Part 5: unwanted Memory

Mulai dari awal
                                                  

Teriakan orang itu terdengar histeris dan memilukan.

Namun Rei terlalu fokus pada Lien, sehingga tidak mendengar satupun perkataan orang itu.

Pikirannya hanya tertuju pada Lien.

Ia melihat wajah Lien yang mulai memucat kembali, padahal sebelumnya wajahnya menunjukkan rasa lega dan senang yang luar biasa.

Tanpa dia sadari, si bangsawan yang sudah ia lupakan keberadaannya itu muncul didepannya.

Tangannya siap menebas Rei yang hanya berjarak 3 cm.

Reflek, Rei menunduk.

Sialnya rambutnya terpotong ujungnya sedikit. Rei langsung back flip sejauh mungkin darinya.

Ia berjongkok dengan kaki bertumpu pada satu tangan.

Nafasnya memburu dengan cepat layaknya lari maraton.

Keringat membanjiri pelipisnya, memikirkan apa yang terjadi bila ia telat bertindak sedetik saja.

Pasti kepalanya sekarang sudah dipajang di museum kerajaan dengan keterangan "Lihatlah! Kepala keturunan klan Wreis terakhir!".

Oke, pikirannya sudah terlampau terlalu jauh.

Tidak akan ada yang mau memajang kepalanya di museum yang hanya bisa dilihat anggota kerajaan, yang nyatanya membencinya.

Rei mengelap dagunya yang penuh keringat atau darah atau apalah itu.

Pikirannya terus dibayangi oleh kematian dirinya sehingga hal lain disekitarnya tidak ia pedulikan.

Bangsawan itu menampilkan senyuman kejinya dan menatap mata Rei, meninggalkan kesan tersendiri untuk Rei.

Dalam mata itu..entah kenapa tersirat kesedihan, padahal dia sedang tersenyum jahat.

"Kau adalah anak yang brilian seperti apa yang sudah kudengar. Matamu lebih tajam dari elang dan jiwamu............"

Ia tertawa cekikikan khas pembunuh dan nampaknya ia tidak ada niat untuk melanjutkan kalimatnya maupun mendengar balasan.

Ia seperti asyik dengan dunianya sendiri, dimana ia berperan sebagai psikopat dan korbannya adalah seorang anak kecil.

Rei terdiam, berusaha mencerna ucapannya.

Apa maksudnya kira-kira?

Ia sangat ingin bertanya tentang kelanjutan ucapan si pria pirang itu tentang jiwanya.

Namun, sang kakak kedahuluan bicara.

"Tutup mulut kotormu! Apa yang akan kau lakukan dengan Lien?!", teriak Kago penuh amarah.

Tangannya terkepal erat.

Buku-buku jarinya mulai memutih.

Rei menatapnya dari ujung matanya tanpa mengganti posisi, dia tahu Kago sangat ingin memukul si bangsawan - bukan, membunuhnya.

"Perempuan kecil itu? Aku baru saja ingin membawanya ke perayaan."

Matanya menyipit lantas berkata, "...sebelum kalian mengganggu pekerjaanku dengan membuat mayat mayat ini."

Matanya beralih ke lantai, puluhan mayat berceceran dengan anggota tubuh yang sudah tercerai berai.

Kebanyakan potongan kaki karena Kago berpendapat Lebih mudah mengalahkan musuh jika mereka tidak punya penopang tubuh

"Perayaan apa?," tanya Rei.

Alisnya saling bertaut satu sama lain, tangan kirinya sedang berusaha menggapai tombak milik salah seorang penjaga yang tewas dibelakangnya dengan susah payah.

Disamping tombak berukuran sekitar 11 cm itu, terbaring sosok penjaga bertubuh gempal.

Matanya menatap kosong ke udara dan mukanya mulai memutih.

Tanpa repot-repot melihat ke belakang pun Rei mengetahui bahwa si penjaga yang mulai membusuk itu masih menggenggam erat tombaknya sampai akhir hayatnya.

Mata Rei menoleh ke depan dan ke belakang berulang kali, sesekali mengawasi si bangsawan dan tombak dibelakangnya.

Rei sebisa mungkin ingin mengulur waktu.

Ia menyadari sekuat apapun mereka berusaha menghentikan si bangsawan untuk membawa Lien, pada akhirnya hal itu akan sia-sia.

Lebih baik sekarang atau tidak sama sekali.

Ya, lebih baik mati karena melindungi hal yang kita sayangi daripada hidup dipenuhi penyesalan.

Sekali lagi Rei mencoba merebut tombak keras kepala yang masih menempel pada pemiliknya sekuat tenaga.

Renggangannya mungkin mengendur sedikit, tapi hal itu tidak membuat Rei merasa puas.

Rei memaki dalam hati.

"Kenapa aku harus memberitahu kepentinganku pada orang yang akan mati? Satu hal yang pasti, takdir anak perempuan itu sudah ditentukan. Kau tidak bisa mengubahnya apapun yang kau lakukan, sama seperti ibumu."

Kata terakhir si pirang itu benar-benar terdengar seperti hinaan bagi Rei.

Hatinya memanas, apalagi ketika pria di depannya itu menyunggingkan senyum sinis.

Tubuh Rei terasa terbakar oleh amarah.

Dia sudah tidak tahan lagi.

Tangannya kembali meraih tombak dibelakangnya - kali ini dengan satu sentakan - lalu ...terlepas!!!

Rei menggenggamnya tombak itu erat.

"Bedebah!"

Ia bangkit berdiri dan langsung menerjang si bangsawan. Kemudian, tiba-tiba cahaya putih membutakan matanya.

Begitu silau sampai Rei merasa bahwa kelopak matanya akan terbakar.

Perasaan itu.........

Perasaan itu kembali melandanya. Perasaan terbakar di sekujur tubuhnya.

Merambat bagaikan sulur, menyelimuti tubuhnya.

Hal terakhir yang dia ingat adalah wajah Lien yang makin memucat, Kago dan si bangsawan yang terbelalak kaget, serta mayat yang ..terbakar ?

Entahlah dia tak yakin.

Sesudah itu, dia tak ingat apa-apa lagi.

Rei memandang wajah Ben terlalu lama, sampai-sampai Ben menatapnya aneh.

"Apa ada sesuatu di wajahku?"

"Tidak. Tidak ada sama sekali."

***************************
Om telolet om 🚃🚃

LOL

The Ascension Of The Wreis (Abandoned)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang