Part 3: Rhodes Wild

84 48 12
                                                  

vote sebelum membaca dan jangan jadi silent reader! Apabila ada kekurangan atau janggal, tulis di komen

Warning Typo!
***************************

Previous~

Sang penjual, berumur sekitar 50-an, yang melihat Rei datang ke arahnya menatap curiga sekaligus ketakutan.

Tubuh gempal yang menyaingi ayam bakar yang dijualnya mendadak berkeringat.

Ohhhh ini pasti akan seru...

*************"*****************
Start chapter~~~

Rei menatapnya dengan senyum tersungging.

Ia menyadari betapa pucatnya penjual ini.

Penjual itu adalah tipe orang yang mudah ketakutan. Jubah ditambah dengan mata merahnya yang menyala terang, lalu sepasang pedang di kiri dan kanan pinggangnya, siapa yang tidak takut?

Penampilannya mirip seorang penyamun.

Tapi daripada memperhatikan itu, si penjual tampaknya lebih memperhatikan leher Rei.

Mungkinkah dia tahu?

Mata merah Rei menatap tajam manik cokelat sang penjual. Ditatap seperti itu, sang penjual makin ketakutan.

Wajahnya seperti mengatakan,"tolong kasihani aku."

"Berapa harga ayam ini?", tanya Rei sambil menunjuk sebuah ayam bakar yang kelihatan nikmat dengan suara monoton.

Si penjual menelan ludah gugup.

"Ha - harganya 1000 sin . Apa anda mau me- membelinya?"

Rei tersenyum dibalik jubahnya.

"Ya aku mau membelinya. Tapi sayangnya aku sedang tidak punya uang. Kau keberatan kalau aku mengambil ayammu dan membayarnya nanti?"

Padahal mimik wajah dan nada Rei biasa saja, tapi si penjual itu menanggapinya berlebihan.

Wajahnya seperti orang yang baru melihat hantu.

Dia buru-buru mengganggukan kepalanya berulang kali bak orang kesurupan.

"Te-tentu saja boleh........"

Dengan secepat kilat, tangannya mengambil ayam bakar yang ditunjuk Rei kemudian menaruhnya di daun Plabow, sebuah daun dari tanaman berbiji tunggal yang berbentuk mangkuk tetapi lebih lebar.

Hal ini merupakan hal yang lazim di Kabanelia untuk menggunakan daun Plabow sebagai wadah.

"Ini tuan......"

Tangannya ia julurkan ke depan. Namun karena gerakannya yang terlalu berlebihan, penjual itu seakan menyodorkan pesanan Rei dengan kasar.

Rei tidak mempedulikannya dan mengambil ayam pesanannya.

Begitu Rei mau beranjak pergi, tiba-tiba ia mempunyai ide bagus.

Kaki meja yang kelihatan rapuh dimakan usia ditendangnya sekuat tenaga, alhasil ayam yang ada diatasnya tumpah berantakan.

Penjual itu panik, lantas berlari dan berlutut mengambil ayam-ayam yang jatuh berserakan.

"Ah maaf, kakiku terpeleset."

Alasan yang tidak masuk akal. Benar- benar tidak masuk akal.

Namun Rei tetap menggunakannya untuk membuat si penjual marah.

Benar saja, sorot mata si penjual itu menyiratkan kemarahan, walaupun masih ada ketakutan di dalamnya.

Orang-orang yang kebetulan lewat daerah tersebut menatap iba.

The Ascension Of The Wreis (Abandoned)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang