Prolog

14 1 0

Usia Tisha memang masih terbilang muda. Saat ini, ia telah menginjak 21 tahun. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Tisha Meyrina selalu ingin menikah pada usia 22 tahun — setelah lulus kuliah. Namun mewujudkan harapan itu jadi kenyataan, menjadi semakin sempit saat Tisha belum juga memiliki seorang kekasih.

Bukan, bukan Tisha tidak laku. Semakin dewasa, pola pikirnya berubah. Tisha tidak ingin terikat lagi dalam hubungan pacaran. Ia hanya ingin langsung terikat dalam hubungan lamaran, lalu beberapa bulan kemudian melangsungkan pernikahan.

Tisha juga bukan perempuan yang syar'i yang ikut proses ta'aruf atau semacamnya. Namun ia adalah perempuan yang sedang menjaga diri dari segala bentuk yang bisa menjerumuskannya ke lubang yang salah. Yaitu jatuh cinta, lalu patah hati.

Tisha hanya ingin membina cinta setelah pernikahan. Ia yakin mampu melakukan itu.

Akhirnya Tisha diperkenalkan dengan seorang laki-laki yang usianya 7tahun lebih tua. Dia adalah anak dari teman Mamanya.

POV Qishti — Mama Tisha

Beberapa hari lalu, rekan kerja saya, Yumna, melangsungkan acara lamaran untuk anaknya — Ria. Sebelumnya, Ria akan dijodohkan dengan anak Lily, teman semasa SMA saya — Rakka. Akan tetapi, perjodohan Ria dan Rakka gagal. Karena Ria adalah sahabat dari mantan kekasih Rakka — Evelyn. Katanya, hubungan Rakka dan Evelyn kandas karena tidak direstui oleh Lily.

"Jeng, kenapa kamu nggak coba kenalin Tisha sama Rakka? Ibunya Rakka kan teman kamu juga." kata Yumna.

"Duh, gimana ya? Bukannya Tisha masih terlalu muda?"

"Nggak lah, jeng. Dia kan sebentar lagi lulus kuliah. Bukannya dia memang pingin nikah muda?"

"Iya, sih.." saya masih ragu untuk mengiyakan saran dari Yumna.

"Jeng Qishti, saya sejujurnya berat ngelepas Rakka. Karena dia anak yang baik dan penurut sama mamanya. Tapi ya mau gimana lagi? Toh Ria adalah sahabat Evelyn. Pernikahan bukan dijalani dalam rentang waktu yang sebentar. Ria memilih menjalin hubungan yang baik sama sahabatnya daripada melepas masa lajangnya dengan cara menikahi Rakka." tutur Yumna. Ada sedikit penyesalan di sana.

"Okedeh, nanti saya coba. Saya tanya dulu ke Lily, apa Rakka udah ada calon lagi atau belum. Setelah itu, saya baru tanya ke Tisha."

Beberapa hari kemudian, saya memberanikan diri untuk menghubungi Lily melalui whatsapp (WA). Kebetulan, dia sedang memasang display picture sekeluarga bersama ketiga anak laki-lakinya. Oya, saya bertemu Lily kembali setelah 30tahun karena adanya grup alumni SMA dulu.

"Hai Ly, apa kabar?" tanya saya melalui telepon.

"Iya, baik ceu. Ceu apa kabar?" tanya Lily. Ceu adalah panggilan 'jeng' dalam bahasa Sunda.

"Alhamdulillah sehat. Oya, itu foto profilnya kompak banget. Pasti waktu lebaran ya?"

"Iya itu waktu lebaran. Anak saya lelaki semua, ceu. Itu yang paling dewasa belum nikah. Saya lagi jodoh-jodohin dia, tapi belum ada yang cocok. Padahal dia udah punya kerjaan dan udah mau cicil rumah juga."

"Oh gitu. Wah iya udah enak ya, tapi namanya belum jodoh mungkin.."

"Iya. Ceu, ada anak perempuan? Soalnya saya cari yang tinggal di Pesangrahan. Rencananya, saya mau minta Rakka untuk beli rumah di Pesangrahan aja. Jangan beli di Kota."

"Ada, anak sulung saya masih kuliah tapi semester akhir. Mau coba dikenalin?"

"Boleh ceu, nanti kita tuker foto anak aja ya. Pokoknya, Rakka tuh terserah mamanya aja. Kalau kata Lily 'Ya' nanti Rakka juga bakal 'Ya'. Dia nurut banget."

"Oke. Wah, sayang banget sama kamu ya dia tuh. Oh ya, Ly. Udah dulu ya, salam untuk suami dan anak-anak. Saya ada keperluan dulu."

"Iya ceu."

Setelah itu, saya dan Lily bertukar foto anak. Saya mencuri foto Tisha di WA. Setelah itu, kami meminta persetujuan anak-anak untuk saling dikenalkan.

**********

Halo, ini judul lama yang aku remake.
Jangan lupa vote dan komen ya. Oya, saran dari kalian butuh banget. Kalau suka ceritanya bilang yaaa. Semoga alurnya bakal seru. 😂
Aku baru latihan. Semoga juga nggak mager nulisnya wkwkwkwk
Bhaaayyy!!!!

SEULAS ASMARABaca cerita ini secara GRATIS!