Part 2: Flashback

126 51 20
                                                  

vote sebelum membaca dan jangan jadi silent reader! Apabila ada kekurangan atau janggal, tulis di komen

Warning! Typo!
***************************

Previous~

Anthony menggelengkan kepalanya perlahan.

"Tidak kali ini, tampaknya ada sesuatu yang terjadi sehingga bos membatalkan pelelangan kali ini. Kusarankan kau untuk menemui salah satu pemimpin Black orb. Sekarang-" Anthony menggeser bangkunya beberapa inci mendekati Rei " - apa yang akan kau lakukan dengan kalung itu?"

******************************
Start chapter~~~

Cara Anthony memandangnya membuat Rei was-was.

Kedua alisnya yang beruban dinaikkan ke atas, menyebabkan lekukan lekukan di kulitnya yang keriput.

Bibirnya tersungging ke atas, menimbulkan kesan licik. Matanya yang abu-abu sesekali melirik kalung bernilai miliyaran yang tergeletak diatas meja.

Rei paling benci ekspresi ini.

Dengan cepat, Rei menyambar kalung yang ada di meja, lalu buru-buru memasukkannya ke kantung celana.

Anthony menaruh tangannya di atas dadanya, berpura-pura sakit hati.

"Astaga! Sebegitukah tidak percayanya kau pada diriku? Aku benar-benar sakit hati."

Rei mendengus, menatap Anthony dengan jijik.

"Aku mengenalmu sejak lama. Dan aku tahu persis ekspresi itu. Untuk menjawab pertanyaanmu, kalung ini tentu saja akan kusimpan dahulu. Aku tidak akan pernah menyerahkan benda ini padamu."

Anthony, si mantan salah satu pimpinan black orb memberengut.

"Kau tidak seru sama sekali."

Cangkir teh yang kosong, Rei taruh kembali ke atas meja.

Dia bangun dari kursi kemudian mengambil jubah hitamnya yang ada di ujung ruangan.

"Aku harus pergi sekarang. Tidak ada hal lagi yang aku bisa lakukan disini," ucap Rei sembari memakai jubah tersebut, menutupi hampir seluruh tubuhnya kecuali bagian wajah.

Sebelum benar-benar pergi dari kios itu, Rei berkata dengan nada dingin, membelakangi si penjaga,"Dan satu saran untukmu, jangan main-main dengan si anak malapetaka. Apa yang menjadi miliknya tetaplah miliknya, dan apa yang menjadi punyamu menjadi miliknya."


Tanpa menunggu respon Anthony, Rei pergi.

Menutup pintu kios dengan agak kencang.

Anthony menatap pintu kios lama, wajahnya menyiratkan kebosanan.

"Dia itu, selalu mengatakan hal yang sama setiap datang kemari.."



**************************************************************

3 jam sudah berlalu sejak ia meninggalkan rumah utama Alanis.

Rei memandang jam tangannya. Masih 5 jam lagi sebelum batas waktu pulang malam.

Dia memutuskan untuk berkeliling.

Petang yang indah ini, ia gunakan untuk jalan-jalan di taman kota Kabanelia sekaligus mengunjungi 'teman'.

Tawar selalu menjadi kota favorit Rei dan mungkin juga semua orang.

Di kota inilah segala macam makanan, pakaian, serta senjata dijual. Bar terkenal juga kebanyakan berada di kota ini. Selain itu, Kabanelia merupakan kota terdekat dengan istana kerajaan.

The Ascension Of The Wreis (Abandoned)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang