Apa Peduliku

38 7 5
                                                  

"Hai, apa kabar?"

"Cukup baik." Jawabnya disertai anggukan. Namun senyumnya tak lagi sama.

Kami duduk berhadapan di bangku taman. Kuletakkan tanganku di atas meja bundar yang berada di depanku saat ini. Sementara perempuan di depanku sedang menopang dagunya dengan tatapan yang sama sekali tidak ditujukan kepadaku.

"Apa kau merindukanku?" Aku mulai bertanya kembali agar suasana sedikit demi sedikit mencair.

"Entahlah." Jawabnya sambil mengedikkan bahu malas.

Aku lupa. Untuk apa dia merindukanku kalau dulu saja aku mengabaikannya?

"Maafkan aku." Pandanganku tak pernah lepas dari bola mata indahnya. Aku terus menatapnya meskipun dia enggan membalas tatapanku.

"Untuk apa?" Tanyanya dingin. Aku rindu sekali cerianya yang dulu.

"Untuk mengabaikanmu, untuk ketidak-pekaanku, untuk," Aku menghela nafasku, "menyakitimu." Lanjutku.

"Oh." Dia diam, "Lupakan saja. Itu hanya masa laluku." Lanjutnya acuh. Mengapa dia berubah? Dulu, dia menangis di hadapanku sambil mengutarakan perasaannya. Sekarang? Tersenyum kepadaku saja dia enggan.

"Masa lalumu?" Aku bertanya, "Hey, itu masa laluku juga."

Dia menatapku. Tatapan ini. Dia bukan perempuan yang sama seperti dulu.

"Apa pedulimu?" Tanyanya dengan tatapan sedikit tajam.

"Aku peduli." Ucapku, "Maaf, aku ---"

"Cukup! Tak perlu kau bahas hal ini lagi. Anggap saja itu semua hanya angin lalu. Lagipula, konyol sekali melihat seorang perempuan menangis lebay sambil mengemis cinta dari laki-laki yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri. Haha. Sekarang aku baru sadar. Perempuan itu bodoh sekali." Jelasnya menceritakan masa lalu kami.

"Aku memang salah, Alza. Aku terlambat menyadari semua perasaanku. Aku ---"

"Apakah ada hal penting lain yang ingin kau bicarakan? Kalau tidak, aku ingin pergi. Permisi." Tanpa menunggu responku, dia bangkit dari duduknya kemudian melangkah pergi. Aku tidak bisa mencegahnya. Bodohnya diriku. Kenapa dulu aku menyia-nyiakan perempuan setulus dia? Kenapa?

"Maaf, waktu tidak bisa terulang kembali. Maka, kuharap kau memanfaatkan waktumu sekarang. Jangan sepertiku, menyia-nyiakan perempuan yang sebenarnya sangat kusayang." ~Vino

EndeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang