Bab 26

28.9K 2.6K 39

Sudah dua hari Satria tetap setia menemani Indira. Duduk disebelahnya sambil menggenggam erat jemarinya. Berharap Indira segera membuka matanya. Berulang kali Abdi meyakinkannya jika keadaanya stabil, semua organnya berfungsi secara baik dan hanya menunggu hingga Indira sadarkan diri. Namun tetap saja, selama Indira belum membuka matanya Satria masih merasa takut.

Dering ponselnya berbunyi Satria langsung mengangkat telepon dari Ibunya. "Hallo Ma... Alan kenapa?... nangis... Iya nanti Satria sempetin pulang... Hmm. Makasih ya Ma.."

Satria menghela napas panjang. Alan tidak tahu jika Mommynya di rumah sakit. Ia pasti mencari Indira apalagi ini sudah dua hari. Orang tuanya pasti sibuk mencari alasan, untuk meredam tangisan Alan. Dan yang paling ampuh adalah mengajak Alan bermain.

Dering ponsel lainnya berbunyi. Dan kali ini berasal dari dalam laci nakas. Satria membuka laci dan melihat tas tangan yang dipakai Indira terakhir kali sebelum berakhir di ranjang rumah sakit. Satria mengambil ponsel dari dalam tas. Dan nama Panji tertampil disana, Satria hanya menatap lama tak berniat menjawabnya karena ada hal lain yang membuat tubuhnya terpaku. Fotonya masih tertampil disana. Foto yang dulu dikirimkannya pada Indira untuk mengganti foto mesranya dengan Panji.

Indira masih menyimpannya. Indira masih mengingatnya. Cairan bening terasa meluncur dari sudut matanya. Satria menunduk dan mengecupi tangan Indira. "Bangun Indira..." lirihnya.

Suara deritan pintu terbuka membuat Satria menghapus cepat air matanya. Pandangannya merendah saat melihat Abdi yang berdiri diambang pintu dengan seorang perawat yang mengikutinya. Ia memang sudah mengetahui kejadian sebenarnya, Indira yang memundurkan langkahnya hingga tergelincir. Namun tak ada siapapun disana, dan kenapa mereka harus berada disana? Satria tidak mau menduga-duga, cukup Indira terbangun dari tidurnya sudah membuatnya sangat bahagia.

"Aku akan periksa keadaannya dulu," ucap Abdi yang mulai mengarahkan senter kecilnya ke mata Indira.

"Seperti yang kukatakan sebelumnya keadaannya masih stabil. Kamu makan lah dulu. Biar perawat yang menjaga Indira disini."

Satria menjawab dengan senyum tipis. "Nanti. Aku ingin menemani Indira dulu."

Abdi menghela napas panjang. "Kamu juga harus tetap sehat Satria."

Selesai melakukan pemeriksaan Abdi keluar. Penampakan itu tidak hanya milik Satria tetapi juga Adiknya. Yang menolak untuk makan.


***

Satria duduk menatap layar monitor yang ditunjukkan oleh Abdi. Ia menjelaskan sekali lagi tentang kondisi Indira, karena Satria terus mendesaknya sebab Indira tidak bangun-bangun juga.

"Kita hanya perlu bersabar Satria," ucap Abdi penuh ketenangan.

"Aku tidak bisa bersabar selama dia belum membuka matanya," ucap Satria frustrasi.

Sebuah ketukan mengalihkan perhatian mereka berdua. Seorang perawat yang tampak tersenggal masuk ke ruangan Abdi.

"Pasien sudah sadar Dok."

Kontan Satria berdiri hingga kursi bergeser jauh dan berlari menuju kamar rawat Indira. Napasnya menderu dengan harapan tinggi, ia membuka pintu dengan kasar.

Satria berusaha mengontrol napasnya. Dan tersenyum senang melihat akhirnya mata itu terbuka. Indira menoleh ke arahnya. "Indira..." ucap Satria meraih jemari Indira.

Namun sontak terkejut karena Indira menarik tangannya. Indira mengerutkan keningnya.

"Kamu marah sama aku? Nggak apa, yang penting kamu udah sadar," ucap Satria yang semakin membuat kening Indira berkerut.

Revenge Baca cerita ini secara GRATIS!