*Psst* Notice anything different? 👀 Find out more about Wattpad's new look!

Learn More

Putri Yang Di Buru

3.7K 440 38

Aku duduk termenung didepan kedai yang pintunya tertutup rapat, menatap ponselku sesaat dan membuka panggilan masuk terakhir. Nama Tuan Frederick terpampang dilayar ponsel. Dia bilang kedai tutup untuk sementara waktu dan aku akan dikabari lagi jika kedai kembali dibuka. Aku tidak tahu apa yang terjadi saat ini, mereka tidak memberiku alasan yang jelas. Dan masalahnya adalah jika kedai tutup untuk sementara waktu itu berarti aku akan menjadi pengangguran dan gajiku akan berkurang untuk bulan ini, dan setelah itu ibu pasti akan memintaku untuk bekerja ditempat lain sampai kedai kembali dibuka. Tapi—sebenarnya bukan itu yang terlalu mengganggu pikiranku saat ini, melainkan beberapa hal yang belum bisa kuketahui setelah kepergianku dari Loizh. Selain itu, meskipun kedai ditutup seharusnya masih ada Axcel didalam. Aku ingin sekali menemuinya dan menceritakan apa yang aku alami padanya. Yap, tepatnya aku sangat membutuhkannya ditambah lagi, aku sudah memakai namanya untuk kebohonganku.

Axcel Reyneer, silahkan saja dicari sampai ketemu. Lagi pula, Axcel yang aku kenal saat ini adalah Axcel Achazia, Jadi aku tidak perlu terlalu cemas dengan keadaan Axcel saat ini. Tapi—tetap saja aku sedikit merasa khawatir, karena nomor Axcel tidak bisa dihubungi. Aku kembali berdiri dan mengetuk pintu untuk kesekian kalinya dan berharap Axcel mendengarnya, tapi kedai ini tampak begitu sepi dan kosong. Aku menghela nafas menyerah, mungkin sebaiknya aku pergi kesuatu tempat yang sedikit menenangkan pikiranku.

Aku memutuskan untuk pulang ke rumah, tapi aku pasti akan ditanyai macam-macam jika kedai saat ini tutup. Aku menyelinap masuk ke halaman rumah secara diam-diam untuk mengambil sepedaku yang terparkir di garasi. Disaat-saat seperti ini biasanya ibu sedang didapur dan ayah sedang pergi. Tapi Grisha? Dia mungkin bisa saja berada dikamarnya dan mengintip keluar dari jendela. Jika ia melihatku maka tamatlah.

Aku mengamati kamar Grisha dengan waspada sambil mengendap-endap. Aku berlari dengan memelankan suara kaki agar tidak terdengar. Untung saja pintu garasi tidak tertutup, itu cukup membuatku lega diantara rasa tegangku.

Yap, akhirnya aku berhasil sampai digarasi dan aku langsung menaiki sepedaku dan mengayuhnya keluar dari halaman. Akhirnya aku bisa bernafas dengan lega. Rasanya sudah lama aku tidak mengayuh sepeda dan menerobos angin seperti ini, semenjak aku dipertemukan dengan Felix aku selalu mendapat tumpangan mobil, baik itu Felix maupun sopirnya. Sejenak aku berfikir, menjadi seorang ningrat rasanya tidak enak. Terlalu banyak aturan yang harus dipenuhi, kemana-mana selalu dikawal jika belum memiliki kendaraan sendiri dan terkadang banyak sekali hal-hal yang tidak boleh dilakukan sendiri jika itu sesuatu yang membahayakan. Hidup seperti itu rasanya kurang menantang bagiku, tapi—percuma saja karena aku juga akan diperlakukan seperti itu jika aku sudah resmi menikah dengan Felix.

Pikiranku mulai rileks dan bebanku sedikit menguap bersama hembusan angin. "Sekarang saatnya menikmati kebebasanmu Ririn!" teriaku pada diri sendiri.

Aku mengayuh sepeda dengan kencang dan keluar dari jalur jalan raya, melewati lapangan dan masuk kedalam hutan. Nah, ini dia tantangannya! Jalanan hutan yang bergelombang membuatku bisa memainkan sepedaku dengan leluasa. Aku mulai melewati beberapa tanjakan-tanjakan kecil dan happ! Yeahh sepedaku berhasil melompat dengan fantastis diikuti dengan pendaratan yang mulus.

Aku mengayuh sepedaku semakin kencang saat aku melihat tanjakan lagi namun yang ini lebih tinggi dan aku bersiap untuk melompat lagi. Yappp!! Kini aku sudah melambung diudara dan aku berputar layaknya pemain akrobat. Roda sepedaku hampir saja terpeleset saat pendaratan tapi untungnya masih bisa aku imbangi.

Kali ini aku mulai memasuki jalanan berkelok dengan jalanan yang semakin banyak bergelombang disertai bebatuan yang menjadikan jalanan ini semakin menantang. Aku mengayuh sepedaku semakin kencang, gelombang jalanan hutan membuat sepedaku melompat-lompat dengan seru. Aku tertawa lepas saking merasa bebasnya diriku sampai aku lupa pada masalahku dan hal-hal yang menggelayuti pikiranku.

Loizh III : ReinkarnasiBaca cerita ini secara GRATIS!