"Do Gun joo, apakah mungkin hari ini kita free class? Aku sungguh tak sanggup lagi berlama-lama duduk di kelas ini. Seminggu terakhir sudah membunuhku. Aku harus memohon maaf pada tubuh ini. Aku menyiksanya ...".
Masih panjang celotehku, tapi telinga yang memiliki mulut itu tak menanggapi.
"Hya! Gun Joo-ya! Kau tidak mendengarku?! Kau ini benar-benar argh!".
"Diamlah Rhye Ssa-ssi.". Hanya itu yang terucap dari bibirnya tanpa menoleh padaku. Dengan embel-embel 'ssi' aku yakin teman lelakiku ini sedang menjalani ritualnya.
Ya, ritual. Temanku ini sangat maniak boyband entah mereka menyebutnya XO atau EXO. Dia selalu menyempatkan diri untuk sekedar membaca fanfiction mereka atau streaming video-video mereka. Dan aku menyebutnya sebagai 'ritual'-nya.
Dan aku Park Rhye Ssa, bukan aku tak menyukai mereka para gerombolan pria berparas cantik yang menyanyi dan menari mendambakan teriakan para fangirl dan fanboy-nya, menangis sambil mengatakan 'saranghae, gomawo, mianhae' memancing penggemarnya menangis bersama mereka. Aku menyukai mereka. Ya, hanya 'suka' saja. Tidak melulu pada satu gerembolan pria yg bernaung dalam grup yang sama. Aku ada di posisi yang hari ini menyukai seseorang bermarga Lee dari boy grup yang aku lupa namanya, dan besoknya aku menyukai dia yang bermarga Choi dari boy grup yang sering juga aku lupa apa namanya.
Sejauh ini aku tak mengerti, apa yang membuat seseorang tergila-gila pada satu nama saja. Tidakkah itu membosankan? Ah~ itu bukan aku.
Selagi Gun Joo fokus pada layar laptopnya, aku putuskan turut tenggelam dalam layar laptopnya. Karna aku tak tau apa yang harus aku lakukan selagi maniak gila ini sedang menjalankan 'ritual'.
"Hya, Rhye Ssa-ya, Choi sonsaengnim memanggilmu di kantor guru". Suara khas Lee Han Ni menyadarkanku dari pesona lelaki berkeringat di layar. Entah apa yang Choi songsaengnim perintahkan. Aku hanya malas saja menjalani rutinitas sekolah yang memuakkan ini.
-tok tok tok-
"Yobseo, ssaem anda mecari saya?". "Aa~ kemarilah ada yang ingin ku tunjukkan padamu" wajah sumringahnya sama sekali tak membuatku bernafas lega karna merasa terbebas dari tugas. Justru aku merinding entah apa yang akan dia tunjukkan, pasti sesuatu yang tak kusukai. Dia hanya berpura-pura. Ommaa~
Aku mendekat padanya kutunjukkan wajah datarku agar dia tau, aku sama sekali tidak tertarik dengan apa yang akan dia tunjukkan padaku.
"Minggu depan akan ada audisi pencarian bakat dari agensi ternama. Masing-masing sekolah dikota ini mengeluarkan satu murid terbaiknya. Karna yang ku tau murid berbakat disini hanya kau Rhye Ssa-ya, maka aku daftarkan dirimu untuk mengikuti audisi ini. Ini brosur dan formulirmu, kau hanya harus berlatih dan menampilkan yang terbaik. Kupercayakan padamu".
"Ne?" Hanya itu yang mampu aku ucapkan. Selebihnya aku hanya mengangguk dan berjalan gontai menuju kelas dengan dua lembar kertas kematianku.
Ya, kematian. Mungkin kebanyakan gadis remaja seumurku mengidam-idamkan audisi bergengsi ini. Tapi tidak denganku.
Semua tubuh yang berkepala disekolah ini tau kemampuanku dalam bernyanyi, tapi tak banyak dari mereka yang tau bahwa aku benci menyanyi didepan banyak orang, sebagai tontonan, dan mendapat tepuk tangan. Aku bernyanyi hanya untuk diriku sendiri. Menyalurkan hobi. Tapi lihatlah sekarang, aku diujung pintu kematianku. Sesange~
-tok tok-
"Saranghaneun Rhye Ssa, waegeurae? Kau murung sejak kelas terakhir tadi". Han Ni. Seperti yang kuduga, dia mencemaskanku sama seperti teman-teman yang lain. "Aniya~ gwencanha". Sejak sepulang sekolah tadi teman sekelas tak henti-hentinya bertanya dengan pertanyaan yang sama. 'Waegeurae'. Dan hanya Han Ni yang memberanikan diri masuk ke kamar menemuiku.
Aku dan Han Ni sangat dekat. Selain teman sebangku, dia juga teman sekamarku di asrama. Dan dia sering kali berlebihan terhadap apa yang terjadi padaku.
Seperti sekarang ini, saat aku sedang menyibukkan diri memikirkan apa yang akan terjadi selama seminggu ke depan.
Aigoo tak bisakah aku mati suri sampai jadwal audisi berakhir?.
Aku mulai meracau. Ingin rasanya aku umumkan ke semua telinga di asrama ini. Aku ingin satu dari mereka menggantikanku pada audisi itu. jebal~~
Setelah kupikir panjang, mungkin ada baiknya aku ceritakan masalahku pada mereka. Mungkin mereka punya jalan keluar. Aku yakin itu.
Sekalinya pintu kamar kubuka, berpasang-pasang mata menatapku. Semengkhawatirkan itukah aku hari ini?.
Aaa~ bagaimana tidak, sekembalinya dari ruang guru tadi, aku tak menghiraukan panggilan guru yang sedang mengajar, aku tak menjawab semua pertanyaan teman-temanku, aku kembali ke asrama sendirian dan tak mengikuti kelas tambahan. Pantas saja mereka begitu.
•Aku tinggal di asrama yg penghuninya tidak terpisah antar gender. hanya saja terpisah blok antar kelas. Satu blok diisi oleh murid-murid dalam kelas yang sama. Begitu juga dengan blok sebelah. Tak heran rasa kekeluargaan disini sangat besar. Tak pernah tak sehari kita tak bertemu.•
"Yeoreobeun .. ". baru satu kata yang kuucapkan, mereka langsung melotot. membuatku geli melihatnya. Mereka tampak lucu.
"Aku baik-baik saja. Hanya saja ..",
"Wae Rhye Ssa?", Kim Hwa Jung menyelaku.
"Palliwa katakan saja. Tak biasanya kau seperti ini", kali ini Go Hye Jun yang bicara.
Setelah kuceritakan apa yang menggangguku, tak ada satupun dari mereka yang berbicara. Hanya Do Gun Joo yang bola matanya seaakan mau keluar dengan mulut menganga tak percaya. Ah, sudah kuduga. Mereka tak mau ambil resiko. Sudahlah~ aku hadapi saja audisi gila itu.
***********************************
***********************************
Jangan lupa klik ⭐ biar writer makin semangat update 💋
Komen kalian juga berarti buat kita makin deket 😍
Di follow biar gak ketinggalan chapter selanjutnya 🙌
YOU ARE READING
Possible Relationship
FanfictionAdakah cinta yang tidak mungkin? ADA. Park Rhye Ssa meyakininya. Tapi nyatanya apa yang Rhye Ssa yakini selama ini, SALAH. Hanya karna ketidak sengajaan yang 'mungkin' disengaja.
