Kembalinya Dendez Reyneer

2.8K 323 34

Yap, diatas pic Dendez kawan.. ^_^

Aku membanting diri ketempat tidur.Sudah Hampir satu minggu aku tidak tidur dirumah.Kamarku terasa dingin dengan ketenangan yang selalu kurindukan.Sesekali mataku terpejam diantara bayang-bayang kecemasan dengan hilangnya Felix yang bagai ditelan bumi.Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan bersama kekhawatiran yang mendalam.Sampai saat ini aku belum berhasil menemukannya.Ditambah lagi, aku merasa ada yang sedikit berbeda dengan Axcel. Sejak ia mengatakan bahwa Felix tersesat disuatu tempat, ia lebih banyak melamun dan tertidur seolah-olah ia ingin memasuki dimensi lain dengan pikirannya. Bukan hanya itu, pola semanggi yang kulihat di meja Axcel ternyata ada dimana-mana.Terakhir kulihat pola itu terukir di lemari Axcel padahal sebelumnya tidak ada.

Aku dikejutkan oleh kaca jendela yang diketuk.Aku segera berdiri dan mendekati jendela perlahan.Ketukan itu semakin keras seperti hendak memecahkan jendela.Aku membuka tirai perlahan dan sosok pria jangkung sudah berdiri dihadapanku. Wajahnya pucat dan datar selain itu ia juga terlihat—berantakan dengan rambut yang acak-acakan. Butuh waktu sejenak untuk menyadari bahwa pemuda itu adalah—Felix.

Aku membukan jendela dan Felix melompat kedalam dengan lincah dan langsung meringkuk ditempat tidurku.Aku sedikit merasa bingung dan heran.Gumpalan pertanyaan mulai muncul satu persatu dalam benakku.

"Felix apa yang terjadi?"Aku menghampiri Felix yang tertelungkup.

"Ririn."Felix melompat dan langsung memelukku."Aku sangat khawatir padamu."

Keningku berkerut seketika."Kau mengkhawatirkaku?"Aku melepas pelukanku dan menatap Felix."Justru aku yang mengkhawatirkanmu.Kau kemana saja? Semua orang mengkhawatirkanmu.Mereka berfikir kalau kau kabur karena tidak mau dijodohkan denganku."Ucapku panjang.

Felix merunduk dan tampak berfikir sejenak."Aku sudah melihat semua."

"Melihat apa?"

"Gadis yang bernama Karin itu—kau bukan?"

"Apa?"Aku mengangkat wajah Felix agar kami saling menatap."Bicara apa kau barusan?"

Felix tersenyum tipis."Pantas saja.Saat bertemu denganmu, aku merasa seperti pernah mengenalmu."

Keningku semakin berkerut. Bagaimana Felix bisa tahu tentang Karin? "Aku juga—merasa begitu, tapi aku tidak tahu apa yang kau bicarakan."

Felix melepaskan pelukannya lalu tangan kananya merogoh saku celananya.Felix menarik sebuah paku sepanjang jari tengah berwarna perak.Batang paku itu terdapat ukiran klasik berwarna emas yang membuatnya terlihat elegan.

"Paku?"Tanyaku tanpa melepas tatapanku kearah benda yang digenggam Felix.

"Si pangeran memberikannya padaku."

"Tapi—untuk apa?"

Bukannya menjawab, Felix malah menggenggam telapak tanganku erat.Ia menatap telapak tanganku lebih lama sambil menarik nafas panjang.

"Tenang saja, ini tidak akan sakit." Felix mulai menancapkan paku itu ke urat nadiku namun tidak berdarah dan aku tidak merasakan sakit sama sekali.

Paku itu menancap semakin dalam hingga hanya bagian kepalanya saja yang masih berada dipermukaan kulitku.Aku hanya memperhatikan tanganku dengan bingung. Paku itu panjang, seharusnya ujung paku mencuat dan menembus pergelangan tanganku, tapi—ini tidak sama sekali. Beberapa detik setelah itu, paku itu mulai bercahaya dan membuat tanganku tampak bersinar kemerahan kerna darah dibalik kulitku.

"Sentuh paku itu," gumam Felix berbisik.

Aku menyentuhnya perlahan dengan ujung jari telunjuku.Sebuah sengatan membuatku tersentak dan aku merasa tubuhku terlempar jauh melawan angin.Kuberanikan membuka mataku dan aku sudah terbaring disebuah hutan gelap.Kulihat banyak sekali kunang-kunang yang terbang berlalu lalang.Hanya cahaya temaram dapan kulihat serta pepohonan yang kelabu.

Loizh III : ReinkarnasiBaca cerita ini secara GRATIS!