4

80 34 11

Pagi yang indah, matahari begitu cerah. Burung-burung berkicau riang, serta hembusan angin yang membuat suasana senyaman mungkin.

Hari ini, Aku berniat berjalan-jalan mengelilingi taman komplek dekat perumahanku. Disana banyak sekali orang-orang yang berjalan santai sepertiku.

Mulai dari orang tua yang membawa anaknya bermain bersama, bercanda bersama hingga jajan bersama.

Ku telusuri taman komplek yang indah ini dengan pemandangan yang tak akan mengecewakan.

Ku lihat sekelilingku, mereka semua berbahagia. Bibirku membentuk lengkungan dengan sendirinya.

Tatapanku berhenti pada sesosok laki-laki yang sedang duduk dibangku taman sendirian.

Seakan mengenali, -batinku

Laki-laki itu menoleh kepadaku, kulirik ia memicingkan matanya dan mulai menghampiriku.

Aku terdiam tidak menyadari apa yang telah terjadi, seketika Aku tersadar dan mengetahui bahwa ia telah mengawasiku sembari berjalan ke arahku.

"Anaa." sapanya tersenyum penuh hangat.

"Apa?" sahutku ketus

"Lagi ngapain disini? Tumben banget." ucap Rey.

"Bukan urusan lo."

Ku balikan tubuhku untuk segera bergegas pergi meninggalkannya, namun sebelum ku beranjak ia telah menahan lenganku.

"Mau ngejauh lagi?" tanyanya membalikan tubuhku kembali.

"Kenapa?"

"Stop ngebenci gue naa." keluhnya.

"Gua gak pernah benci sama lo."

"Tapi lo ngejauh naa."

"Gua gak ngejauh."

"Lo kenapa si?!" tanyanya.

"Gua gapapa." sahutku membuang muka.

"Lo bohong!" Dengusnya.

Ku tatap matanya, "Gua kecewa sama lo."

"Maaf, Naa. Gua gak niat bikin lo kecewa."

"Lo buat gua hancur untuk kedua kalinya. Apa belom cukup?" ceplosku.

"Gua gak niat bikin lu kaya gitu, Na." ucapnya. "Please percaya sama gua."

"Gua gak bisa percaya lagi sama lo."

"Kenapa?"

"Kenapa? Lo nanya kenapa? cih!" ucapku emosi.

"Iya, kenapa?!" sahutnya meninggikan beberapa oktaf suaranya.

"Lo sadar gak sih? gua pernah sangat percaya sama lo tapi lo ngecewain gue. Lo minta kesempatan kedua untuk buat kepercayaan gua balik lagi, tapi nyatanya setelah semua terjadi lo ngecewain gua untuk kedua kalinya."

"Naa, lo salah paham!"

"Posisi mana yang menurut lo gua salah paham? Diposisi ketika lo putusin gue dengan alasan ada orang yang lebih lo sayang. Itu menurut lo?"

"Naa, dia itu bukan siapa-siapa gue. Gua sama dia cuma temen gak lebih."

"Tapi lo mutusin gue karna dia, gua yakin lo gak pernah lupa akan hal itu."

"Naa, kenapa sih lo,--"

"Udahlah, emang awalnya gak seharusnya gua jatuh hati sama lo."

"Tapi kenapa?"

"Karena gua lebih bahagia tanpa lo, gua udah terbiasa tanpa lo. Dan hilangnya hadir lo itu mempermudah segalanya."

"Apa gak bisa lo balik lagi ke gue? Gua bener-bener nyesel." ucapnya merasa bersalah.

"Penyesalan emang dibelakang, dan ini semua jalan yang udah lo pilih."

"Tapi gua mau lo balik lagi ke gua."

"Gua gak bisa."

"Kenapa?"

"Hati gua udah tertutup untuk lo."

"Apa gak ada celah sedikitpun untuk gua memperbaiki segalanya?"

"Ibarat baca buku berulang kali, meskipun buku itu buku favorit gue tetep aja gua udah apal sama endingnya. Gaakan pernah berubah, tetap sama. Mengecewakan."

"Sebenci itu lo sama gue?"

"I dont know, I just think became everything has an End." sahutku. "Not change."

"Gua ngerasa jadi orang paling jahat karena udah ngecewain seseorang yang tulus sama gua untuk kesekian kalinya." ucapnya membuang muka.

"Lo bisa bahagia (tanpa) gua." sahutku meninggalkan dirinya yang mematung.

Entahlah, mungkin dengan seperti ini akan bisa membuatnya sadar.

Sedikit sedih ketika mengatakannya namun apa boleh buat? Ini udah tekad bulatku.

-------------------------------------------------------------

3/1/2017
Vote nd coment.

Dibalik Sebuah AlasanBaca cerita ini secara GRATIS!