Her Struggle

132 16 4


Perkataan Ernest terngiang di kepalanya saat setiap kali ia mengingat Deirdre. Ketika perasaannya menyambut kedatangan Ernest, ia tahu ia harus mempersiapkan dirinya. Untuk Deirdre. Untuk Dave. Dan untuknya.

Sebuah suara benda pecah terdengar dari sebelah kamarnya, dari arah kamar Deirdre. Ia bahkan tak perlu menduga, sejak tadi ia telah berdiri di depan pintu kamar kakaknya itu. Ia mengetuk perlahan pintu kamar Deirdre. Satu menit. Dua menit. Tidak ada jawaban.

"Deir," bersamaan dengan ia mengucapkan nama Deirdre, pintu terbuka dengan kasar.

Valerie melangkah masuk, ia melihat sebuah benda menyerupai bola kaca namun telah hancur bersama dengan isinya. Benda itu pemberian Ernest.

"Selamat," ucap Deirdre dingin.

Valerie menoleh ke asal suara. Ia tak dapat melihat jelas wajah Deirdre dalam cahaya lampu kecil di samping tempat tidur Deirdre. Di tempat tidur itu, ia dan Deirdre pernah bercerita tentang Ernest, tentang bagaimana Ernest dan Deirdre merencanakan segala hal bersama-sama, tentang apa pun.

"Don't say," Valerie menjawab.

"Just let me say it out loud. Congratulation to you—both of you."

"You may judge, I won't stop you. Aku tahu apa yang kau pikirkan tentang Ernest dan—"

"Bagaimana dengan Dave?"

Valerie terdiam.

"Kau memutuskannya, ah? Demi Ernest?"

Nada suara Deirdre sedingin es, seakan tak ada yang bisa ia lakukan kecuali membiarkan Deirdre menumpahkan emosinya.

"Mempermainkan Dave? Sejak kapan kau mengenal Ernest? Saat malam di mana aku pernah menceritakan tentang kami? Saat aku berkata padamu, aku memutuskannya, dan ia mendekatimu? Saat kau—memilih Ernest dan mengakhiri hubunganmu dengan Dave? Yang mana? Saat Dave bercerita dan meneleponku tentangmu. When his heart was broken, you smile with him."

Dan begitulah pembicaraannya berakhir dengan Deirdre.

***

Katakan saja bahwa cinta tidak memilih maupun memihak.

Valerie melipat kertas berwarna merah, membentuknya menjadi segitiga, melipatnya kembali hingga membentuk segitiga yang lebih kecil. Namun pikirannya berkecamuk hingga ia menghentikan aktivitasnya.

Seseorang menghampirinya. "Apa yang kau lipat?"

"A bird."

"Red bird."

"The strong one."

"Can fly?"

"Hope so," Valerie tersenyum tipis.

"Hey," Ernest memanggilnya perlahan. "Kau baik-baik saja?"

"Ya, seperti yang kau lihat," jawab Valerie.

"Bagaimana dengan Deirdre?"

Valerie menggeleng. "Ia tak lagi mengungkitnya sejak pembicaraan kami yang terakhir," ia mendesah, "I don't know when my feeling towards you come and become so fast until everyone not agree with this," lanjutnya.

"They will, they just need a time," balas Ernest, "I'm so sorry for making you take this risk."

Valerie mengangkat wajahnya dan memandang pria di hadapannya. Ernest tersenyum dan entah mengapa, senyum itu membuat hatinya cukup tenang.

Ia berharap bahwa masa-masa tegang dirinya dan Deirdre segera menghilang, ia tidak mengharapkan Deirdre mendukung dirinya, namun perasaannya sayangnya sebagai seorang adik tidak pernah hilang meskipun Deirdre membencinya.

Ketika minggu demi minggu berjalan dan Deirdre masih tetap dalam diamnya, ia dan Ernest hampir saja menyerah untuk berharap.

"From this moment on, we talk about us and our happiness. So we won't be overshadowed by this again," kata Ernest.

"Ernest," panggil Valerie.

"Ya?"

"Deirdre akan pergi ke Kanada. Dia bilang padaku bahwa ia mendapat pekerjaan di sana dan akan tinggal di sana untuk sementara waktu. Apakah dia menghindar?"

"Kanada?" Ernest mengulang setengah kaget.

Valerie mengerjapkan matanya ke arah Ernest. "Ya. Ada apa?"

Ernest menggeleng. "Will you be okay?"

"Menurutmu?"

***

Coba comment gimana menurutmu tulisan ini? Jangan jadi silent reader, dunk~!

#lanjut?

Salam,

M.R.

Pathetic Love  [4/4 END]Baca cerita ini secara GRATIS!