Adrio

Menggeliat. Menggeliat adalah salah satu nikmat Tuhan yang tidak bisa gue tolak. Kalian tahu sendiri kan bagaimana rasanya menggeliat setelah bangun tidur? Nikmat bangeeeet. Coba deh.

Gue melirik jam tangan gue. Perasaan gue baru tidur 30 menit, kok udah jam 6 aja sih? Gue bangun dan melihat ke kasur seberang. Seonggok daging yang bernapas masih terlelap dengan mulut terbuka, dan gue tidak bisa menebak bau apa yang ada di situ.

"Bri, bangun." Gue menggoyangkan tubuh sahabat gue—Brian. "Woy, udah jam 6."

"Hmmm," Brian hanya memberikan respon verbalnya lalu berbalik memunggungi gue. Waduh, kuah soto ya emang. Harus gue siram pake air mendidih kali ya.

"Woy, bangun! Mandi! Lo ada maju kasus hari ini!"

Brian langsung sontak bangun, matanya melotot. "Yo, tega lo baru bangunin gue."

"Yeu. Gue udah bangunin lo sejak cito craniotomy jam 2 pagi tadi. Lo aja yang tewas."

"Gue duluan yang mandi!" Brian langsung ngacir keluar kamar jaga dan menuju kamar mandi. Gue cuma geleng-geleng kepala. Beruntung banguninnya gak susah, anak itu kalau udah tidur kayak yang tewas. Enggak gerak sama sekali, cuma napas doang.

Setiap pagi dengan post night shift, hanya tiga hal yang gue butuhkan. Kopi, mandi dan...April. Iya, April.

**

"Penuh banget, anjing." Gue memelankan kata terakhir sebelum gue ditimpuk sama senior gue. Gila ya ini IBS gak bisa lebih penuh dari ini?

Gue menggeleng pelan ngeliat schedule board pagi ini. Selama gue residensi disini, gue belom pernah liat jadwal operasi sepenuh hari ini. Kolom board ada 42 buah, dan itu keisi semua dengan nama pasien. Bisa gila. Fyi, gue udah masuk tahun ketiga sebagai mahasiswa residen anestesi. Pada tau kan residen apa? Residen itu, dokter yang lagi sekolah (lagi) buat ngambil spesialis yang dia pilih. Sekolahnya di rumah sakit, berhubungan langsung sama pasien dan praktik langsung. Kalo enggak ke pasien, paling kerjaannya baca jurnal dan maju kasus. Eh, tadi gue belom memperkenalkan diri ya? Gue Ganesha Adrio Wirawan, panggil aja Dio atau Adrio dan gue bakal nengok. 

"Woy." Salah satu sahabat gue dari awal gue masuk residensi, Chandra, menyapa gue dengan segelas kopi di tangannya.

"Chan."

"HHHH." Chandra juga sama ngeluh kaya gue setelah ngeliat jadwal di depan kami.

"Bakal balik gak nih kita? Sumpah ya, ini–"

"Daripada mikirin itu, mending makan dulu di kantin." Chandra menyeruput kopinya.

Gue ketawa. "Lo duluan gih. Gue nungguin Nabil."

"Sip."

Chandra, temen kampret gue selama disini. Dia juga residen anestesi sama kaya gue. Seumuran dan seangkatan. Gak jarang gue dibilang setali tiga uang sama dia. Karena emang katanya kita berdua kaya orang kembar, padahal gantengan gue lah. Di RSPD ini sebenernya ada belasan residen anestesi, cuma ada 3 residen anestesi di antaranya seangkatan sama gue. Gue, Chandra, Regan, dan Nabil. Iya, ceweknya cuma satu dan dia adalah orang satu-satunya yang bisa bikin adem suasana kalo kita lagi capek banget. Gue, Chandra dan Regan gak bisa gak sayang dan peduli sama Nabil. She's the best friend you wanted to keep.

Anyway, back to the main reason, di beberapa waktu ke depan gue akan bercerita tentang gimana gue ketemu April dan gimana usaha gue untuk dapetin dia. April itu, sosok perempuan yang menurut gue udah lebih dari sempurna. Sosok perempuan yang gue yakin, cocok nemenin gue selamanya. Ya, dangdut banget.

"Pagi, dok." Sejumlah dokter muda (or you can call them co-ass) menghampiri gue.

"Pagi, koas anestesi yang baru, nih?"

"Iya, dok.. Dokter, residen anestesi?"

"Iya, gue Dio. Ketemu dokter Ando udah?" Dokter Ando itu dokter senior, guru gue juga.

"Kami diminta menunggu disini, dok."

"Oh, ya udah. Kalian nunggu di ruang bimbingan aja."

"Terima kasih, dok." Mereka segera pamit dan masuk ke ruangan yang gue tunjuk.

"Yo."

Gue melihat sekeliling. Biasanya April udah nongol. Tapi sampe jam 6.55 sekarang gue belom liat batang idung mancungnya. Hehe. Iya, hidung dia mancung sama kaya hidung gue. Kalo kita punya anak, anaknya bakal mancu-

"Itu dia," Pandangan gue menuju ke arah cewek yang udah rapi pake baju khas residen bedah— hijau dan berjalan menuju nurse station. Mampus. Gue gemes sendiri kalo lihat iketan rambut dia yang terkesan berantakan, tapi gak mengurangi kecantikan dia. Dasar dangdut.

"Woy," Nabil datang menyelamatkan temennya yang udah panik hampir mati. "Kenapa lo kayak nahan napas gitu, Yo?"

"Bil, ayo temenin gue."

"Kemana?? Ih, gue baru dateng.."

"Beli teh kotak sebelum gue pingsan."

"Pasti liat April. Yeu, dasar budak cinta. Padahal dia juga berapa belas meter jaraknya sama lo."

"Buruan, ah, bawel amat. Emang lo gak laper?"

Gue melihat ke arah April, ngarep dia bakal nengok barang 3 detik aja ke arah gue. Tapi dari tadi dia serius nulis status, sih. Gue buru-buru narik Nabil, sebelum gue melakukan kebodohan—kayak manggil nama dia tapi terus kabur. Karena malu. Cupu banget gue kaya jaman SMA. Huft.

This is story about her and her people.

----------------------------------------------

note:

*IBS = Instalasi Bedah Sentral

Tentang AprilBaca cerita ini secara GRATIS!