5 - Kesempatan

108 36 11

Bagas berjalan menuruni tangga. Ia baru saja pulang dari bermain basket di lapangan buatan dibelakang rumahnya. Saat ini, ia sudah berganti dengan pakaian santainya.

Ia menghampiri kedua orang tuanya yang berada diruang keluarga---sedang asik mengobrol. Sesekali gelak tawa keluar dari keduanya.

Bagas duduk disofa sebelah Melin tanpa menoleh pada kedua orang tuanya. Ia bersandar memejamkan mata mencari ketenangan yang sedang dibutuhkannya.

"Kak?" suara Melin memaksanya membuka kedua matanya. Ia menoleh kearah Melin dengan sebelah alis yang diangkat.

"Mamah mau bicara sama kamu. Dan Ayah..." ujar Melin menggantung.

"Ayah juga mau bicara." potong Delen dengan raut wajah yang dingin.

"Kenapa?"

"Mamah sama Ayah mau pergi ke luar negri mengurus perusahaan Ayah yang lagi ada masalah di sana." ujar Melin menatap Bagas. "Kamu gak apa-apa kan ditinggal?"

"Gak apa-apa." sahutnya. "Ayeen ikut?"

Melin menggeleng, "Enggak. Dia disini, sama kamu."

Bagas mengangguk saja. Kemudian beranjak menuju dapur untuk mengambil minum. Masalah seperti ini sudah biasa di dengarnya. Obrolan tentang kedua orang tuanya yang harus pergi karena urusan pekerjaan dan meninggalkannya di rumah.

Langkah kaki Bagas terhenti di ambang perbatasan ruang keluarga dan dapur saat suara Delen mengintrupsi.

"Ayah tunggu kamu di ruang kerja."

Bagas terdiam kemudian tak lama ia mengangguk. Ia melanjutkan jalannya menuju dapur, membuka kulkas dan mengambil minuman kaleng bersoda.

Ia berdiri bersandar pada dinding dapur yang menghalangi ruang keluarga. Membuka minum dan menegaknya. Ia memejamkan matanya, meresapi segalanya yang dirasa.

Kadang kala, ia merasa sepi. Orang tua ia ada. Tapi tidak dengan kebersamaannya. Ia pun heran, mengapa semua pekerjaan harus dilakukan oleh diri sendiri sedangkan disetiap cabang sudah ada yang mengurus.

Ia menghela napas lelahnya kemudian beranjak dari dapur saat minuman kaleng itu sudah habis ditenggaknya.

Ia berjalan melewati ruang keluarga yang masih ada Melin disana. Melin menatap Bagas sendu seakan menguatkan setiap yang akan dialami nanti. Bagas hanya menghiraukannya saja dan terus berjalan menghampiri Ayahnya.

*****

Pintu berdecit pelan dan masuklah Bagas ke dalam ruangan kerja milik Ayahnya.

"Duduk, nak." ujar Delen pelan tanpa menatap Bagas. Pandangannya masih tertuju pada berkas dihadapannya.

"Ada apa?" Bagas duduk berhadapan dengan Delen. "Mau marah lagi?"

Delen mendongak menatap Bagas yang menatap dirinya datar tanpa ekspresi apapun. Padahal posisi mereka adalah seorang Ayah dan anak.

"Jangan pernah bahas itu lagi." ujar Delen menyandarkan tubuhnya. "Ayah panggil kamu bukan untuk membicaran hal yang sudah berlalu."

"Kenapa?" tanya Bagas mengeryit. "Takut semakin di benci sama anaknya?" Bagas tersenyum miring.

"Bagas!" tegas Delen. "Saya sudah bilang jangan pernah bahas masalah itu lagi."

"Dia sudah bahagia hidup bersama kita. Gak ada lagi yang perlu kamu permasalahkan."

"Tentu ada." elak Bagas. "Kasih sayang Ayah sama dia itu beda. Apalagi sama Bagas."

"Ayah lebih sayang Ayeen daripada Bagas. Ayah lebih memprioritaskan Ayeen daripada Bagas. Semuanya hanya Ayeen dan bukan Bagas." ujar Bagas menatap tajam Delen.

Delen memijat pangkal hidungnya. Ini tentu bukan kesalahan Bagas, ini adalah salahnya. Tapi bagaimana pun mereka semua sama, mereka anak Delen.

"Maaf." ujar Delen. "Maaf kalau kamu merasa Ayah lebih menyayangi Ayeen. Maaf jika kamu merasa tersingkirkan."

"Tapi tolong, jangan pernah membenci Ayeen." Delen menghembuskan napas beratnya.

"Bagas gak pernah benci sama Ayeen. Bagas justru sayang sama dia sebagai adik Bagas." sahut Bagas membuang pandangannya.

"Yang Bagas gak habis pikir, Ayah gak pernah ada waktu buat Bagas. Tapi kalau untuk Ayeen, Ayah selalu mengusahakannya." Bagas melirik Delen yang sedang memejamkan matanya.

Delen terdiam. Ia juga merasakan apa yang dirasakan anaknya. Ia tahu betul rasanya seperti bagaimana. Kalau sudah seperti ini, dapatkah semuanya kembali seperti semula?

Delen membuka kedua matanya dan menatap sendu Bagas. "Bisa beri Ayah kesempatan?"

"Kesempatan untuk apa?" tanya Bagas mengeryit. "Kesempatan untuk mengulang kesalahan yang sama?"

"Bagas!" suara Delen menggeram. "Ayah hanya ingin memperbaiki segalanya. Hubungan kamu dengan Ayah, dan juga dengan Ayeen."

"Ayah tahu, kamu selalu merasa sepi. Kamu merasa sendiri, padahal kamu punya kami. Maafkan kesalahan Ayah yang sulit untuk kamu beri maaf."

"Tapi tolong, beri Ayah kesempatan agar kamu bisa menganggap Ayah sebagai Ayah yang kamu mau." ujar Delen lirih. Ia menunduk menopang kepalanya. Hatinya sakit saat tau akibat dari perbuatannya. Ia dan anaknya semakin menjauh.

Bagas menatap iba Ayahnya. Tapi ego nya lebih tinggi. Ia berdeham pelan, "Bagas kasih kesempatan buat Ayah."

Kemudian beranjak dari kursi dan pergi dari ruangan itu. Delen menatap putranya dengan tatapan rindu kebersamaan yang hilang. Ia menyesal.

Dan tanpa mereka berdua sadari. Sedari semua berbincang, ada seseorang yang menguping semua pembicaraan mereka.

Orang itu bersembunyi dibalik pintu yang terbuka sedikit, namun berpindah saat Bagas keluar ruangan.

"Maaf."

-----

Iyaaa namanya juga baper wkw eh apasih?

Jangan lupa voment yaaa

3.8.18

I LOVE YOU A LOTBaca cerita ini secara GRATIS!