6. Datanglah Penganggu

460 37 25

Setahun berlalu terlalu cepat dengan sebuah rahasia yang Naia buat bersama adiknya sendiri, Aslan. Sampai detik ini semua masih berjalan seperti biasa. Belum ada yang curiga pada mereka berdua. Dan Naia harap tidak akan ada yang tahu.

"Aku tidak percaya apa yang kulihat sekarang ini?" Allin geleng-geleng sambil melihat cowok tampan yang menjadi pusat perhatian di semester lima mereka.

"Hari-hari kita akan menyenangkan," ujar Krusni berbunga-bunga.

"Aku ingin tahu terbuat dari apa isi kepalanya," tambah Dane.

"Kalian berlebihan sekali." Naia menanggapi seadanya. Entah dia harus bahagia atau sedih karena adiknya juga sekarang merangkap menjadi kekasihnya ... orang yang disukainya maksudnya begitu pintar. Pintar dalam hal apapun termasuk berciuman. Naia payah dalam hal itu dan tentu saja Aslan sudah berpengalaman. Haruskah dia mengatakan jumlah mantannya? Semua jarinya tidak akan cukup untuk menghitungnya.

"Aslan!" panggil Allin bersemangat

"Baru kemarin kamu masuk kuliah tahu-tahu sekarang semester lima. Kenapa terburu-buru?" tanya Allin.

"Tidak juga," jawab Aslan sambil duduk di sebelah Naia.

"Aku dengar kamu jadi kesayangan para dosen wanita lho ... menggemaskan sekali," lanjut Krusni sambil senyam-senyum.

Naia tidak ikut memeriahkan pembicaraan mereka karena dia masih mengerjakan tugas. Dia masih punya tanggungan dua lembar ketikan lagi. Lagipula Naia sudah memutuskan untuk bersikap sewajar mungkin jika berada di kampus. Meski sulit karena lagi-lagi Aslan memilih jalur acselerasi agar bisa satu tingkat dengannya dan agar satu kelas dengannya.

Sampai sekarang Naia tidak tahu apa yang dilakukan Aslan hingga menjadi sangat pintar seperti ini. Kemarin juga dia mendengar kabar bahwa Aslan mendapat tawaran kerja di sebuah hotel bintang 5 sebagai IT controlnya. Apa dia akan menerimanya, Naia pun belum sempat menanyakannya. Ayah dan Ibu pasti akan sangat bangga padanya. Aku malu kalau kalah dengan adikku sendiri. Namun apa yang bisa aku perbuat sementara aku menjalin hubungan terlarang dengannya selama satu tahun ini.

"Minggu nanti kita akan ada acara ke pantai dengan anak-anak. Ikut kan?" tanya Allin.

"Kalau Kakak ikut aku juga ikut," jawab Aslan.

"Kau harus ikut Naia!" desak Dena dan Krusni mendesak Naia.

"Kalian ini ... iya-iya aku ikut." Naia tidak bisa menolaknya karena dia bisa merasakan hawa ancaman dari cewek seisi kelas. Kenapa sih dia harus bilang kalau akan ikut jika aku ikut. Menyusahkanku saja.

"Aslan! Ada yang nyari!" panggil ketua kelas dari arah pintu kelas.

"Ah iya." Aslan segera bangkit.

"Apa cewek yang mencarinya?" semua mata penasaran memandang keluar.

Naia ikut-ikutan memandang keluar kelas. Tidak usah kaget jika yang mencarinya adalah seorang gadis. Namun mereka semua terkejut karena yang mencarinya adalah seorang pria. Ini baru langka. Apa pria itu naksir adiknya? Abnormal.

"Apa kita saling kenal?" tanya Aslan terang-terangan

"Maaf kita belum saling kenal." Cowok berkacamata itu tersenyum. "Namaku Rion. Aku semester 5 juga. Aku kemari karena aku ingin minta izin darimu. Kamu adik Naia kan?" ujar Rion.

"Benar." Aslan merasa tidak suka dengan cowok berkacamata ini

"Aku tahu kamu ini sister complex. Kalau kamu terus menempel pada kakakmu kasihan tidak ada yang berani mendekati kakakmu. Banyak yang mengidolakan Naia, tapi karena ada kamu maka banyak yang mundur."

AslanBaca cerita ini secara GRATIS!