Bab 24

27.5K 2.5K 42

Entah mengapa ia merasa benar-benar tak pantas menempatkan kembali Satria disisinya. Perasaan rendah diri kian menggerogotinya dari hari ke hari. Bahkan jika ia menangis akan lebih baik jika itu karena ucapan kasar Satria. Satria seharusnya menghukumnya lebih dari ini, dan membuat rasa bersalahnya berkurang.

Indira bangkit dari ranjangnya, ia sampai tertidur karena kelelahan menangis. Hari telah pagi, sepintas ia menyapu sekeliling ruangan. Ia lupa semalam ia mengunci pintu kamar. Gawat. Dimana Satria tidur. Indira meringis sesak. Tak seharusnya ia melakukan itu, lalu buru-buru Indira membuka pintu kamarnya.

Setelahnya ia langsung menuju kamar mandi, ia tercenung lama di depan cermin, memegang ragu ke arah bibirnya. Ia menggeleng kuat kepalanya dan langsung memutar keran air. Ia mempercepat mandinya, agar ketika Satria sampai ke kamar ia sudah bersiap dan langsung ke kamar Alan.

Indira hanya membutuhkan lima belas menit di dalam kamar mandi. Dan ketika membuka pintu, Satria belum juga masuk ke kamar. Lalu langkahnya teralih ke kamar Alan. Disana ia terpaku. Menatap Satria dan Alan tidur saling berpelukan.

Ia menghela napas dalam. Pasti akan banyak pertanyaan yang dilontarkan Alan mengingat kondisi yang tak biasa itu, Indira kembali menutup pintu pelan dan turun menuju dapur.

Seperti biasa Bi Rum telah sibuk berberes disana. Indira langsung mendekat. Jika sudah begitu Bi Rum akan menyingkir dan mengerjakan tugas bersih-bersih yang lain. Ia membiarkan Indira yang memasak.

Indira mulai mengeluarkan bahan-bahan dari dalam kulkas. Waktu berlalu, masakan Indira hampir selesai. Dering bel menghentikan gerakan Indira, ia hampir lupa jika hari ini Adelia akan mengajak Satria dan Alan pergi. Setelah masakannya matang, Indira langsung mematikan api kompor dan melangkah ke arah suara. Terdengar Bi Rum bercakap dengan Adelia.

Dari balik dinding Indira bisa melihat interaksi itu. Satria tampak turun dari tangga, sudah terlihat segar dengan tampilan casual. "Mommy..." teriakan Alan membuat Indira mengerut dada, ia mendesah. Jika ia keluar sekarang maka ia harus berhadapan dengan Adelia dan Satria.

"Mommy..." pekik Alan sekali lagi, membuat Indira terpaksa keluar dari sarangnya. Ia menghindari tatapan Adelia dan Satria meskipun ia sadar jika Adelia memperhatikannya. Indira langsung melangkah cepat ke kamar Alan.

"Alan nggak boleh teriak-teriak gitu!" tegur Indira.

Alan langsung mengerucutkan bibirnya. "Alan cari Mommy di kamar nggak ada. Mau keluar Alan belum pake baju, malu Mommy..."

"Ya, terus kenapa nggak dipake bajunya."

"Daddy bilang hari ini mau ajak Alan ke kebun binatang, sama Tante Adel juga. Biasanya kan Mommy yang pilihin baju Alan kalau mau pergi keluar."

Indira kembali mendesah lalu mengelus kepala Alan. Ia membuka rak lemari dan memilihkan baju untuk Alan.

"Kata Daddy Mommy nggak ikut. Kenapa?"

"Um..."

"Mommy takut sama Singa ya..." sahut Alan dengan kerlingan nakalnya.

Indira langsung tertawa tipis, sambil memakaikan baju Alan. "Iya. Mommy takut."

"Ah, Mommy payah..."

Indira hanya menanggapi dengan senyuman. Selesai memakaikan baju Indira menyisir rapi rambut Alan dan mengecup pipinya gemas. Tidak terasa Alan sudah sebesar ini, padahal rasanya baru kemarin ia berada dalam gendongan Indira.

"Alan hati-hati ya, disana ramai, jangan lepasin tangan Daddy. Liat-liat juga, jangan ke asyikkan."

Alan mengangguk. Indira menggandeng tangan Alan keluar. Mereka hampir bertumbukan dengan Satria yang rupanya juga ingin ke kamar Alan.

Revenge Baca cerita ini secara GRATIS!