Prolog

342 104 93
                                                  

Vote sebelum membaca dan jangan jadi silent reader! Apabila ada kekurangan atau janggal, tulis di komen
***************************

23 norh 1935

Seorang bayi laki-laki berambut pirang platinum tengah tertidur pulas. Kulitnya yang putih pucat serta bola mata merahnya yang besar nampak begitu serasi dengan kain hitam yang menyelimuti tubuhnya. Sorot matanya tegas, persis seperti ayahnya.

Dengan wajah oval dan muka yang menggemaskan sanggup membuat siapa saja terkagum-kagum melihatnya.

Bahkan ingin menyentuh setiap jengkal tubuhnya yang mulus nan lembut. Sayangnya, dihari kelahirannya, tepatnya hari ke 315 setelah kejadian 'itu', tidak ada yang datang untuk merayakan. Ruangan yang menjadi tempatnya lahir pun nampak kosong lompong.

Hanya semilir angin yang masuk melewati jeruji sel. Wanita berambut panjang pirang platinum, dengan manik mata yang sama dengan bayi yang sedang digendong di pangkuannya menatap sendu.

Sorot matanya menampakkan kesedihan yang amat mendalam. Seharusnya dia senang bayinya telah lahir dengan selamat. Tapi, rasanya ada sesuatu yang kurang. Sesuatu yang mengganjal di hatinya sejak lama.

Sang buah hati di pangkuannya memainkan segelintir rambut ibunya yang bergelombang dengan senang. Seakan mengerti akan kesedihan yang dialami ibunya. Wajah polosnya membuat sang ibu mengusap rambutnya perlahan.

Wajah agak keriputnya berkedut senang. Ya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan selama bayinya selamat. Dia memanggil seorang bocah lelaki di ujung sel. Tangannya melambai-lambai lemas seakan kurang gizi.

Bocah lelaki yang berumur sekitar 12 tahun itu beranjak mendekat. Wajahnya menyiratkan kebingungan. Penampilannya dan wajahnya mirip kecuali baju tanpa lengan warna abu-abu lusuh yang dikenakannya.

Di sepanjang lengannya sebuah tato hitam berbentuk W terukir rapi. Tidak seperti ibunya dan saudaranya, rambutnya begitu berantakan dan lepek. Sang ibu tidak repot-repot untuk menunggu si bocah bertanya dan malah berkata duluan. "Nak, waktu ibu sudah tidak banyak lagi. Tolong dengarkan semua perkataan ibu dan jangan bertanya apa-apa. Kau bisa melakukannya?"

Si bocah diam sejenak, berusaha mencerna apa maksud dari perkataannya sebelum akhirnya mengganguk. Pada dasarnya dia memang anak yang tidak banyak bicara.

Si ibu tersenyum, puas akan jawaban yang diberikan.

"Bagus. Pertama, Kau tahu apa ini?" Ibu itu mengangkat baju di sekitar lengannya sampai ke pundak. Tato hitam berbentuk W yang sama terlihat jelas di lengannya. Bocah itu mengangguk untuk yang kedua kalinya. Matanya menatap intens ke corak hitam yang sekilas berbentuk naga itu. "Klan kita, klan Wreis adalah klan terkuat diantara semua klan. Klan kita pernah meluluhlantahkan Weirghen, tanah terkutuk hanya dalam seminggu. Banyak penghargaan yang telah kita terima sekaligus caci maki. Orang seakan tidak menerima kita dan justru merasa takut pada kita. Ketakutan mereka makin menguat sejak .......kejadian 'itu'."

Nadanya agak terbata-bata di akhir kalimat yang dilontarkannya. Maniknya berkaca-kaca, selaput bening siap meluncur kapan saja dari kedua matanya.

Tapi tatapan itu segera hilang secepat munculnya. Dia kembali tersenyum. Tapi bocah itu mengerti. Mengerti bahwa itu semua hanyalah senyuman palsu, senyuman yang sama sekali tidak menyiratkan kebahagiaan.

"Ibu hanya ingin kau berjanji, jangan pernah menjelek-jelekkan klan kita sendiri. Terlebih mengutuk diri karena menjadi anggota keluarga klan Wreis. Terimalah dirimu apa adanya dan berjuang demi apa yang kau percayai. Maafkanlah semua musuh yang merendahkanmu. Jangan mendendam tetapi mengampuni. Ibu percaya kamu bisa melakukannya Kago."

The Ascension Of The Wreis (Abandoned)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang