Extra Chapt. 2

4.1K 251 80

3 Tahun kemudian.

Keyla berjalan sambil mendorong kereta belanjanya. Mengintari supermarket. Sembari menunggu jam pulang Vian dan Vira.

Mengambil 2 kotak sereal kesukaan Vian dan Vira. Lalu beberapa daging, sayuran, bumbu dapur dan ikan mentah. Kemudian Keyla juga mengambil beberapa makanan ringan favorit kedua anaknya. Keyla terus mengintari lorong-lorong supermarket.

Masih ada yang mengganjal. Sesuatu yang membuatnya segan untuk ke kasir. Lalu Keyla terus berjalan hingga sesuatu yang sedari tadi ia cari akhirnya ditemukan. Keyla menyentuh barang itu. Memegang dan memperhatikan barang itu. Alat pencukur jenggot. Keyla tersenyum miris. Melihat label merk, Keyla selalu membelikan merk pencukur itu. Keyla selalu memaksa Zain untuk mencukur jenggot atau kumis tipisnya. Dia teringat saat Vira dan Vian masih bayi. Keyla selalu mengomel jika Zain menciumi kedua anaknya dalam keadaan belum mencukur kumisnya. Keyla meletakan pencukur itu di kereta belanjanya. Keyla mulai fokus ke depan. Langkahnya berhenti saat dia melihat sosok pria yang juga baru saja mengambil alat pencukur itu. Keyla memperhatikan pria itu dari samping. Dia sedikit tersentak saat pria itu membalikkan badannya ke arah Keyla, gadis terus memperhatikannya terang teranngan.

"Zain?" Panggil Keyla, gemeteran.

Pria itu menoleh. Lalu mengkerutkan kening. Menoleh kebelakang..hanya dirinya dan wanita itu disini.

"Kamu manggil aku atau orang lain?" Jawab pria itu bingung.

Keyla tersadar akan hayalannya. "Maaf. Saya  salah orang." Pria itu makin bingung setelah melihat raut wajah Keyla yang sadar akan kenyataan. Zain-benar-benar-meninggalkannya.

"Bentar—" Keyla menoleh.

"Saya udah minta maaf. Apalagi?" Tanya Keyla.

"Kamu orang tuanya Vian sama Vira kan? Iya bukan sih?" Keyla terdiam mencoba mengingat wajah pria di hadapannya. "Anda siapa?" Tanya Keyla was-was.

"Saya Dimas. Guru Vian sama Vira. Saya sekilas tau wajahmu waktu Vira nunjukin foto keluarganya ke saya." Keyla mengkerutkan keningnya bingung.

"Kamu gak jemput mereka? Sebentar lagi mereka pulang."

Keyla masih bingung dengan pria dihadapannya.

"Kayaknya kita seumuran. Lebih baik ngomongnya santai aja. Oke gue ulang."

"Lo bingung pasti kenapa gue disini sedangkan gue ngaku ke lo. Kalok gue guru anak-anak lo. Well, gue libur kerja hari ini. Karna gak ada tugas ngajar." Lanjut Dimas. Keyla mengangguk saja.

Dari samping wajah pria itu nampak seperti Zain. Begitu juga tatapan matanya. Menusuk sampai ke hati.

"Ya. Sehabis ini gue mau jemput mereka. Senang bisa bertemu."

Dimas tersenyum.

"Panggil nama aja."

"Okey— Dimas. Gue duluan."

"See you."

***

Keyla masih terdiam sambil mengarahkan mobilnya ke sekolah kedua anaknya. Jelas ia tau tatapan itu. Apa kedua anaknya juga merasakan hal yang sama?

Sesampainya disana. Vira dan Vian langsung masuk ke dalam mobil Keyla.

"Mamii.." Sapa Vira yang duduk di depan bersama Vian. Keduanya memang selalu satu kursi depan untuk berdua.

"Gimana sekolah kalian?" Tanya Keyla sambil mencium kening anaknya satu-satu.

"Biasa aja mii. Soalnya guru kesayangan Vira lagi libur ngajar setiap hari Jumat."

"Dimas? Maksur bunda Sir Dimas?"

"Mami tau dari mana?" Tanya Vian.

"Ya waktu mami belanja ketemu dia."

"Yes. Mami udah ketemu Sir Dimas kak! Mom hari ini kita ke McDonald yaa.." Keyla mengagguk saja.

"Mami Sir Dimas ganteng 'kan? Mirip papi ya mi." Vian menyenggol Vira. Menyuruh adiknya diam.

"Papi ya papi. Guru kamu ya guru kamu Vira. Mereka gak sama." Ucap Keyla datar.

"Kamu kalok ngomong di pikir dulu kek! Jangan buat mami sedih dong!" Bisik Vian geram.

"Aku 'kan cuma tanya."

"Kamu mau papi di gantiin sama Sir Dimas? Aku mah gak mau! Mendingan juga papi!"

Vira melipat kedua tangannya di depan dada. Memanyunkan bibirnya menahan tangis.

"Aku juga gak mau! Aku kan cuma bilang doang! Aku cuma kangen papi!! Kamu kenapa sih marahin aku!"

"Aku juga cuma bilang! Jangan samain papi sama Sir Dimas! Udah berapa kali aku bilang!"

Vira mendorong Vian menjauh.

"Kakak jahat! Kakak selalu ngomongnya ngebentak!"

"Kamu juga!"

"Kalian ini kenapa sih!" Keyla menghentikan mobilnya.

"Papi kalian udah gak ada!! Jangan samain papi kalian sama orang lain! Apalagi kamu Vira!! Mami  gak suka!" Bentak Keyla. Mendengar bentakan bundanya. Vira langsung menundukan kepala— lalu menangis dalam diam.

Vian yang mendengar itu juga menundukan kepala. Maminya benar-benar marah kali ini.

Vian meraih tangan Vira dan menggengamnya.

"Udah jangan nangis." Bisik Vian.

Vira tak bisa menahan tangisnya hingga ia terisak. Keyla menoleh. Ia menghembuskan nafas, menyesal tengah membentak putri kecilnya.

"Maaffin mami ya sayang." Keyla meraih tubuh Vira lalu memangkunya hingga mereka berhadapan. Lalu menyuruh Vian untuk mendekat, kemudian memeluk kedua anaknya.

"Mami juga kangen papi sayang. Maaffin mami ya."

"Maaffin Vira juga mami. Vira kangen papi."

"Vian juga ya mami." Keyla mengangguk dan mendekap anaknya. Hanya mereka harta berharga yang Keyla punya.

***

Setelah makan siang di McDonald. Mereka kembali ke rumah.

"Ganti baju, cuci kaki, cuci muka sama tangan terus tidur siang ya. Nanti malem bunda ajak jalan-jalan."

"Yeay! Oke Mom."

Mereka berdua berlari menuju kamar. Keyla sengaja menjadikan kamar Vian dan Vira menjadi satu. Tetapi kemauan mereka dalam memilih wallpaper kamar dan seprai tetap individu. Keyla membagi dua bagian dalam kamar itu supaya tak terjadi cek-cok antara keduanya.

"Vira." Panggil Vian sambil melepas sepatunya.

"Apa?"

"Jangan bilang kayak gitu lagi ke mami! Kakak ngga suka." Vira mengangguk mengerti dan menyesal.

"Kamu liat 'kan reaksi mami tadi? Mukanya langsung sedih kan? Kita ngga boleh bikin mami makin sedih karna papi ngga ada."

Vira hanya menunduk. "Maaf kak.. Vira cuma kangen papi. Vira cuma mau kasih tau mami.."

"Cara kamu ngomongnya aja salah. Yaudah gak usah cemberut. Kamu ganti baju sana." Vira mengangguk dan berjalan menuju lemarinya.

***

Keyla menghembuskan nafasnya. Duduk di pinggir kasur sambil menatap luar balkon kamarnya.

"Kamu lagi ngapain Zain? Apa kamu juga lagi mikirin aku? Kayak aku yang selalu mikirin kamu? Udah 3 tahun terakhir ini. Aku masih belom bisa lupain kamu." Keyla menundukan kepalanya.

"Aku selalu berharap kamu kembali. Walaupun itu terdengar sangat lah mustahil. Tapi itulah doaku setiap waktu. Aku selalu merasa ini semua hanyalah mimpi."

Aku seringkali mengingatmu untuk menguji ketabahan diri. Jika air mata masih saja mengalir, berarti kamu masih saja jadi segalanya.

Seandainya kamu paham, mengikhlaskan yang tiba-tiba pergi bukanlah hal yang mudah. Perpisahan kadang menyakitkan bukan?

______________

[Edited]

I Love My Stepbrother 2 ✔Baca cerita ini secara GRATIS!