eh, gue belom-" Kalimat Metta berakhir menggantung karena Raga sudah berbalik pergi meninggalkan pintu apartementnya. Metta membelalak. Mengakhiri proses berpikir di dalam kepala, cewek itu dengan gesit berlari ke dalam mengambil tas serta high heels hitam bertali. Buru-buru menghampiri Raga yang sudah berdiri menunggu di depan lift.

"Gini ya. Gue kasih tau sama lo. Kalo ngajakin cewek jalan itu, ya pake basa-basi apa kek. Ini gue belom sempet beresin make up segala macam main nyelonong gitu aja."

Raga menoleh. Memperhatikan sesaat Metta dari atas sampai bawah. Cewek itu masih mengenakan sandal jepit merah dan menenteng sepatu. "Lo lama. Manja banget pake minta dijemput ke atas segala."

"Karena gue tau lo gak akan nungguin gue kalo di bawah."

Raga hanya diam. Membuat Metta kembali bicara. "Lo gak tau legenda cewek yang perlu waktu banyak buat dandan?" Ucap Metta seraya mengikuti langkah Raga memasuki lift. Cowok itu menekan tombol basement menuju parkiran sehingga pintu lift tertutup.

"Lo gak tau legenda cowok yang gak sabaran?" Sahut Raga setelahnya.

Metta menyeringai. Ia memalingkan wajahnya ke arah Raga hingga rambutnya jatuh ke sisi kanan. Gerakan tiba-tiba Metta itu disambut dengan kernyitan di dahi Raga.

"Lo gak sabaran yang kayak gimana? Gue juga gak sabaran lho. Untuk hal-hal tertentu. Misalnya -"

Raga meraup wajah Metta dengan satu tangan dan mendorongnya. "Jauh-jauh muka lo." Tepat setelahnya, pintu lift terbuka.

SIN [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang