Ketika buka mata, keduanya kaget karena bangun dalam keadaan telanjang sambil pelukan. Oji langsung nyingkir ke samping, ke bagian ranjang di mana seharusnya dia berada, sementara Bangsat hampir terguling ke lantai karena refleks Oji menendangnya pelan.
"Ngapain lo, Bang?" tanya Oji. Wajahnya terlihat horor.
"Lo yang ngapain, Anjing! Pagi-pagi meluk gue."
"Lo yang meluk gue!" Oji nggak terima.
"Lo! Pas gue bangun, lo lagi meluk gue."
Oji mikir keras. Wajahnya merengut, dan itu malah ngebuat dia kelihatan lebih manis. Dengan kerutan di kening, bibir yang melengkung ke atas, alis lebat yang bertemu, rambut acak-acakan karena bangun pagi ... kalau nggak bisa dibilang mirip Aliando, maka dia bisa dibilang mirip Ratu—kakaknya, yang ternyata adalah pacar Bangsat. Bangsat selalu deskripsiin Oji sebagai Ratu versi cowok.
"Tadi malem kita ..." Oji mulai ingat kejadian tadi malam, dan wajahnya mendadak pucat pasi.
"Kita ngeue," jawab Bangsat, melotot. Dia natap ngeri ke Oji yang juga sama ngerinya. "Semalem lo ngajak gue ngeue!"
"Gue? Lo duluan yang cium gue, Bangsat!"
"Emang gue Bangsat!" pekik Bangsat frustrasi. "Kan lo duluan yang ngajak gue buktiin homo atau nggak!"
"Tapi tetep aja lo yang cium gue duluan!"
"Anjrit!" Bangsat ngacak-acak rambutnya yang udah acak-acakan.
"Ini nggak mungkin!" Oji masih denial. "Kenapa lo bisa yakin kita habis ngeue?"
"Kita telanjang, Goblok! Lihat itu," Bangsat nunjuk dengan monyongin bibir ke selangkangan Oji. "Ulat bulu lo bangun." Bangsat nyengir lihat kelamin Oji yang bentuknya kecil dan imut.
"Bangsat!" Oji ngumpat sambil naik selimut nutupin selangkangannya.
Sialnya, umpatan itu malah nama orang yang diumpatnya. "Gue emang Bangsat," jawab Bangsat sambil nyengir. "Lutunaaaa. Jadi emesh ama titit dedek Oji yang kayak anakan siput." Tawa Bangsat meledak.
Oji cemberut, ngambil bantal dan ngelemparnya tepat ke muka Bangsat.
Kena!
Bangsat yang nggak siap dengan lemparan itu sekonyong-konyong jatuh ke bawah kasur dengan bunyi gedebuk yang cukup keras. "Bangsat!" dia mengumpat.
Yang juga sialnya, umpatan itu malah namanya sendiri. "Lo emang Bangsat!" Sekarang gantian Oji yang ketawa. Ngakak. Sampe guling-gulingan di kasur sambil ngangkang.
Untung Bangsat lagi di bawah kasur. Kalo dia lihat pantat Oji yang terbuka lebar itu, mungkin Bangsat bakal langsung nerkam. Karena nyatanya, pantat Oji memang seksi. Putih. Mulus. Kenyal. Nyaris nggak ada cacat. Pinggiran lubangnya berwarna merah muda gelap dengan lubang yang masih sempit—atau paling nggak, sampe tadi malam, karena Bangsat udah mecahin keperjakaan lubang itu.
"Anjing lo ya!" Bangsat bangkit kembali setelah beberapa saat terpuruk di lantai. Ketika dia berdiri, tingginya mencapai 180 cm. Dengan raut wajah tegas tapi ramah, garis rahang yang hampir sempurna, hidung mancung kayak perosotan anak TK, dan mata yang agak-agak sipit, Bangsat sering kali jadi inceran cewek-cewek normal dan cowok-cowok homo di kampusnya (kalo yang homo sih biasanya langsung dia tendang ke laut).
Oji nutup mata. "Bang, itu lo gede banget." Dia nunjuk asal-asalan ke depan, bermaksud nunjuk kelamin Bangsat yang gede banget kayak pentungan.
Satu hal lagi yang ngebuat Bangsat jadi inceran cewek-cewek normal dan cowok-cowok homo: Kontyolnya gede—kayak kontyol kuda.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love, Bangsat
Teen FictionDua remaja ini saling jatuh cinta, tapi takdir seolah nggak ngasih restu ke mereka untuk bersama. *** Ini cerita kelima saya di Wattpad. Ceritanya masih gitu-gitu aja, dengan drama dan kisah cinta yg berlebihan. Still, cerita ini masih berbau homose...
