The Past

27K 1.3K 21
                                    

Jakarta, July 7th, 2015,

At Sandiago's Residence, In Beauty's Chamber.

Baru kemarin peristiwa menyedihkan itu terjadi, Beauty Kaysha Sandiago kehilangan kedua orang tuanya. Be merasa sangat terpukul dan menderita.

Be nama panggilannya, ia baru saja berusia 12 tahun.

Pasangan Karel Sandiago dan Aysha Almira Sandiago meninggal karena kecelakaan mobil yang diduga karena sopir pribadinya mengantuk.

Karel Sandiago, sang Papa merupakan Multimillionaire international yang sangat terkenal.

Aysha Almira, sang Mama adalah seorang designer berbakat yang sudah mendunia dengan brand terkenal bernama Aysha.

"Papa...Mama... Why you leave me alone?"

"Please take me with you...,"

Be menangis tersedu sambil menutup setengah wajahnya dengan bantal. 

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar,

"Nona Beauty," panggil suara seorang laki-laki dari luar kamar.

"Ya, Pe... masuk." Sahut Be.

Pintu terbuka dan masuklah Pedro Lucas, pengacara keluarga dan orang kepercayaan Karel Sandiago.

Pedro adalah seorang laki-laki berperawakan tinggi dan tampan, rambut pirangnya yang terang sangat kontras dengan warna kulitnya yang eksotis.

Dilihat dari penampilannya, Pedro memang terlihat sangat muda.

Karena sejak umur 15 tahun ia sudah dituntut untuk menggantikan posisi ayahnya yang sudah meninggal, sebagai pengacara keluarga Sandiago.

Dan hanya dalam kurun waktu beberapa tahun saja, setelah ia selesai mengenyam Pendidikan dengan waktu yang sangat singkat, saat ini di usia 22 tahun ia sudah menjadi pengacara termuda yang sukses dan disegani.

"Nona, anda diminta untuk turun. Saya akan membacakan surat wasiat Tuan Sandiago." 

Pedro sebenarnya sangat prihatin dan sedih melihat  keadaan Beauty. Pedro sangat mengerti arti dari kehilangan seseorang karena ia pernah mengalaminya. Dan kematian Karel dan Aysha juga membuatnya sangat terpukul, karena mereka berdua sudah seperti orang tua Pedro sendiri.

"Sekarang?" Tanya Be dengan suara lemah.

Be turun dari tempat tidurnya, matanya terlihat bengkak karena menangis terus tidak berhenti.

Ingin rasanya Pedro memeluknya dan menenangkannya, namun ia harus menahan diri.

Tidak sekarang, tidak saat ini.Batin Pedro.

"Iya nona, saya tunggu anda di bawah." Pada akhirnya hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Pedro dan ketika ia bermaksud berjalan keluar kamar tiba-tiba saja Be menahannya,

"Temani Be turun ya." Bujuk Be.

"Baiklah, silahkan nona." Ucap Pedro seraya membukakan pintu untuk Be.

The Beast is Mine! <OPEN PRE ORDER!>Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang