Cold Heart

17 5 0
                                                  

Lagi-lagi aku datang terlalu pagi. Seperti biasa, aku melanjutkan membaca novel yang selalu kubawa. Duduk sendiri diantara bangku-bangku kosong membuatku merasa bahwa kelas ini adalah milikku sesaat. Sampai pada akhirnya, seseorang itu melewati ruang kelasku. Hampir setiap hari seperti itu. Ini memang terdengar biasa saja. Namun, yang membuatku heran adalah, dia selalu datang setelahku. Intinya selalu begitu. Dia datang tidak lama setelah aku datang.

Aku tidak memperdulikannya. Lagipula, aku juga tak mengenalnya. Kelasnya pun aku juga tidak tahu. Tapi, ada yang kutau tentang dirinya. Dia terkenal dingin. Itu yang sering dibicarakan oleh teman-temanku.

"Permisi." Suara berat itu menginterupsiku. Aku menoleh ke sumber suara dan seketika itu pula aku sedikit terkaget.

Mataku memandangnya menunggu dia berbicara kembali.

"Aku mau pinjem sapu." Mendengar itu, aku langsung menunjukkan letak sapu kelasku tanpa berbicara sedikitpun. Sementara dia dengan gayanya yang terkesan -masabodoh- berjalan menuju ke arahku. Tunggu! Harusnya dia berjalan ke belakang kelas dimana sapu-sapu kelasku digantung. Tapi kenapa dia malah berjalan ke arahku?

Dengan ekspresi yang kuusahakan biasa, aku menatapnya yang berjalan ke arahku. Namun, kemudian aku mengalihkan pandanganku kembali ke buku. Bersikap seolah aku tidak peduli. Aku sedikit melirik ke arahnya ketika mendapati bangku di sebrangku bergeser sedikit. Ternyata bangku tersebut kini diduduki oleh laki-laki itu. Kulihat dari ekor mataku, dia memposisikan tubuhnya menghadap ke arahku. Oh, ayolah! Aku mulai terganggu dengan kejadian ini. Rasanya aku seperti diintai secara terang-terangan.

"Sapunya di belakang. Bukan disitu." Ucapku ketus karena mulai tidak nyaman dengan dirinya. Pandanganku pun masih tertuju pada novel yang kupegang.

Kudengar, dia hanya terkekeh.Sementara aku langsung bangkit dari kursi. Ternyata seperti ini orang yang katanya super dingin? Menurutku dia tidak sedingin yang orang-orang bilang. Aku memandangnya yang juga sedang memandang ke arahku. Tapi, detik kemudian aku segera bangkit lalu melangkah pergi. Silakan bilang jika aku lebay. Tapi inilah aku, si pendiam yang tak suka diperhatikan.

"Hey!" Orang itu sepertinya memanggilku. Aku pun hanya berhenti di depan kelas tanpa menoleh ke arahnya.

"Kulihat kamu sering datang pagi. Setiap hari memilih tempat duduk yang sama. Kamu selalu membaca novel hingga bel masuk berbunyi. Kamu . . ."

Aku langsung memotongnya, "Kamu menguntitku?" Tanyaku dengan nada tajam.

"Menguntit?" Dia kembali terkekeh, "Awalnya aku tidak peduli denganmu. Seperti aku tidak peduli dengan orang lain yang suka membicarakanku. Bahkan aku bosan setiap pagi mendapatimu duduk di kelas sendiri sambil membaca novel. Tapi, kemudian, ada satu hari dimana apa yang aku rasakan berubah 180 derajat. Aku ti . . ."

"CUKUP!" Aku menghela nafas. Tidak kuat lagi mendengarkan ocehannya, aku kemudian berujar, "Sudahi saja omong kosongmu itu. Aku tidak ingin mendengarkannya lagi."

"Ada rasa yang menggangguku akhir-akhir ini." Itulah kalimat selanjutnya yang dia ucapkan.

"Simpan saja rasamu itu. Dan bijaklah dengan hatimu."

EndeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang