Part 3

100 14 42

“Hei tiga anak nakal!”

  Fathari Sunny or Thari, gadis berambut sebahu yang jarang bergaul dengan teman-temannya karena sering bergumul di perpustakaan itu perlahan mendekati Sakura, Arra dan Yuki yang asik duduk di atas meja guru.

  Hari itu kelas Bahasa Inggris sedang kosong karena guru mereka, Pak Agia dipindahkan tugas menjadi kepala sekolah di SMA Nusa 1—sekolah rangking satu di kabupaten.

Langkah Thari lonjak-lonjak kaki kanan kiri seperti kegirangan. “Gue dengar ada guru Bahasa Inggris laki-laki baru!” katanya sambil merangkulkan tangan ke pundak Yuki yang langsung disampar si pemilik pundak. Duh Yuki, anak steril.

“Haha, tumben lo ngomong sama manusia.” Komentar Sakura sambil makan cemilan krupuk setannya.

“Maksudnya tumben gue gabung sama geng pembuat onar?” balik Thari.

“Emang lo tertib?” Nah, Yuki! “Sori ya, lo juga sering kan ngilangin buku perpus?” Ha. Yuki jarang bicara, tapi sekali bicara langsung ‘thes’. Membalikkan fakta kalau Thari si kutu perpustakaan itu saking seringnya banyak buku yang dia pinjem, sampai lupa buku apa aja yang harus dikembalikan. Dan ujungnya ilang.

“Ngomong-ngomong, guru barunya siapa?” Arra menimbrung sambil melirik sepintas ke Thari, sementara tangannya asik dengan HP touch-screennya.

Thari angkat bahu.”Entah sih. Gue dengar dia dari Korea. Kalian pasti jadi tambah semangat.” Lalu, “Emm sori ya, Ra. Gue ngomong sama Sakura dan Yuki.”

Arra meletakkan HP lalu turun dari meja guru sambil berkacak pinggang. “Maksud lo apa?” Thari hanya memainkan kukunya.

  “Maksud lo, gue nggak pinter Bahasa Inggris gitu? Lo mah, ulangan juga remidi terus aja belagu!” kata Arra sambil mendorong Thari.

“Eh, udah-udah! Kalian kenapa sih?” lerai Yuki.

“Eh Thar, tapi lo yakin itu guru dari Korea?” tanya Sakura. Yuki juga ikut bertanya lewat ekspresinya, pun Arra yang masih sebal kayaknya juga penasaran.

“Ya yakin dong! Gue tuh dengernya dari kak Meyli, itu lho yang jadi ketua klub Bahasa Inggris di sekolah kita.” Jawab Thari. “Sip kan?”

Arra setengah berpikir. “Ntar dulu!” katanya sambil mengisyaratkan tangan kanannya dengan ‘tunggu!’. Mereka menanti ujaran Arra.

   “Korea sih Korea! Tapi, entar dulu! Kalau dia bukan darah asli Korea gimana? Misalnya nih, cuma magang atau kuliah di Korea gitu kan bisa tho?”

Sakura mengangguk-angguk. “Bener tuh. Jangan-jangan nggak putih!”

“Lagian kalau dari Korea kok nggak ngajar di Korea, ya kan? Kecuali Kwang-Min yang udah nggak sabar kepengen nikahin gue…” huek! Arra…kebiasaan kan bikin manusia-manusia sekitar pengen muntah di tempat.

“Ah, gue tuh yakin kalau sang guru itu ganteng maksimal! Gimana kalau kita taruhan?” tantang Thari.

Sakura dan Arra hampir setuju, tapi “Ribet banget sih! Kita lihat aja nanti orangnya seperti apa!” kata Yuki kesal.

@@@

Kalau biasanya kelas kayak ada gempa dadakan tiap hari alias rame banget, agak aneh dengan hari ini karena sepi dan terkondisikan—apalah bahasa authornya ini.

  Kelas kaum hawa dengan ‘toa-ability’ ini antara tegang dan penasaran dengan guru Bahasa Inggris mereka yang baru. Setelah pak Agia benar-benar pindah tugas beberapa pekan yang lalu dan memberi tanggungjawab pada Yuki dan Sakura sembari menunggu guru baru.

Yuki yang teoritis dan yah memang amanah selalu memberikan teori sesuai hand-out yang diberikan pak Agia. Kalau Sakura? Kerjaannya cuma nyanyi bareng lagu-lagu rock dari Barat. Sekalipun nggak jelas dan bikin Yuki komentar tiap hari, lama-lama tuh anak ikutan nyanyi bareng juga karena bertepatan lagu favoritnya ‘If you love someone just be brave to say..’ nah, sekalian curhat kan, Yuk?

Three Naughties [Completed]Baca cerita ini secara GRATIS!