Part 4:the bartender

110 65 26
                                                  


vote sebelum membaca dan jangan jadi silent reader! Apabila ada kekurangan atau janggal, tulis di komen

Warning Typo!
***************************

Previous~

Rei mengangkat sebelah alisnya.

"Segelas vodka seperti biasa bukan?" pria berkumis berumur 25 tahun dan berambut pirang itu ikut-ikutan mengangkat alisnya.

"Kau tahu saja apa yang kubutuhkan," kata Rei sembari terkekeh.

*************"*****"***********
Start chapter ~~~

"Tentu saja, kau sudah datang ke bar ini sekitar ribuan kali dan memesan minuman yang sama. Kuharap kali ini kau membayar tagihanmu."

"Maaf, Benedict Rodriquez yang terhormat, sayangnya saat ini aku sedang kehabisan uang."

Itu bohong.

Dia mempunyai banyak uang di kantungnya.

Benedict alias si bartender mengerucutkan bibirnya kesal.

Rei yang melihatnya hampir tertawa terbahak-bahak.

Hampir.

"Aku hanya bercanda. Ini."

Rei menyodorkan beberapa lembar sin pada Benedict.

Benedict langsung menyambarnya dan menghitung jumlah uang itu.

Ekspresinya langsung berubah 180 derajat.

Ben menyiapkan vodka pesanan Rei dengan wajah berseri-seri.

"Hmm...tumben kau membayar lunas. Sedang dalam mood baik?"

"Ya..begitulah,"dusta Rei.

Padahal moodnya sama sekali tidak baik.

Kalung yang seharusnya dia jual sekarang malah harus dia simpan kembali di kantungnya untuk 4 bulan yang akan datang.

Ini akan meningkatkan resiko Rei ketahuan pihak kerajaan.

"Soal kembaliannya...aku sedang tidak punya uang kecil sekarang. Nanti kubayar saat bar tutup," ucap Benedict yang baru menyadari uang yang Rei berikan terlalu banyak.

Rei bergumam ya dan meminum gelas berisi vodka perlahan.

Merasakan panasnya di tenggorokan Rei, ditemani dengan musik jazz yang mengalun lembut.

Rasanya benar-benar nikmat, membuatnya tidak ingin beranjak dari tempat ini dalam waktu lama.

Aneh sekali, karena pertama kali Rei mencoba vodka, ia langsung tersedak dan muntah-muntah.

Gelas yang sudah kosong sepenuhnya dia taruh kembali ke atas meja dengan cukup keras.

Benedict yang sibuk membersihkan gelas dengan kain putih ditangannya menyempatkan diri untuk melihat ke arah Rei.

Tiba-tiba ekspresinya berubah. Kemudian lehernya dia julurkan ke depan sampai hampir menyentuh kening Rei.

"Apa..yang kau jual ke pelelangan kali ini?" bisik Benedict sembari menunjuk ke arah kantung celana Rei.

Takut ada orang lain yang mendengar.

Rei mengedikkan bahu tidak peduli.

Tidak mengindahkan ocehan bartender penggemar cokelat itu.

Matanya menatap kosong ke arah gelas yang sebelumnya diisi vodka.

Entah apa yang mengganggu pikirannya, yang pasti hal itu membuatnya tidak fokus.

Benedict berusaha menarik perhatian Rei dengan berdeham.

"Ahem.."

Tidak ada respon.

Kali ini Benedict mencoba kembali, tetapi dengan suara yang lebih keras. "AHEM........."

Rei mengangkat kepalanya kesal, seakan baru saja dibangunkan dari mimpi indah.

Tidak perlu mengulang pertanyaannya lagi, Rei menjawab dengan ketus ,"Pelelangan dibatalkan hari ini, dan barang yang akan kujual hanya sebuah kalung. Aku minta vodka lagi."

Rei menyodorkan tangannya yang memegang gelas kosong ke arah benedict.

Benedict tampak kaget.

Dia bertanya dengan suara keras yang mampu menyamai kera di kebun binatang.

"Dibatalkan?! A-!"

"Sshhh." Rei menaruh telunjuknya diatas bibir, menyiratkan Ben untuk tidak berisik.

Rei bisa melihat seluruh isi bar yang memandang mereka aneh. Dalam hati Rei mengumpat kesal pada Benedict.

Ben tertunduk malu, tapi hanya untuk waktu yang singkat.

"Apa maksudmu dibatalkan? Memangnya ada apa?" tanya Ben dengan suara yang lebih pelan.

"Aku kira kau tahu apa yang terjadi! Kau kan pembeli setia di pasar gelap!"

"Dan kau penjualnya! Harusnya kau tahu alasannya!"

Rei berdecak.

Ben ada benarnya juga.

"Sudahlah, aku minta vodka." Rei mengulang permintaannya sebelumnya.

Benedict melihat mood Rei yang tidak baik, memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut.

Lagipula cepat atau lambat salah satu dari mereka pasti akan tahu alasannya.

Entah sudah berapa banyak Ben menuangkan vodka.

Setiap vodka di gelas Rei habis, dia pasti selalu minta refill.

Rei sembari meminum vodkanya memandang wajah Benedict.

Rambut pirangnya dan kumisnya membuat Rei menjadi teringat sesuatu.

Ciri fisiknya mengingatkan Rei pada seorang bangsawan.

Ya, bangsawan keji yang membuat seluruh hidupnya berantakan.

Pikirannya mulai melayang, mengorek kenangan buruk itu dalam otaknya.

Ya, dia ingat sekali...

***************************
Phew,selesai juga. Sorry chapter ini agak dikit :v. Stay tune! 😂😅

The Ascension Of The Wreis (Abandoned)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang