Hadiah

1.1K 89 3

Aku sedang melukiskan sebuah lingkaran dengan titik-titik di sekitarnya untuk Drupadi. Dia tampak sangat senang dengan hasil sayembara. Bagaimana tidak, kelima pangeran Pandawa itu memiliki pesona yang sulit ditolak. Sikap mereka pun begitu sopan, dengan rendah hati mereka meminta izin membawa Drupadi ke ibu mereka.

"Biarlah ibu kami yang menentukan, dengan siapa Panchali dinikahkan," kata Arjuna saat itu, "Karena seharusnya, Putri Drupadi menjadi istri Kak Yudhistira."

Drupadi memandang lukisan mehndi di tangannya dengan ekspresi puas, "Supriya, lukisanmu bagus sekali. Tak kuduga, akhirnya aku akan mengenakan mehndi dan menjadi pengantin."

Drupadi memilih sari dengan sulaman-sulaman burung merak yang menurutnya membawa keberuntungan. Iring-iringan tandu mengiringi kami bersama para Pandawa memasuki hutan yang sementara itu menjadi tempat tinggal para Pandawa.

Bima meminta rombongan kerajaan untuk berhenti agak jauh dari pondok. Usulnya untuk mengejutkan Kunti, disambut gembira oleh saudara-saudaranya. Telah lama mereka hidup menderita di hutan. Karena itu, kedatangan Drupadi adalah berkah yang akan membawa mereka kembali dalam kerajaan yang lebih nyaman.

Setelah berdiskusi, para Pandawa hanya mengizinkan Drupadi didampingi satu pelayan. Tanpa pikir panjang, Drupadi menunjukku. Senyuman simpul di wajahnya membuatku merasa senang. Kami berjalan dengan petunjuk Bima. Tampaknya, di antara para Pandawa, dialah yang paling jail.

Saat itu, Kunti baru menyelesaikan banyak pekerjaan rumah. Berkali-kali, Kunti mengeringkan keringat dengan ujung sarinya. Dia sudah terbiasa dengan kedatangan anak-anak yang selalu ribut dan heboh. Karena itu, ketimbang menanggapi keisengan para Pandawa, Kunti memilih untuk melanjutkan pekerjaan berikutnya: menyapih kacang kedelai.

"Ibu! Kami membawa hadiah untuk ibu!" seru Bima riang.

"Nanti saja, Bima... Ibu sedang sibuk."

"Ibu, setidaknya lihatlah sebentar! Ibu pasti senang!" kali ini, Bima mulai merengek. Keempat saudaranya masih berdiri sambil menahan tawa. Masing-masing dari mereka ingin memberi kejutan spesial untuk ibunya.

Namun Kunti masih bergeming dengan kacang kedelainya.

"Itu pasti hadiah yang bagus sekali," kata Kunti.

"Ibu!"

"Bima, kalian berlima ini sudah besar," kata Kunti tanpa memberikan jeda untuk membantah. Kelihatannya, kejadian seperti ini sudah sering terjadi di rumah Kunti.

"Kalian ini lima bersaudara, jangan sampai bertengkar karena berebut hadiah. Aturlah hingga hadiahnya bisa dibagi dengan adil."

Ucapan itu sempat membuat para Pandawa terkejut. Begitu juga dengan Kunti. Nampan berisi kacang kedelai di tangannya kontan terjatuh ketika Kunti mengangkat wajah lalu pandangannya beradu dengan Drupadi.

"Salam, Ibu. Saya adalah Putri Drupadi dari kerajaan Panchala," kata Drupadi. Memaksakan ketenangan dalam nada suaranya.

"Jadi... jadi..."

"Tadi aku bermaksud menanyakan, apakah sebaiknya Putri Drupadi dinikahkan dengan Kak Yudhistira, atau Kak Arjuna," kata Bima dengan wajah cemberut.

Itu adalah situasi tercanggung yang pernah kulihat. Meski demikian, sebuah ucapan tidak bisa ditarik kembali.

Mulai saat itu, Drupadi memiliki lima suami. Itu adalah caranya menjalankan takdir sebagai pengubah sejarah.

#StopPlagiarism

Author Putfel

Legenda Negeri Bharata [ COMPLETED ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang