30. Selamat tinggal, Jakarta!

Mulai dari awal

"Biarin aku jelasin dulu, Sea."

"Sudah enggak ada yang perlu dijelasin lagi. Jangan khawatir aku pernah seperti ini, Bram. Ini bukan yang pertama untukku. Kamu pengin tahu kan kenapa aku bisa putus dengan Ardhan? Ardhan..dia sudah menikah dan istrinya hamil. Selama dua tahun itu aku enggak curiga sama sekali. Dia sangat bagus berakting. Sampai akhirnya seorang perempuan cantik mendatangiku dan mengaku sebagai istrinya Ardhan aku sempat ingin mengusirnya tapi dia memberikan bukti yang menguatkan perkataannya. Beruntung perempuan itu tidak menamparku, menghujat atau lebih ekstrem lagi, membunuhku."

"Aku mengalah agar bayi mereka merasakan punya orang tua lengkap. Sekarang semua seperti de javu. Persis dengan yang aku alami sekarang. Bedanya hanya status kita yang bukan apa-apa, Bram" Sea menatap lekat mata Bram yang terihat sayu. "Kamu tahu yang aku inginkan sekarang adalah menagih janji kamu untuk enggak hadir lagi di hidupku. Terima kasih."

Sea menyambar mugnya lalu pergi dari atap gedung meninggalkan Bram yang menatap kepergian Sea. Dia sudah paham dengan sikap Sea. Maka dari itu dia tidak berusaha mengejarnya. Dibalik sikap gadis yang periang dan ramai itu, dia memendam rasa sakit yang luar biasa dan itu karena dirinya.

**

Dengan langkah lebar dan terburu-buru, Delia menghampiri Sea yang baru saja selesai siaran malam ini di Rabu Galau. Delia itu melempar sling bagnya dan berdiri menghadap sahabatnya itu dengan nafas tersengal-sengal. Ubit dan Sea bingung dengan kedatangan Delia yang tiba-tiba. Sampai akhirnya Delia menangis sambil memeluk Sea.

"Are you okay, Del?" tanya Ubit.

Delia pun melepaskan pelukannya. Dia memegang kedua bahu Sea. "Lo mau dimutasi ke Semarang dan lo enggak bilang sama kita?"

Sea menunduk karena sudah merasa terpojok. Seharusnya bukan dengan cara ini mereka tahu. "Yang dibilang Delia itu bener? Lo mau di mutasi ke Semarang?" kali ini Ubit mengeluarkan suaranya.

"Bukan aku mau nyembunyiin ini dari kalian tapi aku belum nemu waktu yang tepat untuk jelasin semuanya. Mister Widodo minta aku yang isi acara di MX Semarang dan aku terima karena aku ingin dekat sama keluarga disana." Jawab Sea tenang.

"Bukan karena menghindar dari si Bram?" selidik Ubit.

"Itu jadi perhitungan ke sekian, mas. Alasanku menerima tawaran itu karena aku bisa ketemu keluarga. Itu saja."

"Kapan mau pergi?" tanya Delia sesegukan. Dengan sayang, Sea memeluk Delia sambil menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu.

"Kemungkinan pertengahan bulan ini."

"Kalau lo pergi gue sama siapa belanjanya? Hiks..hiks"

"Kan ada mas Ubit, Del."

"Masa iya gue beli daleman sama mas Ubit?" rengek Delia. Seketika mereka bertiga tertawa lepas. Tepat di hari Sabtu tanggal tujuh belas September, Sea mulai pindah ke Semarang. Dia sudah berpamitan ke semua pendengar Happy Night. Sejak itu facebooknya ramai dan telepon yang tidak berhenti menanyakan kebenaran kabar tersebut. Sedikit tidak rela sebenarnya saat ada seorang pendengar sampai menelepon ke nomer pribadi Sea sambil memohon agar Sea tidak pergi. Namun Sea memastikan kalau pendengarnya masih terus bisa berkomunikasi dengannya.

Kabar itu sampai ke telinga Julian. Lelaki berwajah oriental itu meminta Sea untuk bertemu di Starbucks dekat MX Radio. Sedikit enggan memang Sea untuk menemui Julian lagi. Terakhir kali bertemu saja, Sea yang pergi meninggalkan Julian sendiri di kafe tapi Julian bersumpah pertemuannya kali ini tidak untuk membahas mantan tunangannya lagi. Dia hanya ingin tahu dari Sea mengenai kabar kepindahannya itu. Jam yang terpasang rapi di tangan kanannya menunjukan pukul 14:15 dan itu artinya Sea sudah terlambat 15 menit dari jadwal yang sudah ditetapkan. Baru akan menghubungi Sea via telepon, sosok Sea sudah muncul di parkiran. Dia berjalan lunglai masuk ke dalam kafe. Julian memberikan isyarat dengan mengacungkan tangannya dan segeralah Sea menghampiri Julian.

"Hey bagaimana kabarmu hari ini?" tanya Julian sesaat Sea menempelkan bokongnya di sofa.

"Kabarku baik. Ada apa minta aku untuk ketemu disini?"

"Pesan saja dulu apa yang kamu mau baru aku akan menjawab pertanyaanmu itu"

Sea menghembuskan nafasnya dengan kasar. Baiklah tidak ada salahnya untuk memesan minuman dingin untuk menemaninya mengobrol dengan Julian. "Aku sudah pesan minuman. Sekarang apa yang kamu mau?" tanya Sea.

"Kamu mau pindah ke Semarang?" tanya Julian. Sebagai jawaban, Sea hanya mengangguk. "Kenapa tiba-tiba perginya?" tanyanya lagi.

"Sebenernya ini enggak tiba-tiba kok. Rencana ini sudah ada dari awal tahun kemarin dan kebetulan baru terealisasi sekarang." jawab Sea enteng. Tidak lama pesanan Sea datang. Dia langsung menyeruput Latte Green Tea pesanannya. Otaknya sedikit plong sekarang. Entah kenapa sejak tadi Julian melihat terus ke arahnya seakan ada pertanyaan di benak pria itu.

"Apa kepergianmu karena ada sangkut pautnya dengan Bram?" Sea langsung meletakkan kembali minumannya di meja. "Aku tahu apa yang sedang terjadi antara kamu dan juga Bram. Kalian saling mencintai bukan?"

Tanpa diduga, Sea tertawa kencang dan membuat sebagian pengunjung menoleh kea rah mereka.

"Kamu enggak tau apa-apa tentang aku, Julian. Kamu cuma orang asing yang memaksa aku untuk menyelesaikan masalah percintaanmu. Hanya sebatas itu saja jadi kamu enggak ada kewajiban apalagi hak untuk mencampuri urusan pribadiku."

"Aku bersahabat dengan Bram sudah lama. Diantara kami enggak ada rahasia apa-apa. Saat dia menikah, saat dia bercerai dan sekarang mulai kembali pada Dewi enggak pernah sedikitpun dia menyembunyikannya. Termasuk perasaannya padamu."

Sea semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan mereka kali ini. Ini bahkan lebih buruk dari pertemuannya tempo hari. "Sebenarnya apa yang mau kamu bilang ke aku, Julian?" kali ini Sea sudah bisa berbasa basi lagi.

"Enggak ada. Tujuanku cuma pengen menahanmu supaya enggak jadi ke Semarang. Disini banyak yang membutuhkanmu."

"Termasuk kamu?"

"Ya termasuk aku."

Sea tertawa sumbang. "Enggak mungkin. Aku akan tetap pergi. Semua sudah aku persiapkan matang-matang." Sea melirik sedikit jam tangannya. "Aku harus pergi dan selamat tinggal."

Tak lupa Sea meninggalkan selembar uang lima puluh ribuan. Namun Julian berhasil mencekal tangannya. "Aku yang bayar."

Sea mengangguk paham. "Jangan selamat tinggal. Tapi sampai jumpa, Sea Cihuy." ujar Julian dengan senyum terbaiknya.

Sea melanjutkan langkahnya keluar dari Starbucks. Dia berjalan dengan terburu-buru. "Aku berdoa untukmu supaya kamu mendapatkan yang terbaik, Sea karena aku tahu kamu orang baik. Sampai jumpa lagi." gumam Julian setelah kepergian Sea.

On Air ( Secret Admirer )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang