Tuanku Suamiku - Part 1

Mulai dari awal
                                    

"Shinta, apa kita akan jarang bertemu nanti?" Terdengar suara Ariani dengan embusan napasnya yang tidak teratur, Ariani sedang gelisah, dirinya sudah tahu akan ditempatkan di rumah yang berbeda dengan Shinta, dirinya hanya takut akan mempermalukan Shinta di hadapan keluarga Govano, setidaknya Ariani baru pertama kali bekerja menjadi pembantu.

Shinta menoleh menatap Ariani yang terlihat gugup, tangan Shinta sedikit bergerak untuk berpegangan kepada bangku angkot yang ia duduki, takut terjatuh.

"Sepertinya iya. Tapi kamu tenang saja, aku pasti jenguk kamu kok sekali-kali, toh Tuan Aldrian juga kan sekali-kali ke rumah Nyonya, membawa Den Alvian jadi kita bisa ketemu," ujar Shinta.

"Tuanku namanya Aldrian ya?" tanya Ariani seketika, saat telinganya mendengar nama Aldrian.

Shinta mengangguk sebagai jawaban. "Aku akan menceritakan tentang Tuan Aldrian sedikit ke kamu. Ya, hitung-hitung sambil nunggu nyampe," lanjut Shinta bersemangat. Ariani mulai membuka kedua telinganya lebar-lebar supaya tidak ada satu kata pun yang tidak ia dengar.

"Sosok Tuan Aldrian itu seperti malaikat, dia baik hati, ramah, dan cinta mati sama istrinya yang sangat cantik seperti Barbie." Shinta membuat raut wajah imut seperti barbie. Shinta berharap menunjukkan ekspresi seperti itu untuk bisa semirip mungkin, tapi bukannya mirip malah membuat wajah Shinta aneh seperti Alien, membuat gadis cantik yang mendengarkan cerita di sebelahnya meledakkan tawa, tidak lupa orang yang berada di dalam angkot itu pun berbisik-bisik melihat tingkah Shinta.

Shinta hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali. Dan mulai kembali untuk melanjutkan ceritanya dengan suara pelan yang hanya bisa didengar oleh Ariani.

"Tapi saat istrinya meninggal 4 tahun lalu, saat melahirkan anak pertamanya Tuan Aldrian berubah, bukan seperti malaikat lagi, tapi seperti iblis-"

"Iblis? Maksudmu dia berubah menjadi menyeramkan dengan kepala bertanduk dengan seluruh kulitnya berwarna merah," potong Ariani, membuat Shinta sedikit sebal. Ayolah, bahkan dia belum menyelesaikan ceritanya, dan apa-apaan, wajah menyeramkan bertanduk? Memangnya Tuan Aldrian seekor kambing.

"Iss masa ada orang bertanduk Anni, makannya dengerin dulu jangan langsung potong!" omel Shinta membuat Ariani tersenyum dan meminta maaf.

"Maksudku berubah sifatnya menjadi iblis, menjadi sangat kejam dan pemarah, bahkan sangking tak relanya ditinggal sama istrinya, Tuan malah membenci anaknya yang menurutnya sudah membunuh istrinya. Ta-"

"Apa-apaan dia malah seenaknya membuat kesimpulan seperti itu. Laki-laki yang menjadi Ayah semuanya berengsek," ucap Ariani dengan kesal membuat sahabat yang berada di sebelahnya mendengus sebal karena Ariani memotong perkataannya lagi.

"Iss kau ini kebiasaan banget, aku kan belum selesai bicara," gerutu Shinta.

"Hehe maaf ya, tadi aku refleks," cengir Ariani. Membuat Shinta semakin kesal, tetapi tetap melanjutkan ceritanya.

"Tapi saat usia Den Alvian menginjak satu tahun, Den Alvian kecelakaan dan membuat dirinya koma, lalu dari situlah Tuan Aldrian berubah menjadi sangat mencintai Den Alvian, dan the end," ucap Shinta dengan aksen inggrisnya yang begitu jelek. Membuat semua orang yang berada di angkot itu menertawakannya.

***

"Ih aku tidak mau naik angkot itu lagi." Shinta masih tetap dengan gerutuan tak bermutunya, walaupun mereka sudah turun dari angkot sedari tadi.

"Sudahlah, kamu juga sih sok inggris banget," timpal Ariani masih menertawakan Shinta.

"Iss Anni, bukannya bantuin temen, malah ngetawain," gerutu Shinta.

Ariani tersenyum saat mendengar gerutuan sahabatnya. "Ngomong-ngomong kok kamu tau banget sih tentang Tuan Aldrian?" tanya Ariani sedikit penasaran.

"Aku tau dari pembantu senior yang sudah bekerja selama 30 tahun di rumah Tuan Govano."

"Wah lama sekali, apakah beliau masih bekerja di sana?"

"Masih, cuman jam segini pasti Mbok Nem sudah pulang, karena beliau hanya bekerja dari pagi sampai sore hari."

Ariani mengangguk mengerti dengan penjelasan Shinta.

"Shinta!!" Teriak seseorang dari seberang jalan dan melambaikan tangannya saat mata kedua gadis itu melihatnya.

"Oh itu Nyonya, ayo Anni kita ke situ." Menarik tangan Ariani dan menyeretnya menyeberangi jalan yang lumayan ramai.

"Assalamu'alaikum, Nyonya," ucap Shinta sambil membungkukkan tubuhnya dan diikuti Ariani.

"Wa'alaikum salam, ini Shin pembantu buat Aldrian?" tanya Nyonya itu angkuh dan menatap Ariani dari bawah sampai atas. Ariani hanya bisa menunduk walau sedikit risih dengan tatapan Nyonya kaya di depannya.

"Kau lumayan cantik juga untuk ukuran seorang pembantu." Melirik Ariani dingin, lalu beralih menatap Shinta, "Dan kau. Kenapa kau lama sekali, saya nungguin setengah jam lebih, kau tau!" Memarahi Shinta dengan mata tajamnya yang bisa membekukan kedua gadis itu.

Asal kalian tahu Nyonya besar Guvano ini mempunyai sifat dingin terhadap kaum rendahan apalagi pembantu seperti mereka, tetapi tidak dengan suaminya yang sangat rendah hati.

"Maafkan saya Nyonya, tadi di jalan sangat macet jadi terlambat. Dan ini namanya Ariani Nyonya, pembantu untuk Tuan Aldrian," ucap Shinta memperkenalkan.

"Yasudah, sekarang kalian masuk, kita pulang," ucap Nyonya itu, membuka pintu mobil lalu mendudukkan pantatnya di jok kemudi dan mulai melajukan mobil.

Di dalam mobil begitu sunyi hampir seperti sebuah kuburan di malam hari, bahkan kedua gadis yang berada di jok belakang tidak berani bersuara, untuk mengembuskan napas pun mereka sama sekali tidak berani.

"Kau tau kan anak saya itu duda, dan mempunyai satu anak laki-laki." Akhirnya Nyonya itu bersuara.

"Saya tau, Nyonya," ucap Ariani pelan.

"Dan ingat kau harus menjaga Alvian, dan memberikan perlengkapan yang ia butuhkan dan memasakkan makanan enak untuk Alvian dan Aldrian."

"Iya, Nyonya."

"Dan asal kau tau, anak saya sangat tampan, jangan sampai kau terpesona oleh ketampanannya hingga membuat hatimu jatuh cinta," ucap Nyonya Guvano dingin.

Membuat kedua gadis itu tersentak apalagi gadis cantik di sebelah Shinta yang terlihat begitu terkejut dengan kata-kata yang Nyonya itu lontarkan.

"Saya tidak akan jatuh cinta kepada majikan saya sendiri, Nyonya," ucap Ariani dengan suara yang nyaris tersangkut di tenggorokan.

"Bagus, pertahankan janjimu." Nyonya Guvano mengakhiri kalimatnya dengan sedikit senyum meremehkan di sudut bibirnya.

Karena si kaya dan si miskin tidak akan pernah bisa menjadi satu.

TBC

     

Tuanku SuamikuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang