Part 5: unwanted Memory

95 52 7
                                                  

Selamat membaca! 😉
Vote sebelum membaca Apabila ada kekurangan atau janggal, tulis di komen

Warning, typo!
***************************

Previous~

Pikirannya mulai melayang, mengorek kenangan buruk itu dalam otaknya.

Ya, dia ingat sekali...

*******************************
Start chapter~~~

Saat itu Rei berumur sekitar 7 tahun dan sedang duduk di pojokan.

Kakak perempuannya yang bermain boneka beruang, dan kakak laki-lakinya yang tampak memejamkan mata, namun mengawasi kami seperti macan.

Keadaan tampak sepi dan damai, sampai seorang berambut pirang sebahu, dengan luka di mata kirinya, melangkah tepat di depan sel mereka.

Wajahnya memang tampan, mampu membuat semua wanita jatuh dalam pesonanya, seperti yang dialami Lien.

Matanya berbinar seakan pria tersebut adalah penyelamat hidupnya.

Tapi tidak demikian dengan Rei. Rei mengetahui pria berdarah biru itu bukanlah orang baik.

Tidak ada bangsawan yang baik.

Seumur hidup tinggal di penjara membuatnya menyadari hal itu.

Barangkali Kago juga merasakan hal yang sama karena dia tidak bergeming.

Hanya mengawasi si bangsawan dengan mata merah zamrudnya.

Lalu, entah dari mana, segelintir pasukan datang dan membuka segel mantra yang menyelimuti sel ini, kemudian berbondong masuk.

Mereka menarik paksa Lien keluar.

Wajah Lien yang gembira langsung berubah drastis.

Air mata membanjiri pipinya yang tembam, dan menangis meraung-raung.

Seketika terror itu menyelimuti pikirannya.

Memori kelam itu berkumpul di otakku layaknya pecahan kristal yang agak berbayang.

Walaupun ia masih kecil waktu itu, namun dia mengerti semua perkataan Kago.

Bahwa saat Rei masih kecil, kejadian yang sama juga pernah terjadi pada ibunya.

Dan.....ibu.....ia tidak pernah kembali lagi.

Dengan modal nekat, Rei berlari ke arah salah satu penjaga dan menendang telinganya.

Ia langsung jatuh pingsan.

Kago yang melihatnya langsung ikut bangkit dan melawan sisa penjaga yang ada.

Mungkin mereka masih seorang bocah, tapi mereka tetaplah keturunan dari salah satu klan terkuat.

Dalam waktu kurang dari 1 menit, seluruh penjaga sudah berhasil mereka kalahkan.

Rei bernapas terengah-engah.

Tubuhnya lelah akibat bertarung, tapi tidak ada yang lebih melegakan dibandingkan melihat Lien yang selamat.

Wajah Lien tampak kacau seperti habis dihajar habis-habisan.

Matanya sembab dan kemerahan karena habis menangis.

Rambut silvernya yang dikuncir awut-awutan seperti orang yang tidak pernah menyisir.

Dengan sisa tenaga yang tersisa, Rei menyeret kakinya menuju tempat Lien.

Tangannya gatal ingin membelai rambut Lien.

Samar-samar dari ujung ruangan, Rei mendengar seseorang memanggilnya.

The Ascension Of The Wreis (Abandoned)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang