"Oh ka Alex?" Jany tau sudah apa yang dicari pria dihadapannya ini "Tadi sih dirumah ka" sahut Jany seperti hanya gumaman saja mengingat bagaimana Alex bersikap kepadanya tadi.

"Trus kesini sama siapa?"

"Temen dari Amrik" tunjuk Jany ke arah Niki sekilas "kalau ka Edo bareng siapa?"

"Temen juga"

"Temen apa temen?" Usil Jany

"Temen aku laki semua kali Jan. Tuh sana" tunjuk Edo ke arah kiri dari tempat Niki sedang duduk disana "Temen proyek di Yogya semua yang lagi liburan di Jakarta"

"Proyek bareng ka Alex?" Tanya Jany saat mengingat kalau bundanya pernah menyebutkan tentang hal itu

Sebagai jawaban, Edo hanya mengangguk

"Trus ka Alex gak gabung?" Tanya Jany penasaran

"Aku aja tanya kamu tadi dimana si kakak kamu itu. Abis dihubungi gak dijawab mulu"

Jany hanya diam memikirkan sesuatu sampai akhirnya ia mendengar sesuatu lagi dari mulut teman Alex, Edo

"Badmood kali dianya, abis yang disayang jalan sama cowo lain" guman Edo pelan tapi masih bisa terdengar oleh Jany

"Kenapa ka?" Tanya Jany kembali karena kurang jelasnya ucapan Edo

"Oh?" Edo hampir gagap karena pertanyaan Jany, ia takut, mulutnya yang tidak bisa ditahan itu akhirnya akan membocorkan rahasia Alex nantinya "Gak kok. Aku kirain tadi kamu sama Alex soalnya dia kemarin bilang mau ajak seseorang. Dan aku langsung tau aja kalau itu kamu Jan. Soalnya dia gak pernah mau bawa orang lain dalam bisnisnya. Tapi nyatanya bukan kamu, toh kamu sama temen kamu juga"

Jany kembali terdiam memikirkan kalau ternyata Alex akan mengajaknya untuk hangout bareng Edo dan lainnya, tapi sekarang, ia malah disini bersama Edo tapi tidak dengan Alex ,melainkan bersama Niki.

Edo bergerak dari tempat ia berdiri mendekat ke sisi kanan Jany lalu menepuk pelan pundak itu "Elo harus perjuangin dia. Apapun yang terjadi kedepannya, pertahanin dia. Perginya elo ke Amrik sudah cukup buat nyiksa dia, dan dia rela lewatin masa-masa yang menurut dari sisi gue indah untuk dia tapi dari sisi dia gak sama sekali , itu cuma karena rahasia keluarga elo dan karena perasaanya buat elo." Ucap Edo pelan dan serius tanpa memakai kata 'kamu' lagi yang hiasa ia gunakan saat berbicara dengan Jany dan Jany mengerti siapa yang dimaksud Edi dengan sebutan 'Dia'

Jany hanya mampu mendengarkan perkataan Edo sampai akhirnya ia berhasil mencerna inti perkataan Edo barusan, Jany kemudian menatap Edo disebelahnya.

"Apa maksud ka Edo?" Kedua alis Jany berkerut

Edo membalas tatapan Jany tanpa bergerak dari tempatnya "Elo mungkin udah tau perasaan Alex buat elo kayak gimana. Walaupun Alex cuek sama elo, tapi sahabat gue itu sebenarnya perhatian banget sama elo, bahkan lebih dari yang elo dan gue bayangin. Sampai-sampai waktu elo pertama tinggal di Amrik, dia sampai menyewa mata-mata buat ngasih tau kabar elo ke dia." Akhir Edo lalu melepaskan tangannya dari pundak Jany dan berjalan meninggalkan gadis itu sendirian

"Ka--" Kalimat Jany terputus karena Edo langsung membalikkan badannya

"Aaah gue lupa, soal rahasia keluarga? Ada baiknya elo tanya langsung sama keluarga eli, soalnya gue gak enak sama Alex udah bocorin rahasia dia soal yang tadi" Edo kembali berbalik melangkah pelan meninggalkan Jany lalu mengangkat tangannya yang kini hanya belakang Edo saja yang bisa dilihat Jany "Sampein maaf gue ke Alex kalau elo baikkan ya" ucapnya sambil menggoyangkan telapak tangannya.

Tanpa Jany lihat, Edo sebenarnya tersenyum puas karena ia berhasil melepaskan satu beban Alex, walau hanya itu, menurut Edo mulai dengan bocornya informasi tersebut akan sangat berpengaruh kedepannya.

"Maafin gue Lex, mungkin beberapa minggu kedepan elo bakalan sibuk dengan urusan keluarga elo dan gue gak bakalan ganggu pastinya" gumam Edo sambil menghela nafas puas dan lega seperti perkataannya itu akan didengar oleh Alex yang tidak sedang bersama dengannya.

*****

"Kamu gak makan?" Tegur suara itu hingga membuat Jany kembali menarik matanya dari ujung sisi ruangan, sebagai jawaban, Jany hanya mengangguk lalu mengambil garpu dan pisau untuk mengiris dan memotong daging yang dipesannya. Niki melanjutkan makannya sambil tersenyum manis dan disela-sela 'lunch', Niki mengajak Jany bercerita.

Disisi lain, Edo merasa resah melihat Niki yang terus-terusan mencoba mendekati Jany dengan cara yang bermacam-macam. Mulai dari menarik kursi Jany lebih mendekat, memberikan makanannya untuk Jany, memberikan serbet ke pangkuan Jany hingga Edo merasa muak melihatnya.

Sedangkan Jany? Beberapa kali ia tertangkap Edo yang sekali-sekali mencuri pandangnya dan Edo tahu betul apa maksud dari pandangan itu.

Jany ingin tahu apa maksud perkatannya tadi. Tapi lelaki itu terus menahan hingga Alex memberikan ia kebebasan untuk mengatakan semuanya, walaupun suatu saat nanti 'mungkin' Edo harus dengan terpaksa mengungkapkannya.

*****

Comeback ^^

Kamis, 01 desember 2016

I LOVE YOU, BROTHER! [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang